Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Pendamping Acara


__ADS_3

...Sebelum membaca part ini, sebaiknya baca part 'Upload Revisi' sebelum ini terlebih dahulu yaa, Karena ada pembaruan cerita di bagian itu. 😍...


Wardah menggandeng lengan Eza menenangkan kegugupannya. Dielusnya punggung tangan Wardah untuk menenangkan. Anisa mengikuti Eza menyapa tiap tamunya.


"Salam kenal Nona Wardah, beruntunglah kamu mendapatkan suami seperti Eza. Laki-laki tampan, mapan, benar-benar sempurna," ujar Pak Sandi menyapa Wardah.


Wardah tersenyum menimpali Bapak itu, sembari menyambut salamnya. Dilihat sekilas, Bapak ini mirip dengan Ayahnya. Wardah terenyuh seketika.


"Coba saja Eza menerima anak gadis saya sebagai istrinya, pasti sekarang yang digandengnya adalah Liza," sambung istri Pak Sandi.


"Semoga anak ibu bisa mendapatkan suami yang lebih dari suami saya," jawab Wardah sopan.


Eza memeluk pinggang Wardah agar Sang Istri lebih mendekat dengannya.


"Bapak dan Ibu terlalu berlebihan perihal saya. Di sini saya malah merasa beruntung memiliki Istri saya," ujar Eza.


Pak Sandi menepuk pundak Eza. Merasa kagum dengan laki-laki di hadapannya. Sayang sekali tidak jadi menjadi menantunya. Sedangkan di sebelah Istri Pak Sandi seorang perempuan tengah gundah, hendak menunjukkan kemarahannya pun tak mungkin. Dialah Liza, anak dari dua suami istri di hadapan Wardah dan Eza.

__ADS_1


Wardah meminta izin untuk mengambil minum kepada Eza. Jadilah kini Wardah tengah duduk di salah satu kursi untuk menikmati inuman yang ia pilih.


"Kakak umurnya berapa sih?" tanya Liza yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.


"Mau tahu banget apa mau tahu aja?" tanya balik Wardah.


Tampak Liza mengerucutkan bibirnya sebal. Wardah terkikik melihatnya. Benar-benar masih bocah, melihat dari sikap perilakunya. Pakaiannya yang dipakainya tak sesuai dengan selera Wardah. Cukup terbuka. Wardah sering heran melihat perempuan yang memakai pakaian kurang bahan, apa tidak dingin?


"Umur Kakak 24," jawab Wardah.


"Padahal masih muda aku, tapi kenapa Kak Eza malah milih Kakak sih?" tanyanya.


"Huuftt, padahal aku cinta banget sama Kak Eza," sambung Liza.


Wardah tersenyum simpul,


"Kalau kamu mau laki-laki yang seperti Kak Eza, kamu harus memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Laki-laki yang seperti Kak Eza lebih suka perempuan yang tidak mengumbar auratnya." jelas Wardah.

__ADS_1


Liza mendengarkan dengan seksama.


"Tapi bukan berarti kamu bisa ngambil saya dari Kak Wardah yaa," ujar Eza yang tiba-tiba sudah datang.


Wardah tersenyum menyambut uluran tangan Eza. Liza menunduk malu melihat Eza ternyata mendengar obrolan-obrolannya dengan Wardah.


"Saya pinjam Kak Wardahnya dulu ya, kamu kalau mau belajar sama Kak Wardah bisa ke rumah kok Liza," ujar Eza.


"Beneran? Kak Wardah mau ngajarin aku buat berubah?" tanya Liza antusias.


Wardah mengangguk menimpali, "Kakak tunggu kunjungannya," jawab Wardah kemudian mengikuti Eza.


****


"Anak itu masih SMA tapi kok irang tuanya udah ngelamar kamu sih Mas?" tanya Wardah setelah jauh dari Liza.


"Dulu Mas ditawarin buat tunangan dulu Ay, setelah Liza lulus baru menikah. Tapi Mas udah kepincut sama kamu dari awal kita ketemu di pantai waktu itu," jawab Eza.

__ADS_1


Wardah dan Eza kini sudah bergabung kembali bersama Anisa dan yang lainnya. Sebentar lagi acara akan dimulai. Eza harus bersiap untuk memberikan sambutan nantinya. Wardah tentu saja kini berfokus kepada Si Kembar di sampingnya.


...Bersambung...


__ADS_2