Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Persiapan


__ADS_3

...Iyaa maaf yaa, lagi lagi telat banget up-nya.... Bakal threeple up deh kalau bisa hari ini!...


Wardah dan Eza mengikuti gebyar sholawat hingga akhir. Di penghujung acara Wardah harus kembali ke hotel untuk bersiap tampil di hadapan Bapak Negara kita Pak Presiden. Eza tak akan pernah membiarkan Wardah hilang dari pantauannya. Jadilah laki-laki itu kembali mengikuti WArdah kembali. Melihat sekitar stadion yang juga ramai parah semakin membuat Eza posesif akut.


“Harusnya tadi aku bawa aja alat make-up sama peralatan ganti ke sini, biar nggak bolak-balik,” ujar Wardah disela perjalanan mereka menemukan jalan, membelah lautan manusia untuk menuju ke hotel.


“Kalau mau ganti di sana juga ribet nanti Ay, stand-nya terbatas. Solusi yang tepat ya ini. Untung hotel kita nggak jauh,” jawab Eza yang kini masih merangkul Wardah.


Eza memberikan jas-nya untuk dikenakan Wardah. Supaya tak kedinginan karena memang masih gerimis. Sampai di kamar ternyata Sakha sudah bangun dengan setelan comellnya. Kak Aisyah memakaikan baju koko mungil dipadukan dengan sarung lucu yang sempat Wardah belikan tempo hari.


Wardah segera mengganti bajunya yang sepadan dengan pakaian yang dikenakan Ning Vida untuk tampil nanti. Karena Wardah adalah personil baru, pakaian yang dikenakan Wardah menjadi tanggung jawab Ning Vida.

__ADS_1


Eza menggendong Sakha dan menggenggam jemari Wardah kembali menyusuri jalanan Kota Sidoarjo menuju stadion Glora Delta. Ribuan bahkan jutaan manusia sudah berkumpul menjadi satu di area umum ini. Membuat ketiga orang itu sedikit kesusahan untuk segera masuk ke dalam arena. Sakha tampak memeluk leher Ayahnya dan menenggelamkan wajah mungilnya di sana untuk mengurangi rasa takutnya pada kerumunan orang-orang yang teramat sangat banyak ini.


Sampai di dalam barulah sedikit lebih lega. Arena untuk tamu undangan memang yang paling baik. Tak perlu berdesakan. Wardah yang biasanya liputan dengan menggunakan seragam, kini ia jadi harus mengenakan dress syar’i yang juga digunakannya tampil nanti. Sakha sudah duduk manis melihat Ayah dan Bundanya liputan bersama Om Faiz yang sedari semalam belum pulang ke hotel.


“Kamu nggak ada rencana mau istirahat dulu Dek?” tanya Wardah pada Faiz setelah selesai liputan.


“Nggak deh Kak, ntar ketinggalan momen kalau pulang. Aku udah tidur sebentar kok tadi, kakak tenang aja,” jawab Faiz yang tetap kekeh tak mau istirahat dan tak mau Wardah khawatir dengan dirinya.


Hendak menolak lagi pun Faiz tak enak hati. Jadilah ia menurut. Bahkan sahabat kakaknya yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri itu sudah sangat perhatian dengannya. Faiz memberikan Sakha pada Eza kembali dan segera menggerakkan kakinya menuju kamar mandi umum yang letaknya tak terlalu jauh dari stand tempat timnya liputan.


Setelah berbincang ringan dengan tim yang ikut, beberapa saat kemudian sirine peringatan kedatangan orang penting No 1 di Negara ini. Wardah segera bersiap kembali ke posisinya memulai liputan kembali. Barulah setelah itu ia meminta izin kepada Eza untuk bergabung bersama Ning Vida dan para santri yang lain bersiap untuk tampil.

__ADS_1


"Semuanya harap tenang ya Mbak-Mbak santri.... Di sini kulo mau memberi tahukan kalau sebenarnya kulo tidak menjadi vokalis utama sendiri. Ada seseorang yang menemani saya. Tapi saya mohon untuk tetap kondusif saat kalian tahu siapa orang tersebut. Tolong jangan membuat kegaduhan apalagi histeris. Karena sosok ini pasti akan membuat kalian tersenyum bahagia. Bukan hanya Mbak santri, Kang-Kang santri juga tolong jaga image coolnya kalau-kalau ada yang ngefans sama seseorang ini," ujar Ning Vida panjang lebar sebelum Wardah masuk ke dalam ruangan yang dikhususkan untuk para santri.


Para santri yang ikut latihan semalam tentu sudah tak kaget dengan keberadaan Wardah sebagai salah satu Vokalis yang menemani Ning Vida. Tampak mereka saling berbisik penasaran dengan sosok yang dimaksud Ning Vida. Setelah Ning Vida mengaba-aba, barulah Wardah masuk dengan ditemani Ibunda Ning Vida dengan senyum merekah menyapa para santri. Santri lain yang belum tahu jika itu Wardah justru tak menyangka jika ikut andil.


Mereka tampak terperangah dan tak dapat mengontrol kekagumannya melihat sosok Wardah yang merupakan salah satu dari sekian banyak panutan santri. Sontak mereka berdiri dan menghampiri Wardah dengan tak sabarnya sembari memegang gawai masing-masing.


"Tenang! Tenang! Kan kulo sudah bilang tadi! Harus tetap kondusif!" tegas Ning Vida.


Yang ditegaskan pun langsung diam kembali mundur ketempatnya semula. Bayangkan saja, santri yang jumlahnya ada ratusan hendak mengerubungi Wardah. Belum lagi beberapa santri yang lain yang tak ditempatkan di aula yang sama.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2