
Karena banyak yang mengeluh karena kisah Wardah yang ada di judul sebelahnya.jadi Lhu-Lhu akan menuangkan disini. Terima kasih 🙏🙏
Dua hari yang lalu, tepatnya di rumah Kak Yusuf :
Anisa kini sudah berada di pekarangan rumah Wardah. Tapi, tampaknya di sana tengah ada acara atau sebuah kunjungan. Baru saja sebelum mobil Farhan, ada taxi yang datang.
"Itu Cak Ibil Mas!" Ujar Anisa ketika melihat sesosok lelaki turun dari mobil.
"Semoga pertanda baik ya sayang," Jawab Farhan.
"Ammiin, ayo Mas kita masuk dari pintu samping." Ajak Anisa. Maklumi saja, banyak dari seorang sahabat mengetahui seluk beluk rumah sahabatnya. Hehehe.
Awalnya ingin membuat kejutan atas kehadirannya, eh malah dibuat penasaran sendiri gegara kedatangan Cak Ibil. Anisa dan Farhan mengendap-endap bagai maling sore ini.
"Kenapa lewat samping Non?" Tanya salah satu ART di rumah Wardah yang juga sudah kenal dengan Anisa.
"Di depan ada tamu bik, jadinya lewat samping deh,hehehe," Jawab Anisa yang kini tengah malu karena kepergok.
Akhirnya mengikuti Bik Sumi masuk ke ruang keluarga. Anisa mencoba mengintip ke ruang tamu untuk mencari Wardah. Tapi nihil, tak ada, hanya Bunda dan Kak Yusuf di sana.
Klunting!
Wauuu! Anisa tak sengaja menjatuhkan sendok dari meja. Ntah ulah siapa yang meletakkan benda itu di sana. Bunda Wardah menoleh seketika. Anisa takut jika Bunda tak nyaman jika ia ada di sini. Anisa mencoba menarik lengan Farhan agar keluar dari pintu samping lagi.
"Farhan, temani Bunda dan Yusuf di depan yuk! Anisa, kamu temani Wardah di dapur ya?" Panggil Bunda. Syukurlah, akhirnya Bunda tak merasa terganggu.
Farhan tersenyum dan mengikuti Bunda ke depan. Eh! Mereka berdua membicarakan apa di balik tembok sebelum ke ruang tamu? Anisa penasaran, tapi ia bisa bertanya pada Wardah.
Cuzz ia temui Wardah yang tenyata bersama Kak Ina. Wardah langsung memberondong pertanyaan Bisa-bisanya bumil satu ini sampai di rumahnya tanpa kabar-kabar.
"Aku dari tadi telepon kamu! Gak di angkat-angkat!" Ketus Anisa.
"Maaf bumil sayaang, aku gak megang hp memang, hehehe," Jawab Wardah.
"Cak Ibil mau jemput kamu?" Tanya Anisa penasaran.
Yang ditanya pun hanya mengendikkan bahunya tanda tak tahu.
"Bunda yang ngundang Cak Ibil ke sini. Semoga aja Bunda gak nekat. Biasanya Bunda mau rencanain sesuatu, tapi gak ngomong aku Nis," Jawab Wardah. Anisa mengelus perlahan pundak Wardah.
"Bunda sedang memperjuangkan kebahagiaan untuk anaknya Wardah," Lirih Anisa.
"Kalian berdua antarkan minuman dan makanan ke depan gih. Kakak mau nyari adek kamu, belum mamdi," Ujar Kak Ina.
Anisa dan Wardah mengangguk dengan kompaknya. Anisa bertugas membawa cemilan dan Wardah yang membawa minuman untuk para tamu. Wardah tak mau Anisa membawa yang berat-berat, jadilah ia meminta agar Anisa memilih yang ringan-ringan saja. Sisanya biarlah Wardah.
Ternyata di ruang tamu itu sudah ada Cak Ibil dan kedua orang tuanya. Anisa tampak kesusahan menaruh barang bawaannya ke meja, ia tentu saja tak bisa jongkok. Farhan dengan sigap mengambil alih nampan Anisa dan meletakkan satu persatu makanan itu ke meja.
Wardah tampak gugup sepertinya. Ini kali kedua ia bertemu ibu dan bapak mertua setelah pernikahan mereka. Dengan sopan, Wardah meletakkan minuman satu persatu. Kemudian disalami satu per satu pula.
"Apa kabar nduk?" Tanya Ibu Cak Ibil sembari mengelus punggung tangan Wardah.
"Alhamdulillah baik bu," Jawab Wardah dengan senyuman yang mengembang.
.
.
"Bapak pengen buang hajat nduk," Ujar ayah Cak Ibil kepada Wardah yang duduk di samping Anisa.
__ADS_1
"Monggo Pak, saya antarkan," Jawab Wardah spontan.
Bapak Supono berdiri dengan segera mengikuti Wardah.
"Ibu juga nduk, sekalian... Kulo ke kamar mandi dulu ya bu," Ujar Bu Surinah pamit pada Bunda juga ikut berdiri. Bunda tersenyum menanggapi.
"Monggo Bu, Pak. Dek, kamu antarkan di kamar mandi taman yaa, yang di dalam belum dibersihkan. Takut licin," Jawab Bunda disertai instruksi untuk Wardah.
"Iya Bunda..." Jawab Wardah.
Selama perjalanan menuju kamar mandi, kedua orang tua Cak Ibil tak berhenti-berhentinya mengagumi rumah besannya itu. Maklumlah, ini kali pertama mereka mengadakan silaturrahmi antar besan di rumah. Wardah pun belum tahu bagaimana rumah suaminya itu.
"Tanaman ini yang nanam siapa nduk?" Tanya Ibu Surinah ketika sampai di taman belakang.
"Yang menanam Bunda Bu," Jawab Wardah dengan senyuman.
"Oalah, kok yo apik banget," Decak Ibu Surinah dengan kagum.
"Ini Pak, Buk, kamar mandinya," Ujar Wardah.
Setelah buang hajad, bukannya langsung kembali ke ruang tamu para orang tua Cak Ibil malah berkeliling melihat tanaman yang ada di taman belakang. Di taman belakang memang sudah banyak tanaman hias, pendopo kecil, kolam renang, ayunan, beberapa pohon buah dan sayuran yang sempat di tanam Wardah tempo hari yang lalu.
"Nduk, kamu belum ada tanda-tanda hamil?" Tanya Ibu Surinah sebelum mereka kembali. Bapak Supono sepertinya juga penasaran. Terlihat dari gerak-geriknya yang mendekat menuntut jawaban pula.
"Belum Bu, do'akan nggeh Bu," Jawab Wardah sekenanya. Bagaimana mau hamil? Bahkan Cak Ibil belum menyentuh satu sama lain.
.
.
"Ayo ke rumahnya ibuk nduk, tata rumah ibuk biar cantik seperti ini," Celetuk Ibu Surinah di sela perjalanan menuju ruang tamu.
"Hahaha, insyaallah buk," Jawab Wardah.
Mereka sampai di ruang tamu, Wardah kembali duduk di samping Anisa. Anehnya, kali ini tampak menegangkan tak ada satu suara pun dari mereka.
"Ada apa?" Tanya Wardah dengan volume terkecil nyaris tak terdengar pada Anisa. Anisa-nya malah mengelus lembut punggung tangan Wardah.
"Buk, Pak, ada yang mau Ibil sampaikan," Ujar Cak Ibil yang duduk di sofa single.
"Apa to Le?" Tanya Pak Supono bingung dengan suasana ini.
"Sebenarnya Ibil belum memperlakukan Wardah sebagai istri Ibil Pak... Saya sama sekali belum memperlakukan Wardah sebagai istri," Ulangnya lagi.
Sontak Wardah tercengang melihatnya. Kenapa harus dibicarakan disini? Bukankah perjanjian mereka dua bulan? Sekarang baru masuk minggu ke tiga.
Sepertinya orang tua Cak Ibil belum mamahami arah pembicaraan anaknya itu.
"Ibil belum menyentuh Wardah sama sekali, karena Ibil belum sepenuhnya melupakan Anisa," Lirih Cak Ibil.
"Astaghfirullah, kamu berbohong dengan Ibu dan Bapak nak? Tega kamu nak?" Lirih bu Surinah sembari memandangi Wardah dan wanita di sampingnya.
Ia tahu betul bagaimana anaknya itu meminta izin untuk menikahi Anisa. Kemudian setelah mendapat penolakan, ia kembali meminta izin untuk menikahi wanita di sampingnya.
Ibu Surinah mendekati Wardah dan berlutut di depannya.
"Jangan seperti ini Bu," Ujar Wardah kaget dan langsung menuntun agar duduk di tengah-tengah wanita cantik itu.
"Maafkan Ibu Nak, maafkan ibu... Ketakutan ibu ternyata menjadi nyata, ibu menyesal membiarkan anak ibu menyakiti perempuan baik seperti kamu," Lirih beliau dengan mengusap lembut pipi Wardah. Air mata Wardah lolos seketika. Begitu pun sang ibu.
__ADS_1
"Terima kasih nak, kamu sudah menolak Ibil. Dia memang tidak pantas untuk kamu. Begitu pun dengan kamu Wardah sayang... Dia tidak pantas untuk kamu, lepaskanlah jika itu membuat hati kamu tidak tertekan lagi. Ibu ikhlas," Sambung beliau berbalik pada Anisa dan kembali ke Wardah.
Wardah tak tahu ingin mengatakan apa. Lidahnya kelu. Ia masih sesenggukan melihat kebaikan hati mertuanya. Mungkin jika ia tinggal bersama mertuanya, akan mengurangi rasa sesak di hati selama ini. Tapi ia juga menjadi ragu akan Ibil. Bisakah ia menjadikan Ibil seutuhnya mencintainya?
Suasana ruang tamu masih sunyi sepi. Tak ada percakapan sama sekali. Kini yang mereka tunggu adalah keputusan Ibil. Ya! Wardah menyerahkan keputusan kepada suaminya. Terserah ia mau dibawa kemana hubungan ini.
"Wardah serahkan semuanya pada Cak Ibil. Sebenarnya kami sudah memiliki kesepakatan untuk melanjutkan pernikahan selama dua bulan. Jika Cak Ibil masih belum mencintai Wardah, Wardah ikhlas untuk dicerai. Tapi, keadaannya sekarang berbeda. Wardah serahkan semuanya pada Cak Ibil. Ingin melanjutkan perjanjian 2 bulan itu monggo, atau mau membuat keputusan baru nggeh monggo," Wardah mengutarakan semua pendapatnya beberapa menit yang lalu. Pandangan masih sama menunduk dengan dalamnya. Ia tak menggunakan embel-embel sebutan "Mas" lagi.
"Jawab Bil, Bapak serahkan semuanya padamu juga. Pesan bapak, jangan sakiti Wardah terlalu dalam lagi," Ujar Pak Supono setelah dari tadi diam menunggu jawaban anaknya. Sedangkan Cak Ibil masih terus diam.
"Saya tidak akan membiarkan kamu mempermainkan adik saya. Lepaskanlah jika memang kamu tak sanggup membuatnya bahagia. Saya sama sekali tidak setuju jika kamu meminta-minta waktu apaaalah itu! Kamu berkedok Ustadz, harusnya paham! Tidak ada pernikahan yang berlandaskan waktu!" Emosi Kak Yusuf mulai menjadi. Farhan yang ada di sampingnya mencoba meredamkan amarahnya.
"Sabar, tenang kak, kita cari jalan keluarnya sama-sama," Ujar Farhan.
" Oke! Diam kamu! Saya anggap setuju untuk pisah dengan Wardah! Jangan ganggu Wardah! Jangan hubungi Wardah!" Tegas Kak Yusuf. Sedangkan Cak Ibil masih diam membisu dengan menunduk.
"Anisa, bawa Wardah ke kamar ya," Ujar Kak Yusuf, kali ini melembutkan intonasinya.
"Baik Kak," Jawab Anisa.
Ibu Surinah memeluk Wardah dengan eratnya. Hati tak rela jika menantu baik ini harus pergi, tapi pasti akan sangat jahat jika membiarkan anaknya menyakiti hatinya.
"Wardah mohon maaf jika selama ini berbuat salah pada Ibu dan Bapak," Lirih Wardah dengan air mata yang menggenang deras.
"Kamu gak salah nduk, kamu gak ada salah. Jangan putus tali silaturrahmi kita ya nak, maafkan keluarga Ibu," Jawab Ibu Surinah. Wardah mengangguk dan memaksakan senyumannya. Diciumnya punggung tangan ibu mertuanya itu. Kemudian beralih kepada bapak mertuanya.
"Assalamu'alaikum," Pamit Wardah yang disusul Anisa sembari menggandengnya.
"Wa'alaikumussalam," Jawab mereka yang ada di ruang tamu.
.
.
.
Kini Wardah tengah terduduk lemas di pinggir tempat tidurnya.
"Aku jadi janda ya Nis?" Pertanyaan itu yang mengusik pikiran Wardah. Tak ada sama sekali melintas di pikirannya jika ia akan menjadi janda.
"Sabar ya Dah, aku selalu ada untuk kamu... Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan kedepannya. Allah pasti memiliki rencana yang luar biasa untuk hari selanjutnya." Ujar Anisa. Ia ikut duduk di samping Wardah sembari memeluknya dari samping.
"Kamu jangan pulang ya... Aku gak mau tidur sama Bunda malam ini, pasti nanti ditanyai macam-macam... Aku belum siap," Lirih Wardah memohon pada Anisa.
"Insyaallah, aku izin sama Mas Faridz dulu yaa," Jawab Anisa.
Sementara itu, di ruang tamu, ayah Cak Ibil meminta maaf pada atas perilaku anaknya. Malu? Tentu saja! Awalnya dengan sangat mantab Ibil membujuk sang bapak dan ibuk, kini malah menyia-nyiakannya.
"Sekali lagi saya tanya pada kamu Ibil, kamu siap melepaskan Wardah?" Tanya Kak Yusuf.
"Mungkin lebih baik saya melepaskan Wardah, saya tidak tahu kedepannya dapat membahagiakan Wardah atau tidak," Lirih Cak Ibil.
"Baik, kamu tunggu surat panggilan dari Department Agama dan segera tanda-tangani." Jawab Kak Yusuf.
Setelah menyepakati hal itu, keluarga Cak Ibil langsung kembali ke kota asalnya. Bunda sudah memesankan tiket, mereka tinggal menunggu di terminal.
"Tolong lupakan Anisa Cak, saya mohon, jangan ganggu kami," Lirih Farhan sembari mengantarkan keluarga itu keluar rumah. Tak dapat dipungkiri, ia kini malah khawatir Cak Ibil nekat.
"Tenang, aku mencoba mengikhlaskan semua," Jawab Cak Ibil.
__ADS_1
"Bapak yang akan membunuhnya jika ia berani mengganggu Anisa dan Wardah Le! Tenang saja, rasanya bapak tak merasa memiliki anak seperti ini," Sambung Bapak Cak Ibil.
...Bersambung.... ...