Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Keputusan Sulit


__ADS_3

Eza dan Kak Winda mengobrol cukup lama ternyata. Wardah sampai sudah bosan menikmati buah-buahan yang ada di depannya ini. Ia tadi juga sudah membuatkan minuman dingin untuk suami dan kakak iparnya. Tapi ia kembali lagi ke dapur. Makanan ya ia beli tadi juga sudah tertata rapi di meja makan. Nanti tinggal menghangatkan di microwave saja saat akan disantap.


“Dek, kamu ngapain sih? Sini deh,” panggil Kak Winda.


“Iya kak? Kirain kalian butuh ngobrol berdua, makanya aku diam di dapur sambil nyemil buah,” jawab Wardah dengan polosnya.


Kak Winda tertawa mendengar jawaban Wardah. Padahal ia tak masalah meski berbincang ada Wardah sekalipun. Toh adik iparnya itu juga sudah tahu. Di samping itu, ia juga memerlukan saran Wardah juga tentunya.

__ADS_1


Kak Winda juga sempat memberitahu mereka bahwa saat liburan beberapa hari kemarin, sikap dari Kak Rio tak ada yang mencurigakan. Ia bersikap normal seperti biasa. Ia juga bersikap lebih hangat dibanding saat sebelum berlibur. Ia juga tampak tak fokus pada pekerjaan atau hal lain sebagai alasan mencurigakan. Akan tetapi, saat kembali ke Jakarta ia kembali bersikap dingin. Dan ia kembali pada fase pendiam, cuek, dan sering tak di rumah. Kak Rio yang menjalankan bisnis cabang Papa, membuatnya tak sekantor dengan Kak Winda ataupun Papa.


Eza sudah memberitahu kepada kakaknya mengenai pengintaiannya beberapa minggu ini. Kak Rio memang benar sering ke luar kota, bahkan menggantikan Papa dinas, tapi dibalik itu ternyata aksinya di mulai. Mengingat Kak Winda yang sudah mulai sibuk juga di kantor pusat, jadi ia tak pernah lagi mengikuti suaminya dinas. Dinda yang sudah SD juga membuatnya harus stay di rumah. Tak mungkin mengajak Dinda bepergian terus-menerus.


“Kalau kamu jadi kakak, apa yang akan kamu lakukan Dek?” tanya Kak Winda dengan menggenggam tangan Wardah.


“Jika aku di posisi kakak, mungkin aku juga akan kebingungan. Pertama yang aku cari pasti selalu Allah. Aku pasti akan menumpahkan seluruh isi hati pada Allahurabbi.” Jawab Wardah. Meski ia sendiri sudah yakin kakaknya itu pasti juga melakukan hal itu di kali pertama.

__ADS_1


Hal kedua itu yang membuat Kak Winda belum siap. Ia tak cukup berani untuk memberitahu Mama dan Papa. Ia juga memiliki Dinda. Bagaimana dengan Dinda nantinya? Ia benar-benar bingung. Tapi ia juga tak mungkin bertahan lebih lama lagi.


“Kakak harus bilang ke Mama dan Papa, untuk Dinda, aku sama Wardah yang akan cari cara terbaik untuk tidak menyakitinya,” jawab Eza.


“Kalau kakak sudah siap, aku bakalan bantu sampai semua tuntas dan sampai Dinda tetap ada di dalam keluarga kita,” sambung Eza.


“Terima kasih ya, kakak akan coba berbincang lebih dalam mengenai hal ini dengan Kak Rio. Semoga dia mau berubah,” lirih Kak Winda.

__ADS_1


Eza sempat kecewa saat kakaknya berencana mengurungkan niatnya untuk berpisah. kehendak hati ingin segera menemui pelaku itu dan langsung menghajarnya habis-habisan. Sakit sekali rasanya melihat salah satu perempuan kesayangannya disakiti. Kasus terbesar dalam hubungan yang tak akan pernah ia maafkan adalah penghianatan. Bagaimana mungkin hubungan pernikahan yang sangat sakral dinodai dengan kebohongan-kebohongan, bahkan penghianatan seperti ini. Tapi juga tak bisa bertindak di luar batasnya. Ia tetap harus menghormati keputusan kakaknya.


...Bersambung...


__ADS_2