
Lokasi selanjutnya yang akan mereka tuju yaitu tengah laut. Laut yang tak jauh dari pulau penginapan mereka. Ya, mereka belum saatnya mendarat. Bapak pemilik perahu mengajak mereka ketempat snorkeling. Dasar laut yang tampak sangat cantik terlihat dari atas permukaan laut.
"Bu Arumi sama Fiona kalau mau ikut snorkeling silahkan," ujar Eza menawarkan.
"Boleh Pak?" tanya Fiona. Pasalnya, untuk menggunakan peralatannya mereka perlu menyewa kembali.
"Boleh, gratis!" sambung Wardah dengan senyumnya.
Dengan senang hati Fiona segera meminta kepada Bapak pemilik perahu untuk membantunya memasangkan peralatan snorkeling. Mumpung ada yang gratis, harus dimanfaatkan. Kapan lagi bisa menikmati peralatan gratis seperti ini?
"Ay, yuk nyelam!" ajak Eza.
"Nggak bisa berenang tahu!" protes Wardah. Tapi Eza dapat melihat jika istrinya itu ingin ikut menikmati keindahan bawah laut.
"Kan ada Mas... Juga ada pelampungnya kok,"jawab Eza.
"Takut, tapi pengen," lirih Wardah.
"Nggak bakalan Mas tinggal, Mas pegangin terus deh!" ujar Eza menenangkan.
Setelah melakukan negoisasi, akhirnya Wardah menyetujuinya. Eza membantu Wardah memakai perlengkapan snorkeling kemudian baru memakai miliknya. Eza turun ke air terlebih dahulu dan menyambut Wardah. Di belakang mereka, tampak Arumi menonton dua sejoli itu.
__ADS_1
Ntah apa yang dipikirkannya, ia hanya diam menonton.
"Asiin," ujar Wardah. Ini pertama kali bagi dirinya untuk menceburkan diri ke dalam air laut. Sebelumnya ia hanya dipinggiran. Eza terpingkal melihat ekspresi Wardah.
"Jangan dilepas Mas!" teriak Wardah saat Eza melepaskan dirinya.
"Ahahaha, padahal udah makek pelampung lho Ay," ujar Eza kembali memegang lengan Wardah.
Byyuurr!!!
Arumi melompat dengan percaya dirinya ke dalam air. Wardah sampai diam seketika melihat aksi itu. Hal itu sangat hebat menurutnya.
"Keren ya Mbak Arumi! Bisa berenang sendiri," celetuk Wardah yang henti-hentinya melihat Arumi menyelam.
Eza menjelaskan teknik-teknik berenang dan menyelam menggunakan alat bantu. Tentu saja dalam kawasan pantauannya sendiri. Setelah beberapa saat barulah Eza mengajak Wardah untuk benar-benar menyelam di dasar laut. Melepaskan pelampungnya digantikan dengan dirinya yang membimbing Wardah.
Wardah terkagum-kagum melihat pemandangan dasar laut yang ternyata berwarna-warni. Semakin cantik saat dilihat dari dekat. Ia juga melihat Fiona yang sudah asik memotret terumbu karang menggunakan kamera yang sudah dibalut plastik khusus agar tak kemasukan air. Matanya juga menangkap Arumi yang berenang dengan lincahnya tanpa menggunakan alat pengaman. Sudah seperti penyelam handal.
"Wih! Mbak Arumi bisa nggak pakai alat bantu pernapasan gitu Mas! Kayak kamu," ujar Wardah saat muncul di permukaan.
"Iyaa, Ay... Foto yuk!" ajak Eza.
__ADS_1
Berbagai gaya foto mereka ambil. Baik itu di dalam air, ataupun di atas permukaan. Barulah mereka kembali menikmati pemandangan dalam air. Tengah asik menikmati terumbu karang dengan penghuni laut, tiba-tiba seonggok binatang laut berwujud jelly hadir di sana. Eza segera mengajak Wardah kembali ke perahu. Bisa gatal-gatal jika tersengat ubur-ubur itu.
Tiba-tiba tak jauh dari tempat Wardah dan Eza, tampak Arumi melambaikan tangan seolah tenggelam.
"Mas! Tolongin Mbak Arumi!" teriak Wardah.
Bapak dan anak pemilik perahu juga sudah beraksi menggapai Arumi hendak menolongnya. Sontak Eza mengikuti mereka setelah Wardah mendorongnya ke dalam air untuk menolongnya pula.
Wardah dan Fiona cemas sendiri melihat mereka. Dengan cekatan Eza dibantu Bapak pemilik perahu membawa Arumi kembali ke perahu.
"Mbak Arumi? Apa udah enakan Mbak?" tanya Wardah setelah Arumi sedikit tenang. Sembari mengusap air yang ada di wajah dan rambutnya.
"Terima kasih ya Pak, dan Mas Eza," lirih Arumi, diambilnya handuk dari tangan Wardah dan mulai menyeka sendiri air di tubuhnya.
Wardah mengambilkan teh hangat untuknya. Beruntung dalam perahu ini disediakan alas tidur untuk pemilik perahu beristirahat. Wardah menghampiri Eza dan mengambil handuk yang dipegangnya. Diusapnya wajah dan rambut Eza agar sedikit kering.
"Ini kena ubur-ubur ya?" tanya Wardah melihat warna merah di lengan Eza.
"Kayaknya iya deh Ay, nggak papa kok tenang aja," jawab Eza.
Sontak Wardah mengambil poch khusus obat-obatan. Diambilnya salep dan dioleskannya pada lengan Eza yang memerah. Wardah tahu benar jika itu pasti gatal nantinya. Fiona yang melihat kemesraan dua orang idolanya spontan mengambil gawainya dan memotret keduanya. Lumayan untuk celengan postingan in*tagramnya. hahaha.
__ADS_1
...Bersambung...