Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Lolos


__ADS_3

Wardah belum pernah sekalipun tidur di kamarnya setelah menikah. Kamarnya sudah direnovasi setelah menikah. Tapi sayangnya Wardah menikah di pesantren, jadinya tak sempat merasakan suasana kamar baru itu dulu.


Bukan hanya kamarnya, rumahnya ternyata juga sudah direnovasi sepenuhnya. Wardah tak henti-hentinya berdecak kagum. Maklumlah, dari dulu anak ini memang terbiasa dididik sederhana oleh Ayah dan Bundanya.


Baru kali inilah ia memasuki suasana baru kamarnya. Tidak dengan suaminya, melainkan sendiri. Bunda memang serba tahu mengenai selera anak-anaknya. Tatanan kamar yang sangat pas dengan keinginan Wardah. Tapi jujur saja, Wardah tak ingin kamar yang semegah ini sesungguhnya. Bukankah Bunda akan mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk renovasi ini?



Yayaya! Meskipun Bunda dan Kak Yusuf sudah mapan, tapi bukan berarti Wardah ingin semua nafsunya terpenuhi.


"Dek?" Panggil Bunda memasuki kamar anaknya.


"Mari Bun," Wardah merangkul tangan Bunda agar duduk di kasur empuknya.


"Bunda ngapain repot-repot buat kamar semegah ini?" Tanya Wardah lirih.


"Gak repot kok... Alhamdulillah rezeki Bunda dan Kakakmu lancar, jadi kami merenovasi rumah ini. Kan jadinya jomplang, kalau cuma kamar dedek aja yang direnovasi. Hahaha," Jawab Bunda.


"Rumah kita yang dulu, Bunda jual... Mubazir kalau tidak dimanfaatkan. Bunda masih belum tega untuk memanfaatkan rumah itu Dek," Lirih Bunda.


Wardah tahu betul bagaimana perasaan Bunda. Wardah sebenarnya masih tak rela jika kasus sang Ayah ditutup. Tapi, mau bagaimana lagi? Pelaku pembunuhan satu ditemukan telah bunuh diri, dan yang satu masih belum ditemukan kabarnya sama sekali.

__ADS_1


Wardah memeluk Bundanya dengan erat. Tak ingin sekalipun dirinya mengecewakan Bunda. Bunda sudah terlalu terpukul dengan kasus ayah beberapa tahun lalu.


"Bunda tidur sama dedek yaa?" Tanya Bunda.


"He'em, dedek juga kangen banget sama Bunda," Jawab Wardah.


"Bunda, perasaan Bunda udah berhenti manggil Wardah dengan sebutan dedek deh... Kok sekarang panggilnya dedek lagi sih?" Tanya Wardah.


"Iyaa, Bunda pengennya berhenti manggil kamu dedek. Tapi gak bisa, pengennya kamu jadi kecil aja terus," Jawab Bunda dengan menoel hidung pesek Wardah.


Wardah yang mendapat jawaban itupun mengerucutkan bibirnya. Ia sudah menikah, masak harus jadi anak kecil juga sih?


"Udah, sana bersih-bersih. Habis itu istirahat... Bunda tunggu," Ujar Bunda.


"Aku udah besar kok. Umurku juga udah 22 tahun. Iniku juga udah ngembang kok!" Gumamnya sambil memutar-mutar tubuhnya, dan berakhir pada gundukan kembar di dadanya.


"Hiiisshhh! Apaan sih Wardah! Yang manggil kamu dedek juga cuma Kak Yusuf, Bunda, dan Mbak Ani aja kok. tenang yaa..." Ujar Wardah menenangkan kekesalannya. Ia segera membersihkan diri dan mengganti baju tidur. Bunda pasti sudah menunggunya.


Benar saja. Ternyata Bunda sedang menonton tv sesekali melirik ke kamar mandi. Wardah segera berhambur kepelukan Bunda. Mendusel di ketiak Bunda memang hal yang sangat mengasyikkan. Tak peduli lagi dengan bau acemnya. Hehhee.


Tenang saja, ketiak Bunda wangi kok.

__ADS_1


Bunda mematikan tv dan memeluk anak gadisnya itu dengan penuh kasih sayang. Mengelus lembut rambut Wardah dan di balas pelukan lebih erat dari sang empu.


"Wardah, bagaimana keadaan Nak Ibil?" Tanya Bunda.


"Alhamdulillah baik Bunda..." Jawab Wardah tanpa mengalihkan wajahnya dari pelukan Bunda.


"Kalian baik-baik sajakan hubungannya?" Tanya Bunda lagi.


Deg! Rasanya jantung Wardah berpacu 2 kali lebih cepat. Pertanyaan ini yang selama ini ia takutkan.


"Baik dong Bun... Pertanyaannya aneh deh," Jawab Wardah dengan tawa garingnya.


"Dedek tahu, Bunda dan Ayah paling tidak suka jika anak Bunda berbohong," Lirih Bunda.


"Dedek ngantuk, capek, mau bubuk," Jawab Wardah yang melepaskan pelukan Bunda.


Cup!


Satu kecupan mendarat pada pipi kanan kiri Bunda. Ia menengadahkan tangannya untuk berdoa dan kembali menenggelamkan wajahnya pada dada Bunda, meminta untuk dipeluk lagi.


"Kamu lolos malam ini. Besok kamu harus jelasin sama Bunda," Ujar Bunda sembari memeluk anak manjanya itu.

__ADS_1


... Bersambung ...


__ADS_2