Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Hari H


__ADS_3

Pagi hingga menjelang siang mereka perjalanan dari Yogyakarta ke Jombang. Istirahat sejenak kemudian berlangsung ke tempat pelaksanaan acara beberapa waktu yang akan datang. Percayalah, mereka sejujurnya capek. Tapi semua memang harus segera diselesaikan agar tak menyusahkan di dekat-dekat hari.


Pihak stasiun tv Eza juga sudah tiba di lokasi pagi tadi. Benar-benar tersusun dengan baik acara ini. Mereka benar-benar mempersiapkan dengan totalitas yang tinggi. Bahkan Wardah sebagai mempelai wanita tak ikut campur sama sekali. Ia hanya mengikuti intruksi. Diminta fitting baju ia turuti, diminta mencoba make up ia turuti.


Wardah sudah berkali-kali menghembuskan napas beratnya. Bosan, tentu saja. Ia sudah diajak Mama dan Mbak Winda memoles dekorasi yang kurang pas, kemudian mencoba gaun lamaran, hingga kini harus rela duduk manis menerima polesan make up.


Tapi kebosanan itu hilang disaat kembarnya Anisa menyusul ke lokasi. Wardah meninggalkan MUA itu menghampiri kembar. Menggendong kembar yang dibawa oleh Umi.


"Belum selesai Mbak Wardah," teriak Mbak-mbak perias.


Dan kini berakhirlah dengan Wardah yang dimake up sembari menggendong kembar. Ntah ini Si Abang atau Si Adek, Wardah pun belum paham pasti.


🌼🌼🌼


Pagi ini setelah lalaran Al-Quran, Wardah dengan Eza akan berjalan-jalan disekitar taman komplek. Biasanya saat pagi seperti ini para warga tengah olah raga. Tak hanya berdua, tampaknya krucil Inayah dengan Dinda ikut dengan mereka.


Inayah dengan semangatnya mengajak Dinda bermain beberapa permainan yang ada di pusat taman. Memang ada banyak mainan anak-anak di sana. Sedangkan Wardah dan Eza berlarian kecil mengelilingi taman. Sengaja Wardah tak menunggui Inayah, karena memang biasanya ini tempat bermain anak itu. Dan ada banyak penjagaan di sekitar tama, jadi tak perlu cemas.


"Ay, Mas pengen kuliah lagi deh," celetuk Eza.


"Kuliah apa lagi Mas? Kan udah S2," jawab Wardah.


"Pengen lanjut nyoba kuliah ekonomi," ujar Eza lagi.


"Ngulang S1 gitu?" tanya Wardah.


"Nggaklah Ay... Mas udah punya ijazah S1 ekonomi," jawab Eza.


Kini mereka sudah duduk di sebuah bangku. Melihat dua bocil yang masih asik bermain. Ternyata dulu Eza kuliah mengambil dua jurusan. Benar-benar kurang kerjaan orang itu. Dua jurusan di Universitas yang berbeda. Wardah tercengang dibuatnya. Setahu Wardah, Eza hanya lulusan S1 dan S2 Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam, ternyata memiliki gelas S.E.

__ADS_1


Wardah yang sebenarnya ingin berkuliah di luar Jombang saja harus terkuburkan. Karena diminta mengabdi di pesantren. Sedangkan calon suaminya sudah menjelajah 3 pendidikan tingkat tinggi.


"Daebak!" gumam Wardah tak melepaskan pandangannya pada Eza.


"Kalau Mas kuliah lagi boleh?" tanya Eza.


"Nanti dulu Mas, masak kita nikah, Mas sibuk kuliah," lirih Wardah menyandarkan kepalanya di pundak Eza.


"Hahaha, iya-iya... Kita fokus pernikahan dulu," jawab Eza.


Bukannya Wardah tak mengizinkan, tapi nanti Eza pasti bertemu dengan banyak perempuan. Ntah kenapa Wardah menjadi jealous. Tak rela rasanya Eza berteman dengan wanita lain. Padahal dalam dunia kerjanya juga mengenal banyak perempuan. Hahaha. Dasar Wardah. Selain itu, sebenarnya Wardah juga ingin kembali menuntut ilmu. Mungkin Wardah juga ingin ikut kuliah Eza. Wkwkwk.


Setelah dua bocil itu puas bermain, barulah mereka kembali ke rumah. Inayah sudah bergelayut di punggung Eza meminta digendong. Sedangkan Dinda berada di depannya. Wardah yang menawarkan untuk menggendong Dinda ditolak mentah-mentah oleh Eza. Jadilah mereka menjadi pusat tontonan selama perjalanan ke rumah.


...🌼🌼🌼...


Setelah menunggu, akhirnya hari bahagia itu datang juga. Sejak semalam keluarga Wardah dan keluarga Eza sudah bermalam di hotel ini. Wardah tampak tengah berlatih untuk penampilan kejutannya. Ya! Wardah memang belum bersiap, karena acara intinya masih selepas Zuhur.


Karena acara lamaran Wardah dan Eza memang berada di akhir. Acara pertama merupakan acara peresmian hotel Universitas Farhan yang dipimpin langsung olehnya dan sang Ayah. Kemudian dilanjutkan dengan acara aqiqahan yang melibatkan para santri Abah Kyai Munif. Kemudian barulah acara inti yakni acara lamaran Wardah dan Eza.


Bukan hanya kolega bisnis dan rekan-rekan yang bersangkutan, tapi Eza juga melibatkan pesantrennya. Tak mau kalah dengan Farhan yang mengundang santri Abah Munif, Eza juga mengundang santri beserta keluarga besar Abah Fadhoil.


Wardah tak sendiri, ia tengah bersama Eza di kamarnya. Tenang, mereka tak hanya berdua. Ada Mbak Winda dan istri Kak Yusuf yang menemani mereka. Para ibu muda itulah yang bertugas mengkritik penampilan Wardah dan Eza. Tunggu! Disini ada Bunda


Sehari full siaran stasiun tv Eza menayangkan acara secara live. Setelah peresmian hotel, barulah acara aqiqahan berlangsung. Eza sudah tak berada di kamar ini. Karena ia harus mengikuti acara sebelumnya juga.


Eza memimpin pembacaan sholawat kali ini. Sholawat pengiring pemotongan rambut si Kembar. Sedangkan Wardah, sudah mulai dirias saat Eza keluar dari kamar. Sengaja, supaya Eza pangling dengannya.


__ADS_1


Dinda sudah kegirangan melihat penampilannya. Rambut yang digerai dengan aksen bando di kepalanya menambah kesan keimutannya. Sebenarnya Inayah menggunakan gaun seperti itu pula. Karena pundak yang terekspos, ia tak mau. Jadilah Mbak Winda mengakali dengan menggunakan manset brokat agar tertutup.


Rambutnya mengikuti gaya Dinda, dengan aksen bando pita juga. Comel sekali dua anak ini. Tak henti-hentinya Dinda memamerkan baju berhiaskan bunga-bunga itu kepada Wardah yang masih dirias. Setelah satu jam dirias, akhirnya selesai juga. Sembari menunggu giliran keluar, istri Kak Yusuf mengambilkan sepiring nasi untuk sang adik. Maklum, sedari pagi Wardah memang belum sarapan.


Dengan telaten Kak Ina menyuapi Wardah. Padahal ia sudah menolak untuk disuapi, tapi masih ngeyel juga. Pasalnya di sini anak dua bocil. Malu juga rasanya, udah besar masih disuapi.


Baru setengah piring, bagian Wardah keluar dari persembunyian sudah terdengar. Mau tak mau, Wardah harus meninggalkan sesi sarapan yang lebih cocok disebut makan siang ini. Dengan perlahan Wardah turun dari tangga kehormatan ini. Kamera dimana-mana sudah menyala saling bersahutan.



Wajah anggun nan ayunya mampu menghipnotis seluruh manusia yang ada di aula ini. Sampai di tangga terakhir, Dinda dan Inayah menggandeng tangan aunty mereka menuju tempat yang sudah disiapkan. Diiringi para bridesmaids yang menggunakan dress code senada dengan Wardah.


Sudah ada Eza tepat di atas panggung yang jauh di depannya. Demi apa! Wardah harus berjalan melewati orang-orang itu. Dekorasi ini sepertinya lebih cocok digunakan untuk resepsi. Wardah heran sendiri, bisa-bisanya Caca dan yang lainnya memilih dekorasi seperti ini.



Eza terperangah melihat penampilan Wardah. Ia memang tak sempat melihat prepare hari-hari yang lalu. Bukannya tak sempat, tapi ia tak diperbolehkan untuk melihatnya. Eza dan Wardah mencoba make up dan gaun di tempat yang terpisah.


Tatapan kekaguman tak dapat ditutupi lagi dari para tamu undangan. Wardah yang suka make up sederhana, kini disulap dengan polesan yang sedikit mate membuatnya semakin mempesona. Senyuman Eza tak luntur sedari tadi. Matanya pun tak berkedip melihat Wardah.


...Bersambung...


...Maaf para pembaca yang budiman, Lhu-Lhu baru bisa up lagi. πŸ™πŸ™πŸ™...


...Lhu-Lhu masih disibukkan dengan tugas akhir.... ...


...Doakan Lhu-Lhu agar lekas lulus kemudian nyusul Wardah dan Mas Eza...


...πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚...

__ADS_1


__ADS_2