
Anisa dan Caca terus menemani Wardah. Benar-benar membosankan selalu berada di kamar. Beberapa waktu yang lalu, Mereka baru saja sampai.
"Aunty!" teriak Dinda memasuki kamarnya. Tidak sendiri, ternyata bersama Inayah dan Kak Ina.
"Auh!" Dinda meloncat ke pangkuan Wardah.
"Aktif sekali ya kamu," celetuk Wardah.
"Eza baru sampai itu di lobi," ujar Kak Ina.
"Hallah! Percuma juga, Dedek nggak boleh lihat," jawab Wardah.
"Hahaha, sabar Dah... Tinggal besok akad nikahnya," ujar Anisa.
Dari sore hingga tengah malam Wardah berlatih vokal untuk pertunjukan esok pagi. Wardah dituntut untuk menyanyikan sebuah lagu saat akad nanti. Wardah yang notabennya penggemar sholawat, membuatnya tak terlalu paham dengan lagu-lagu modern.
Berhubung tamu undangan kali ini kebanyakan kolega bisnis dan teman-teman domisili Jakarta, akan lebih etis jika penyajian iramanya juga menyesuaikan. Tapi Wardah tetap meminta sajian sholawat sebagai pendampingnya.
Dengan telaten Caca dan Mbak Winda menemani Wardah menghafalkan dan mengolah vokal. Anisa? Ia sudah kembali ke kamarnya bersama Farhan untuk menidurkan si Kembar.
"Udah jam 11 ini, Mbak ngantuk," ujar Mbak Winda.
"Sebentar Mbak, tinggal bait terakhir bentar lagi hafal," cegah Wardah.
Mbak Winda kembali memainkan piano untuk mengiringi suara merdu Wardah. Tepat pada tengah malam barulah mereka menyelesaikan latihan. Wardah kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Lelah sekali rasanya. Ia memilih segera mencuci muka kemudian skincare-an. Mana mungkin Wardah mengabaikan wajahnya. Dua hari yang lalu Mama sudah bersenang hati mengajak Wardah treatment, masak iya ia harus mengabaikan hasil wajah yang mantabbb jiwa ini.
Hendak memejamkan mata rasanya sudah tak bisa. Wardah begitu gugup mengingat besok acara akad dilakukan. Bagaimana juga dengan perform lagunya? Ia takut jika nanti memegang mic tiba-tiba hilang sudah hafalan lagunya.
"Ya Allah, lancarkan acara untuk besok... Izinkan hambamu ini merasakan pernikahan yang sesungguhnya. Jangan engkau uji dengan hal yang sama lagi Ya Allah... Bismillahirahmanirahim, insyaallah keputusanku kali ini benar," batinnya.
Tak lama, tiba-tiba muncul Dinda bersama Mbak Winda. Tak ada kamus berjalan untuk anak itu. Ia berlari menaiki tempat tidur Wardah kemudian berhambur memeluknya.
"Untung kamu belum tidur Dek... Dinda nggak mau tidur sama Mbak, maunya sama kamu. Jangan begadang, kantung mata kamu mulai muncul itu..." ujar Mbak Winda.
Wardah hanya tersenyum menanggapi. Betapa perhatiannya Mbak iparnya itu. Wardah menyambut pelukan Dinda, mencium dengan sayang ubun-ubun bocah itu. Mbak Winda berjalan ke arah meja rias Wardah mengambil masker mata untuknya.
"Sini dikompres dulu," ujar Mbak Winda.
Wardah menurut dipasangkan masker di bawah mata tepat di kantung matanya.
"Dinda sama kamu ya?" tanya Mbak Winda.
"Iyaa, idiihhh! Seneng gitu ekspresinya. Mau buatin Dinda adek ya?" ledek Wardah.
"Iya, mumpung lagi di hotel megah gratis. Manfaatkan. Dindanya sama kamu. Ya udah Mbak ke kamar. Udah ditunggu Mas Rio," jawab Mbak Winda berlalu.
Dilihatnya Dinda ternyata sudah terlelap. Cepet bener tidurnya. Wardah membenarkan posisi tidurnya dan Dinda, kemudian ikut terlelap.
๐พ๐พ๐พ
Tidur Dinda terusik oleh alunan ayat suci Al-Quran yang dilantunkan oleh Wardah. Padahal Wardah sudah membaca dengan pelan-pelan. Ia bahkan membaca di balkon kamarnya.
"Auntyyy," rengeknya khas bangun tidur.
"Eehhh, sayangnya Aunty udah bangun... Kita baca doa dulu ya," ujar Wardah menghampiri Dinda.
Suasana kota Bandung memang menjadi candu untuk mereka para pendatang. Hehijauan masih terlihat dengan dengan cantiknya di seluruh penjuru. Wardah mengajak Dinda menikmati pemandangan balkon. Sembari mencari cahaya ilahi dari sang surya tentunya.
"Om Eja!" teriak Dinda melongok ke bawah.
"Om Eja!" teriaknya lagi.
Tapi yang dipanggil-panggil sepertinya tak mendengar. Wardah terus mengamati Eza dari atas. Senang rasanya melihat calon suaminya. Ntahlah, padahal hanya melihat dari jauh, tapi hatinya terasa bergemuruh senang sekali. Sudah lama sekali dirinya tak melihat sang pujaan hati.
Gemas mendengar Dinda berteriak tak ada respon, membuat Wardah ingin membantunya. Wardah mengambil napas dalam-dalam kemudian,
"Om Ejaaa!" ia berteriak bersama Dinda.
Sontak Eza celingak-celinguk mencari asal suara yang memanggilnya. Hingga kini tatapan mata Eza tepat melihat ke arah Wardah dan Dinda. Senang tak kepalang Eza menemukan calon istrinya ada di sana. Dinda dan Wardah melambaikan tangannya pada Eza.
"I miss youuuu!" teriak Eza.
Bertepatan dengan Mbak Winda yang datang menggiring Wardah dan anaknya masuk ke dalam.
"Sepertinya Mbak Kecolongan Kali Ini!" teriak Mbak Winda dari atas pada adiknya. Eza terkikik di bawah melihat kakaknya.
Acara akad nikah akan dilaksanakan setelah zuhur. Papa dan Pakde Wawan kini tengah mengecek persiapan yang ada di aula. Dan alhamdulillah sudah siap sedia.
Sedangkan Wardah kini tengah membersihkan dirinya sebelum dimake up. Betapa terkejutnya ia melihat darah di pakaian dalamnya. Oh tidak! Sepertinya dirinya saat ini datang bulan. Bagaimana ini? Wardah benar-benar lupa tak mengecek buku haidnya.
"Caca," lirih Wardah melongokkan kepalanya di pintu.
"Kenapa hey? Cepetan mandi, bentar lagi periasnya datang," jawabnya.
"Aku haid," lirih Wardah.
Sontak Caca tertawa terpingkal-pingkal. Ia langsung connect pada bosnya. Kasihan sekali nantinya belum bisa unboxing istrinya sendiri.
__ADS_1
"Cacaa! Aku nggak bawa pembalut," geram Wardah.
"Iya, iya, hahaha, aduuuhhh, perutku sakit, hahaha, bentar aku ambil dulu. Hahaha, kasihan bos gua," ujar Caca belum juga selesai dengan tertawanya.
Wardah terdiam di kamar mandi sementara. Ia kepikiran dengan ucapan Caca tadi. Bagaimana dengan Mas Eza nanti? Lamunan Wardah buyar saat Mama mengetuk pintu.
"Maa," lirih Wardah saat sudah keluar.
"Hahaha, udah nggak papa. Biarkan Eza puasa dulu. Adududuu, kasihan anak Mama satu itu. Tapi lucu," ujar Mama.
Semalam suntuk Wardah memantapkan diri, menenangkan gejolak kegugupan, dan sekarang malah diberi waktu haid. Bagaimana memberi tahu Calon suaminya nanti? Mama menangkan Wardah, toh haid hanya seminggu biasanya.
"Kok kesannya malah kamu yang kebelet malam pertama Dah?" celetuk Caca.
"Heh ngawur ya!" sanggah Wardah. Dibalas tawa oleh Mama, dan Caca.
Candaan mereka usai saat perias Wardah datang. Kini saatnya mempelai wanita dipermak sedemikian rupa oleh suhunya. Mama dan Caca pamit undur diri karena hendak dirias juga di ruangan yang lain. Kini gantian Kak Ina yang menemaninya bersama Inayah.
Inayah tampak excited melihat tantenya dirias. Anak-anak seperti Inayah dan Dinda memang sedang senang-senangnya melihat pengantin dirias. Inayah sudah cantik dirias, begitupun dengan Mamanya.
Jika saat pengajian atau lamaran Naya tak mau lepas jilbab, kali ini ia malah ingin menata rambutnya seperti princess. Comel sekali anak ini.
"Cantiknya ponakan Kakak," puji Wardah.
"Tante itu yang bentuk rambut Naya. Naya suka," jawabnya menunjuk asisten perias Wardah.
"Waah, hebat ya Tante Nindi,"
Naya tak bosan-bosannya melihat Wardah dimake up. Keceriwisannya membuat suasana kamar semakin berwarna. Dua jam sudah Wardah dipoles Mbak-mbak MUA. Sentuhan terakhir yaitu merapikan penampilannya.
"Kak Wardah cantik banget," ujar Naya.
"Hahaha, makasih sayang... Kamu juga," jawab Wardah.
๐พ๐พ
Disisi lain, Eza tampak tegang menunggu acara dimulai. Tangannya sudah berkeringat dingin. Sudah ada Kak Yusuf dihadapannya dengan saksi pernikahan Abah Kyai Munif dan Abah Kyai Fadhoil. Bukan hanya itu, Kakek dan Pakde Wardah yang baru beberapa hari kemarin ia mengakrabkan diri. Papanya kenapa berwajah serius kali ini? Eza semakin menciut dibuatnya.
Para tetua perusahaan dan tamu undangan dari para legendaris artis Indonesia juga memenuhi aula yang sudah disulap sedemikian rupa.
Wardah sudah siap dengan keadaan hati yang bergemuruh. Ia takut, gugup, jemari Caca tak dilepaskannya sama sekali. Anisa sepertinya sudah berada di aula bersama Farhan. Caca dan dua bocil itulah yang setia menemaninya.
"Itu! Itu! Om Eja!" teriak Dinda heboh melihat layar monitor yang menyorot aula.
Bahkan di kamar Wardah saat ini juga sudah stanby kameraman. Tak berselang lama, Bunda datang. Ia kembali menyaksikan sang putri mengenakan pakaian pengantin. Bunda memeluk sayang pada anaknya.
"Barokah seluruhnya ya Dek," lirih Bunda.
"Aammiiin," lirih Wardah.
Kini saatnya acara akad dimulai. Kak Yusuf meminta Abah Kyai Fadhoil untuk menjadi wali nikah Wardah. Seperti rencana sebelumnya. Eza semakin gugup melihat Abah Fadhoil dihadapannya.
"Bismillahirahmanirahim." Eza terus melafalkan basmalah dalam hatinya.
Abah Fadhoil mulai memimpin akad nikah Eza. Dijabatnya dan.
..."ููุจูููุชู ฺููฉูุงุญูููุง ูู ุชูุฒูููููุฌูููุง ุนูููู ุงููู ูููุฑู ุงููู ูุฐฺูฉูููุฑู ุญุงูุง"...
Balas Eza dengan lantangnya.
Wardah sudah meneteskan air mata harunya menonton acara ijab qobul yang dilakukan Eza. Mama langsung memeluk Mbak Winda di sampingnya.
"Yeee! Udah jadi istri kamu say," sorak Caca.
"Hahaha, iy-iyya," jawab Wardah dengan sesenggukan, tangisnya yang tak mau berhenti.
Hingga pihak WO memanggil mempelai wanita untuk bersiap ke ruang aula.
"Mari kita sambut mempelai wanita kita. Silahkan kepada Ibunda untuk menjemput," ujar pembawa acara.
"Dipersilahkan kepada Ananda Wardah Alisha Khumairah untuk memasuki aula,"
Caca membantu Wardah mengelap air matanya sembari berjalan ke arah aula. Pintu besar itu terbuka menampakkan Eza bersama para saksi. Ada Mama yang tersenyum, tapi juga menitikkan air matanya. Wardah diapit oleh Caca dan Bunda berjalan perlahan. Melewati para tamu undangan yang terkesima melihatnya.
"Senyum Wardah, jangan nangis... Ntar dikira ini kawin paksa," bisik Caca.
"Terharu ini Ca," jawab Wardah dengan tersenyum kaku.
Tampak Anisa bersama Farhan juga ada di sana. Tersenyum lembut kepada sahabatnya. Manik mata Wardah terhenti pada Eza. Laki-laki itu sudah menjadi suaminya sekarang.
Eza tak henti-hentinya tersenyum melihat Wardah. Balutan kebaya putih dengan siger sunda itu tampak cocok dikenakan olehnya.
"Assalamu'alaikum Suamiku," sapa Wardah.
__ADS_1
Sontak para pengunjung tertawa mendengarnya. Karena memang tertangkap mic suara Wardah tadi.
"Wa'alaikumussalam istriku," jawab Eza.
...Mblo, sabar Mblo!...
Wardah yang diminta untuk mencium tangan Eza tampak gemetar.
"Bismillahirahmanirahim," lirih Wardah kemudian mencium tangan Eza, yang sekarang menjadi suaminya.
Eza memegang ubun-ubun Wardah dan membacakan doa untuknya. Mencium dengan lembut keningnya. Hiruk-pikuk tepukan tangan terdengar sangat meriah dikala CEO ternama itu akhirnya melepas masa lajangnya.
Untuk pertama kalinya jemari mereka bertautan setelah Eza memasangkan cincin untuk Wardah. Eza terus saja merangkul pinggang Wardah sembari memamerkan cincin mereka di depan kamera.
"Sudah rangkulannya, nanti lagi. Ayo ditandatangani bukunya," sindir Pak penghulu.
Barulah mereka diminta untuk menandatangani buku nikah mereka masing-masing. Wardah sudah malu sendiri. Eza masih saja merangkul pinggang Wardah.
"Nanti lagi Za rangkulannya," ujar Papa gemas. Lagi-lagi tawaan menggelegar gara-gara Eza.
"Aiish Papa, macam nggak pernah muda aja," jawab Eza.
Pukulan melayang ke lengan Eza. Ulah siapa lagi kalau bukan Wardah.
"Maas, malu tau," lirih Wardah tapi masih terdengar oleh orang di sekitar mereka. Abah Kyai yang melihat santrinya pun tertawa.
Setelah menandatangani buku nikah, kini saatnya Wardah dan Eza yang berkeliling meminta doa kepada para tetua dan keluarga. Sungkeman lebih tepatnya. Barulah dilanjutkan dengan sesi foto-foto untuk keluarga dan tamu undangan.
"Selamaaaat sayaangkuu," ujar Anisa menghampiri Wardah dan Eza di pelaminan.
"Makasih zeyeng. Sini-sini, aku mau gendong kembar," jawab Wardah mengambil alih Abang dari gendongan Anisa.
"Awas kalau Wardah sampai dianggurin! Aku sate nanti kamu," ancam Anisa pada Eza.
"Hahaha, tenang Mbak... Aman terkendali itu," jawab Eza.
"Ayo foto! Caca mana Caca?" ajak Wardah sembari mencari Caca.
Oke! Tiga sahabat telah berkumpul. Sudah jepretan berapa ini mereka tak peduli. Yang penting mereka terus berpose ria. Mulai dari mereka bersama pasangan masing-masing, hingga kini mereka bertiga saja. Yakni Anisa, Wardah, dan Caca.
Hingga tibalah saatnya kini Wardah akan menyumbangkan suara merdunya. Wardah kini sudah berada di panggung musikal. Ia akan menyanyikan lagu "Untukmu Imamku",
...Terlintas tanya hati...
...Siapakah yang kan mengisi...
...Hari-hariku nan penuh cinta...
...Yang kan membawa ke syurga...
...Dia yang mencintaiku...
...Dan semua kekuranganku...
...Yang kan membimbingku di dunia...
...Menuju cinta yang kuasa...
...Reff:...
...Untukmu imamku...
...Kuserahkan segala cintaku...
...Cinta yang kan menuntunku...
...Menggapai cintanya bersama denganmu...
...Untukmu imamku...
...Kuberikan kesetiaanku...
...Berdua memadu janji satu...
...Sambut cintaku hanya untukmu...
...Bersambung...
Gileehhh! Keren! Tembus 2.000 kata!
Ayooo! Jangan lupa kondangan! Amplopnya juga jangan lupa. Letak kotak amplopnya ada di samping pintu masuk yaaa! Hahaha.
Setidaknya isi amplopnya itu like, komen, share, vote, bintangnya juga jangan lupa! Hahaha.
Terima kasih zeyeng-zeyengkuuuu.
__ADS_1
Salam dari Wardah nih!