
Di dalam mobil, Eza dan Wardah saling diam. Mobil pun belum beranjak dari depan restoran. Mereka masih diam membisu seolah menenangkan diri. Eza melihat ke arah istrinya yang masih diam memandang lurus ke depan.
“Pasti sakit ya?” tanya Eza lirih, dengan mengelus lembut telapak tangan Wardah yang tadi digunakan untuk menampar begajul itu.
“Sakit, agak panas sama kebas. Kayaknya kali ini perdana aku nampar orang deh Mas,” keluh Wardah.
“Maaf ya, aku tadi marah banget sama orang itu,” ujar Eza diikuti dengan mengecup telapak tangan Wardah.
Wardah tersenyum lembut dan mengusap kedua pipi Eza memberinya kekuatan. Ia pasti akan mendukung suaminya jika itu baik. Melihat kejadian itu, membuat Wardah mengenal sosok baru suaminya. Ternyata suaminya saat marah semengerikan itu. Selama menikah suaminya hanya menunjukkan hal-hal kelembutan padanya. Ia bahkan juga tak pernah marah sedikit pun.
Di tempat lain, Winda tadi sempat menghubungi seseorang. Dan kini mereka sudah bertemu di sebuah cafe.
“Mbak Winda kenapa ngajak saya ketemuan? Mbak Winda sudah selesai dinner sama Pak Rio?” tanya Ayu, sekertaris Rio.
“Haha, kamu bahkan tahu kalau saya tadi pergi dinner dengan Rio,” Winda tertawa garing.
“Sudahlah, saya tidak mau berbasa-basi dengan kamu. Sekarang saya mau bertanya, ‘kenapa kamu mau menjadi selingkuhan Rio?” sambung Winda to the point.
“Ouh, mbak tahu juga akhirnya. Padahal aku masih mau main-main dengan sembunyi. Tapi nggak papa, kalau gitu Mas Rio bisa nikahin aku secepatnya. Padahal ya Mbak, aku sama Mas Rio udah main tu sekitar 1 tahun lebih lhoo, bisa-bisanya Mbak baru sadar sekarang,” dengan gamblangnya ia menjawab pertanyaan Winda. Tak ada rasa malu atau sungkan sedikit pun.
Winda tersenyum kecut mendengar penuturan wanita mur*han itu. Di dalam hati dan pikirannya sudah bergemuruh ingin mencabik-cabik wanita itu. Tapi kedua juga masih berusaha saling menenangkan Si Empunya. Ia semakin merasa jika dirinya dipermainkan habis-habisan oleh mereka berdua. Yang membuatnya terkejut lagi yakni fakta bahwa ternyata perempuan itu tengah mengandung anak Rio. Memang belum nampak, karena baru berusia satu bulan lebih.
“Kamu dijanjikan apa sama si br*ngsek itu?” tanya Winda lagi.
“KEBAHAGIAAN YANG HAKIKI,” jawabnya dengan lantang.
“Oke! Semoga kalian bisa bahagia bersama,” sambung Winda, kemudian beranjak pergi.
Ia meninggalkan sebuah amplop berisikan beberapa uang tunai kepada wanita itu. Wanita itu sempat bingung awalnya kenapa istri dari pacarnya memberinya uang. Ia pikir sebagai uang peringatan, tapi Winda hanya diam dan beranjak pergi. Akhirnya ia terima saja uang itu. Toh jumlahnya juga tergolong besar. Kesempatan untuk shoping-shoping ria.
“Bersenang-senanglah sebelum kalian merasakan tak punya uang,” gumam Winda saat keluar dari cafe.
Winda langsung pulang ke rumah setelah bertemu sesaat dengan wanita j*lang itu. Ia sudah siap untuk memberitahu Mama. Di dalam mobil ia hanya diam membisu. Ia tak tahu harus bereaksi apa saat ini. Kecewa, hancur, sakit, sedih. Semua rasa tak mengenakkan itu bercampur menjadi satu di lubuk hatinya mulai dari pangkal hingga dasar lubuk hatinya. Ia bahkan tak bisa menangis saat ini. Sama sekali tak bisa meski dirinya ingin. Hingga rasa sakit dan sesak di dadanya tak dapat ia hindari lagi. Ini merupakan rasa sakit terdalam semasa hidupnya.
Beberapa kali Winda mengatur nafasnya agar lebih relax. Dilihatnya mobil Eza dan Wardah tertata rapi di garasi. Dengan begitu ia bisa berbincang dengan adilnya pula, mengenai keputusannya.
__ADS_1
“Sore, Mbak Winda,” sapa Nano, salah satu petugas keamanan rumah ini.
“Sore Pak, saya masuk dulu ya,” jawab Winda.
“Aura orang kaya emang beda yaa... Kok bisa ya, orangnya bening-bening gitu? haha” gumamnya saat Winda sudah masuk.
“Mamaaa!” teriak Dinda yang berhambur di pelukannya saat tahu Mamanya sudah pulang.
“Iyaa sayang, main lagi ya Mama mau ketemu Oma sebentar,” ujar Winda.
Dinda sontak kembali bermain dengan Kanaya dan juga Sakha ditemani oleh Si Mbok yang tersenyum melihat interaksi ibu dan anak itu. Winda menyapa Si Mbok sebentar sebelum berlalu ke kamar Mama dan Papa-nya.
Tok-Tok-Tok,
Winda mengetuk pintu kamar Mama-nya. Jam segini biasanya Sang Mama tengah bersantai dengan Papa di balkon kamar yang terhubung ke arah taman belakang. Winda membukanya sedikit untuk mengecek ke dalam. Tampak Mama tengah duduk santai di sofa sendirian sambil membaca buku.
“Masuk aja Win,” ujar Mama.
“Kenapa sayang? Tumbenan ke kamar Mama sama Papa,” tanya Mama setelah Winda duduk di samping Sang Mama.
“Papa lagi keluar sama Eza. Mungkin nanti habis maghrib pulangnya. Ada yang mau di urus katanya.” Jawab Mama.
Winda tampak gusar dan bingung. Ia bingung hendak mulai dari mana ia bercerita. Bahkan Mama sudah berulang kali menanyakan maksud dari anaknya itu. Meski sebenarnya Mama sendiri sudah tahu dari Eza. Eza memang tak sabaran untuk menunggu keputusan kakaknya. Itulah mengapa ia menceritakan semuanya pada Mama dan Papanya. Eza meminta pada Mama dan Papa untuk berpura-pura tak tahu terlebih dahulu. Supaya kakaknya bisa plong setelah menceritakannya sendiri. Diam-diam Eza dan Papa mengurus hal-hal yang perlu diluruskan.
“Kenapa? Ada masalah di kantor?” tanya Mama.
Winda menggeleng. ia mengambil napasnya dalam-dalam lalu ia hembuskan perlahan. Berharap dirinya bisa siap untuk berbicara serius.
“Mama, kalau seumpama Winda bercerai bagaimana?” Winda membuka perbincangan.
“Ada apa? Ada masalah dengan Rio? Coba kamu ceritakan sama Mama,” Mama membenarkan posisinya dan menggenggam jemari anak sulungnya itu.
Dari situ Winda mulai menceritakan duduk permasalahannya. Semuanya tanpa terkecuali mulai awal sampai akhir. Mama yang memang belum tahu semuanya tentu dengan seksama mendengarkan curhatan anaknya. Selama 9 tahun menikah, anaknya itu memang tak pernah membicarakan mengenai pernikahannya pada orang tua.
“Bagaimana dengan Dinda Ma?” tanya Winda.
__ADS_1
“Hey, sayang... Meskipun kamu tidak bercerai, tapi kamu tersiksa, itu juga tidak akan membuat Dinda bahagia. Dia pasti tak ingin Mamanya sedih terus,” jawab Mama.
Mama dan Papa yang baru mendengan secercah masalah besar ini tentu saja kaget. Mereka pikir selama ini anak-anaknya sudah bahagia lahir dan batin bersama pasangan masing-masing. Orang tua mereka tentu saja tak akan ikut campur mengenai rumah tangga anaknya. Tapi jika untuk permasalahan rumit seperti ini tentu tak ada salahnya untuk meminta nasehat. Winda juga jarang di rumah, ia lebih sering ikut dinas suaminya di Jogja. Meski sering ikut dinas, ternyata selama di Jogja Rio juga sering beralasan pergi ke luar kota lagi. Winda selalu sendiri jika Dinda tak ikut di Jogja. Tentu saja ia kesepian.
Setelah lega menceritakan pada Mama, Winda pamit untuk menemui Wardah. Sebelum itu ia memilih untuk bersih-bersih dan sholat maghrib terlebih dahulu. Tiba di kamar Wardah ternyata Eza sudah ada di sana. Ntah kapan datangnya orang itu. Mereka berbincang banyak sekali untuk menyusun rencana lanjutan. Mereka tentu berharap proses perceraian ini lekas selesai.
Tanpa mereka sadari, pintu kamar mereka tak ditutup. Seorang bocah cilik yang berniat untuk memanggil Aunty-nya untuk mengajar mengaji tak sengaja mendengar perbincangan yang tak seharusnya itu. Dinda yang hendak masuk terhenti tiba-tiba saat Mama-nya membicarakan mengenai ’cara membicarakan masalah ini padanya’. Ia bahkan juga mendengar samar-samar maksud dari ucapan ketiga orang dewasa itu. Ia memang masih kecil, tapi sedikit banyak ia sudah mengerti maksud dari perbincangan itu.
“Non Dinda, Si Mbok nyariin kemana-mana lhoo. Hari ini yang ngajarin ngaji Mas Faiz yaa,” panggil Si Mbok dari arak tangga.
Tiga orang yang tengah fokus berbincang, diam seketika. Biasanya tak terdengar ujaran dari luar kamar, kecuali jika tak ditutup. Manik mata mereka tertuju pada Dinda yang tengah berdiri di pinggir pintu. Dinda segera berbalik mendekati Si Mbok dan segera turun. Wardah dengan paniknya segera mengejar Dinda dan Si Mbok.
“Sayangnya Aunty, ikut Aunty sebentar yuk!” ajak Wardah yang memegang tangan Dinda. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah waktu untuk segera menjelaskan pada anak itu.
“Sama Aunty aja ya, aku nggak mau ketemu Mama,” ujar Dinda.
Winda yang masih ada di ambang pintu hanya melihat ke arah anaknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Si Mbok yang tak tahu apa-apa lantas turun. Wardah mengangguk menimpali ponakannya itu. Ia mengajak Dinda untuk ke kamar anak-anak.
Wardah melihat ke arah Kak Winda untuk meminta izin. Setelah mengangguk ia baru menggandeng Dinda ke kamarnya. Di dalam kamar, Wardah menjelaskan dengan hati-hati serta menggunakan pemilihan bahasa yang tepat untuk anak-anak agar Dinda tidak syokk dan mudah dipahami tentunya.
"Kalau Papa nggak sama-sama di sini lagi, Mama nggak akan nangis kayak tadi kan Aunty?" tanya Dinda dengan polosnya.
"Selama Dinda mau nemenin Mama dan menghibur Mama, Mama pasti akan bahagia," jawab Wardah mengelus lembut rambut Dinda.
"Papa jahat ya Aunty? Kenapa Papa buat Mama nangis sih?" tanya Dinda lagi.
"Dinda, Dinda pernah marahan sama Mama kan? Marahan sampai Dinda nangis. Nah! Mama lagi kayak gitu sama Papa. Tapi bedanya, Papa nggak satu rumah lagi sama kita. Dinda masih bisa kok main sama Papa nantinya," jelas Wardah.
"Dinda nggak papa kok kalau nggak sama Papa. Lagian Papa juga nggak pernah di rumah! Dinda juga marah sama Papa. Dinda mau nemenin Mama terus!" ujar Dinda dengan tegasnya.
"Dinda boleh marah sama Papa, tapi marahnya jangan lama-lama yaa. nanti Papa ikut sedih,"
Dinda mengangguk menanggapi Tante nya itu. Setelah selesai berbincang, Dinda segera mencari Mamanya. Memeluknya erat dengan kasih sayang yang teramat dalam.
...Bersambung ...
__ADS_1