Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Utara hati Inayah


__ADS_3

Assalamualaikum para pembaca setia Lhu-Lhu...


Harus dijawab yaa, jawabnya di kolom komentar. Awas aja kalau gak pada jawab salam Lhu-Lhu.


.


.


.


Siang ini Wardah sudah bersiap untuk bertemu dengan Anisa. Mereka berdua berencana untuk bertemu di pandora cafe. Rencana belajar mengemudikan mobil akhirnya ditunda oleh waktu yang belum ditentukan.


Kenapa? Ya karena.... Apa yaaa?


Kak Yusuf rencananya akan mengajari adiknya pada hari ahad pagi. Tapi sepertinya akan tertunda.


"Berangkat sama siapa dek?" Tanya Kak Ina.


"Di antar Mang Uya Kak, sekalian nanti mau jemput Inayah les," Jawab Wardah yang kini tengah mengenakan sepatunya.


"Oalah, ya udah hati-hati. Besok kalau mau beli perlengkapan keberangkatan sama kakak aja ya? Jangan ajak Anisa, suka nggak tega lihat anak itu bawa perut kayak itu, hahaha." Ujar Kak Ina.


"Kakak ini ngawur," Protes Wardah.

__ADS_1


"Bukan gitu, nanti kalau dia kecapaian kan jadi berabe sayang, kasihan juga kalau diminta bantuin kamu angkat-angkat barang," Jelas Kak Ina.


"Siap kakak. Ya udah, dedek berangkat dulu. Assalamualaikum," Pamit Wardah.


"Wa'alaikumussalam," Jawab Kak Ina.


.


.


.


Jalan perkotaan memang identik dengan keramaian. Beberapa kendaraan berlalu-lalang melewati jalanan kota Jombang. Disinilah Wardah saat ini. Di sebuah rumah yang berada di pusat kota. Menunggu Inayah yang tengah les.


Ia memutuskan untuk menjemput Inayah terlebih dahulu sebelum bertemu Anisa. Wardah menunggu bersama para pejalan kaki yang kebetulan tengah ramai.


"Hay sayang? Ayo kita ketemu dengan aunty Anisa sekarang!" Ajak Wardah yang kemudian mengambil alih tas gendong Inayah.


Ya! Tadi pagi Wardah memang sudah mengajak Inayah untuk ikut dengannya menemui Anisa. Tentu saja Inayah sangat excited.


"Inayah pengen belajar sama Kak Wardah lagi," Ujar Inayah ketika sudah di dalam mobil.


"Kenapa sayang? Bu gurunya baikkan?" Tanya Wardah.

__ADS_1


"Iyaa, tapi lebih seneng sama kakak," Jawab Inayah.


Ya sudah, nanti kita belajar bareng ya," Ujar Wardah mengalah.


Sebenarnya Wardah mau mengajar Inayah, tapi kak Ina tahu Wardah tak akan bisa di lain waktu. Ia harus membiasakan Inayah untuk belajar dengan orang lain dan temannya.


"Kakak perginya kapan? Jangan lama-lama ya... Cepet pulang, Inay gak mau belajar dengan bu guru," Lirih Inayah.


"Huush, gak boleh seperti itu... Inayah harus mau belajar dengan bu guru, bu gurunya baik kok... Nanti Inayah juga pasti akan senang. Kakak gak kemana-mana kok, kata siapa kakak mau pergi? ," Bujuk Wardah.


"Kata mama sama papa, kemarin papa bilang kalau Kakak nungguin keputusan Oma kalau mau pergi," Jawab Inayah.


Bisa-bisanya dua orang itu ngobrol di hadapan bocil. Bisa berabe btar. Bisa-bisa gantian Inayah yang nggak setuju kalau Wardah pergi ke Jakarta.


Setelah perjalanan singkat, akhirnya mereka berdua sampai di pandora cafe. Ternyata Anisa belum sampai juga. Tak apalah, Wardah akan memberi jatah makan siang untuk Inayah. Jika tidak, bisa di bunuh nantinya oleh kak Ina.


Karena ini juga pesannya untuk menyuapi Inayah.


.


.


.

__ADS_1


Teman-teman online lhu-lhu, mohon maaf jika upnya tidak banyak... Lhu-lhu masih sibuk... Mohon maaf sebesar-besarnya....


Bukan bermaksud untuk menggantungkan cerita ini. Tapi lhu-lhu memang sedang sibuk belajar dan magang.... Love you kalian....


__ADS_2