Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Lunch


__ADS_3

Sejak kemarin, Wardah sudah sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke Jakarta. Kak Ina dengan sabar mengikuti kemana pun Wardah ingin pergi. Kemarin, Wardah sudah pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencukupi barang-barang yang belum terpenuhi.


Hari ini saatnya menata di kopernya. Tak hanya satu, Wardah membawa dua koper besar dan kecil dengan satu tas ransel dan 1 tas selempang. Kenapa ia seperti akan pindahan?


"Barang sebanyak ini? Siapa yang mau jemput kamu?" Tanya Bunda yang baru saja masuk ke kamar Wardah.


"Hehehe, koper kecil ini untuk berkas-berkas pendukung kerja Bun, koper besar sama ransel ini untuk sandangan dedek. Udah...." Jawab Wardah.


"Siapa yang jemput kamu di sana?" Tanya Bunda lagi.


"Naik taxi bandara Bun, udah dikasih alamat sama Caca," Jawab Wardah.


"Kamu mau numpang Caca terus nantinya?" Tanya Bunda.


"Nggak Bundahara tercinta, dedek numpang cuma sampai dapet kos-kos an sendiri nantinya," Jawab Wardah.


Huufft! Napas berat Bunda tak dapat dibendung lagi. Rasa was-was kembali muncul. Anak tersayangnya akan berkelana ke kota orang.


"Bunda nggak usah cemas, dedek udah besar... Udah pernah menikah malah," Celetuk Wardah.


"Dedek... Ngomongnya lhooo! Di sana jaga diri baik-baik, sering-sering pulang kalau liburnya lumayan panjang," Jawab Bunda.

__ADS_1


Wardah mengangguk patuh. Bunda ikut membantu Wardah membereskan barang bawaannya. Satu persatu baju di setrika dan di masukkan dalam koper. Malah seperti hendak berangkat ke pesantren. Hahaha.


Setelah salat zuhur, barang bawaan Wardah sudah siap di packing. Sudah terjejer rapi di sudut ruangan.


"Ayo bantu Bunda masak!" Ajak Bunda.


Oke! Berhubung ini hari terakhir sebelum berangkat ke Jakarta, Wardah ingin Q-time menikmati suasana rumah. Sampai lupa belum memasak makanan untuk makan siang. Oke! Saatnya beraksi di dapur bersama Bunda. Mari kita buat menu spesial.




Dengan pelengkap cemilan mereka:!



"Wiiiiihhhh! Inayah pengen makan sekarang kak!" Celetuk Inayah yang baru saja kembali dari rumah tetangga. Biasa, main dengan temannya.


"Adek kan belum sholat, sholat dulu yuk! Kakak temenin," Ujar Wardah.


Inayah mengangguk patuh. Diajaknya Inayah ke kamarnya. Inayah sudah diajari mulai kecil, jadi sekarang sudah bisa sholat sendiri. Wardah hanya mengawasinya saja. Memberi tahu jika ada yang salah atau kurang.

__ADS_1


"Inayah belum hafal doa kabiro sama atahiyat Kak," Celetuk Inayah setelah selesai sholat.


"Belum hafal? Besok kakak udah mau berangkat sayang, minta ke mama biar diajarin ya? Oke!" Ingin hati belajar dengan Inayah, tapi sepertinya tak bisa.


"Oke!" Jawab Inayah.


Setelah melipat mukenanya, dengan girang Inayah menarik tangan Wardah.


"Pelan-pelan dek, ini tangga lhoo," Teriak Wardah was-was yang kini masih ditarik Inayah.


"Nggak usah teriak-teriak napa seh!" Ujar Kak Yusuf. Ternyata sudah ada di meja makan.


"Sewot!" Ketus Wardah.


Anisa duduk di samping Bunda. Inayah di sisi lainnya. Seperti biasa, ia melayani Bunda, kemudian menyuapi Inayah sekaligus dirinya sendiri.


"Besok berangkat jam berapa dek?" Tanya Kak Ina.


"Sekitar jam 10-an Kak, berarti jam 9 harus sudah di bandara," Jawab Wardah.


"Hati-hati dedek di sana. Kalau ada apa-apa langsung kabarin kakak," Ujar Kak Yusuf.

__ADS_1


"Siap Bos!"


...Bersambung.... ...


__ADS_2