
Wardah mengajak Faiz berkeliling sebentar sembari menunggu bagian Wardah. Anggap saja kali ini Faiz study banding di kantor. Hahaha. Dijelaskannya satu persatu tugas setiap divisi yang Wardah pahami, untuk sisanya biarlah Eza yang menyelesaikan.
"Teh! Setengah jam lagi mulai, bang Shofyan minta briefing," panggil salah satu rekan kerja Wardah.
"Oke, saya ke sana sekarang," jawab Wardah tak lupa ia mengajak Faiz ikut serta pula.
Wardah segera bersiap di ruang ganti, sedangkan Faiz ia minta untuk menunggu di studio bersama rekan yang lain. Wardah sudah berpesan kepada rekannya untuk mengajari beberapa teknik dalam penyususnan dan penggunaan kamera. Tak membutuhkan waktu lama, karena Wardah hanya perlu merapikan make up dan penampilannya sedikit saja.
Dilihatnya Faiz tengah mengamati Pak Saipul yang tengah mengatur dan mengawasi penempatan bloking kamera. Wardah melambaikan tangannya kepada Faiz untuk menyapanya. Faiz menautkan jari telunjuk dengan ibu jarinya 👌menandakan jika dirinya Okey.
Wardah sudah bersiap di tempatnya untuk breafing mic dan alat-alat yang lainnya. Setelah semua aman untuk siaran langsung, barulah mereka menunggu untuk saatnya dimulai.
"Are you oke Faiz?" tanya Wardah.
"I'm oke! Tenang aja kak, Faiz menikmati semua ini. Banyak banget hal baru untuk aku di sini," jawab Faiz.
__ADS_1
Teleprompter? Jadi nama alat pembantu Kak Wardah membaca berita itu? Keren!
Faiz begitu penasaran dengan alat yang digunakan Wardah untuk membantunya membaca skrip berita. Keren! Dulu ia pernah mendapat tugas praktek menjadi presenter, dan ia bersama teman-temannya menggunakan kertas untuk menyusun tiap kalimatnya.
Faiz terus memperhatikan tiap kinerja orang-orang di studio ini. Selama break iklan Wardah mengajaknya ke ruang kontrol tempat master control berada. Pusat pengamatan selama siaran. Faiz semakin terpana melihat alat-alat yang tertata dengan rapinya. Di sana sudah ada para ahli yang memegang tiap bagiannya. Ada yang mengawasi, audio, frame, bloking, dan lain-lain.
"Tanyakan apa yang ingin kamu tahu, nggak usah sungkan," ujar Pak Indra yang memegang kendali atau bertanggung jawab mengenai seluruh elemen dalam penyiaran berita.
Wardah sudah kembali ke studio melanjutkan siarannya. Tinggallah Faiz yang sedikit canggung dengan para petugasnya. Dengan perlahan Faiz berbincang dengan orang-orang itu. Benar kata Pak Indra, ia tak akan mendapatkan wawasan baru jika tidak bertanya. Faiz yang awalnya sungkan, kini mulai terbiasa menanyakan apa saja yang menurutnya menarik dan perlu diketahui.
"Terima kasih Pak, udah ngasih pelajaran buat adik saya," ujar Wardah setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Kapan mulai training?" tanya Pak Indra.
"Biar Mas Eza yang memutuskan dimana Faiz ditempatkan," jawab Wardah.
__ADS_1
Pak Indra manggut-manggut mengerti. Selepas dari studio, Wardah mengajak Faiz ke ruangan divisinya. Tempatnya, di ruang divisi news. Wardah menunggu Eza selesai meeting terlebih dahulu sebelum menjelaskan bagian divisi news. Ia takut jika salah langkah nantinya. Biarlah Eza Yang menghandle.
"Ganteng banget adik kamu," celetuk Kak Nuy.
"Ganteng dong, orang kakaknya juga cantik,” jawab Wardah.
"Dasar, perasan," sambung Kak Nuy.
Wardah menjelaskan mengenai pekerjaannya kepada Faiz sembari menunggu Eza. Ia tak tega juga jika melihat Faiz celingukan memandangi tiap karyawan.
"Jadi, teks berita ini diedit, habis itu kita masukin suara untuk latar video penayangan lapangan lapangannya kak?" tanya Faiz.
"Yap! Begitu,mudahkan?" tanya Wardah.
"Suaranya Kakak bisa bagus, sama empuk gitu," ujar Faiz.
__ADS_1
"Kamukan udah pernah megang radio pesantren Iz, kurang lebih ya seperti itu. Tinggal polesan dikit," jawab Wardah.
...Bersambung ...