
Setelah perjalanan panjang mereka, akhirnya sampailah mereka di Jogja. Mansion Papa dan Mama yang terkadang juga ditempati Kakak perempuan Eza. Tangan Wardah sudah kebas rasanya menahan berat badan Inayah yang sampai sekarang masih tertidur.
Terlihat Mama dan Mbak Winda yang menunggu mereka di depan teras. Tiba-tiba Lhu-Lhu lupa siapa nama Kakak perempuan Eza. Hahaha. Jadi Lhu-Lhu sebut Mbak Winda saja ya di sini.
Paras ayu nan anggun sudah terpancar dari sosok Mbak Winda. Tunggu! Disana juga ada sepupu Eza ternyata. Dea. Ntah kenapa ia ada di sana.
"Adu adu adu Mas... Keraaaam," lirih Wardah.
Eza bergegas berlari memutari mobilnya untuk membukakan pintu Wardah. Mama mengikuti Eza ikut khawatir.
"Kamu ambil alih Za! Cepet! Kasihan itu Dedek," ujar Mama Sarah.
Eza menggendong Inayah dan Mama membantu Wardah berdiri. Dengan tertatih Wardah berdiri.
"Assalamu'alaikum Ma," sapa Wardah mengambil tangan Mama kemudian menciumnya.
"Waalaikumussalam, ayo Mama bantu. Pasti keram banget," jawab Mama memapah Wardah.
Sedangkan Mbak Winda terkikik melihat Wardah. Lucu ekspresinya menurut dia. Berbeda dengan Dea, ia tampak memasang wajah sombongnya.
"Jangan tertawa saja Win! Bantuin!" protes Mama.
"Jahat banget calon suami kamu Dek, bukannya gendong kamu, malah gendong anak kecil itu. Jangan-jangan BB kamu berat ya?" ledek Mbak Winda.
Sedangkan Wardah hanya menanggapi dengan tawa recehnya. Bisa-bisanya ia dibilang berat.
"Habis sarapan beton Mbak, makanya berat," jawab Wardah.
"Hahaha, beton biji nangka pasti," sambung Kak Winda.
Di ruang tamu sudah ada Papa dan laki-laki yang dapat dipastikan jika itu adalah suami Mbak Winda. Papa syok sendiri melihat Wardah yang sampai dipapah oleh Mama dan Mbak Winda karena keram.
"Masih keram?" tanya Papa.
"Masih, dikit Pa," jawab Wardah dengan cengirannya.
"Ponakan kamu tidur di kamarnya Mbak Winda. Eza masih di sana," ujar Papa lagi.
"Udah bisa jalan sendiri kok Ma, Mbak... Wardah jadi belum nyapa, gara-gara keram, hehehe" ujar Wardah.
Wardah menyalami Mama lagi, kemudian Papa tak lupa memeluk mereka dengan sayang. Rindu sekali rasanya dengan Papa. Barulah Wardah menyapa Mbak Winda beserta suami. Tak lupa dengan Dea yang ada di sana pula.
"Ngelihatin Wardah sama Papa akrab banget bikin Winda terenyuh," ujar Mbak Winda.
"Harus akrablah, calon anaknya Papa," jawab Papa dengan bangganya.
"Ini Kakaknya Eza, namanya Winda, di sebelahnya ini suaminya, namanya Mas Rio. Yang sebentar lagi juga akan menjadi Kakak Dedek,” ujar Mama memperkenalkan anak sulungnya.
"Jangan panggil Dedek Ma, malu..." lirih Wardah.
"Nggak papa dong Dek, kan comel, kamu mah kalau dipakaikan baju anak SMP juga masih cocok, hahaha," celetuk Mbak Winda.
"Hiish, nampak banget kalau dimanja ya?" gumam Dea.
Sontak Mama melemparnya dengan bantal sofa.
"Kamu kalau adu bersih-bersih rumah juga kalah jauh sama calon menantu Tante! Lagian Mama mau cari menantu bukan mau cari pekerja keras," jawab Mama.
"Nggak didengerin anak itu, kalau ngomong memang sembrono," ujar Papa.
Wardah mengangguk menanggapi Papa. Mama menyuruh Wardah untuk istirahat terlebih dahulu. Berhubung Inayah ada di kamar Mbak Winda, akhirnya Wardah ikut di kamar itu. Wardah diantar langsung oleh Mbak Winda.
"Nggak usah sungkan, istirahat saja... Mbak sama Masmu nanti biar di kamarnya Zizah anaknya Mbak," ujar Mbak Winda.
"Terima kasih Mbak," jawab Wardah kemudian masuk ke kamar.
Dilihatnya Inayah masih pulas tertidur dengan anak kecil satu tahun di bawahnya yang juga tertidur di sebelahnya. Tapi tak ada Eza di sini. Ntah kemana orang itu.
__ADS_1
Cantik sekali anak di samping Inayah. Tak heran jika anak itu cantik, ibunya saja juga cantik. Wardah berbaring di tengah-tengah anak-anak itu. Serasa menjadi ibu dua anak saja dirinya. Di saat yang sama, kedua anak itu memeluknya. Wardah tiba-tiba terdiam bagai patung.
Mengikuti instingnya, Wardah membalas pelukan mereka. Memeluk mereka dengan masing-masing tangannya. Hingga kantuk kini menyapanya.
Cklek! Eza keluar dari kamar mandi. Sepertinya lega sekali setelah mengeluarkan sisa-sisa kemulesan dari perutnya. Terlihat jelas dari wajahnya. Tatapannya tertuju pada sosok wanita yang dipeluk oleh dua anak perempuan sekaligus. Lucu sekali. Eza mengambil gawainya dan memfoto Wardah untuk dikirimkan pada Bunda.
"Calon istrinya Eza manis banget Bun... Terima kasih sudah mengizinkan Eza untuk menjadi bagian dari keluarga ini," tulisnya.
Ting!
Notif muncul dari gawai Eza.
"Jaga Wardah ya Le... Bunda nitip salam untuk Mama sama Papa kamu," balas Bunda.
🌼🌼
Eza membiarkan Wardah istirahat di kamar. Sedangkan ia kembali ke ruang tamu. Oh tidak, ternyata mereka sudah berpindah di ruang keluarga.
"Nggak istirahat Za?" tanya Mama.
"Nggak capek," jawab Eza singkat.
Ia berbaring di sofa berbantalkan pangkuan Mama. Ia rindu saat-saat seperti ini. Eza terheran-heran melihat ekspresi Kakaknya yang kurang menyenangkan. Sepertinya sang Mama sudah menceritakan jati diri Wardah yang sebenarnya.
"Janda itu bukan sesuatu yang buruk Ma," ujar Suami Mbak Winda.
"Tapi tetap ajaEza itu masih perjaka! Masak dapatnya yang udah bekas!" bantah Mbak Winda.
"Mbak! Udah ya! Yang mau menikah Eza, bukan Mbak! Kalau Mbak nggak ngeresruin pun nggak masalah! Eza masih bisa nikahin Wardah! Papa sama Mama juga nggak mempermasalahkan hal itu! Kenapa malah Mbak yang bingung?" tegas Eza. Kemudian pergi meninggalkan keluarganya.
"Iya, Mama sama Papa sudah sayang dengan Wardah, jadi jangan coba-coba menghalangi niat baik Eza," ujar Mama yang kini ikut pergi ke kamarnya.
"Papa mau belain anak itu juga?" tanya Mbak Winda.
"Kamu tahu jawaban Papa... Papa sama Mama nggak pernah ngajarin kalian membedakan status seperti ini ya," jawab Papa. Senyum licik muncul samar-samar dari sudut bibir Dea. Puas sekali sepertinya dirinya menyaksikan pertengkaran ini.
"Assalamu'alaikum sayang," sapa Wardah yang melihat anak dari Mbak Winda terbangun.
"Waalaitumsalam," jawabnya dengan lirih.
"Baca doa bagun tidur dulu yuk! Ikutin Aunty yaa, Alhamdulillahi Ahyana Ba'dama Amatana Wailaihinnusyur," Wardah menuntun anak mungil itu membaca doa. Anehnya ia mengikuti saja meski sedikit belepotan.
"Namanya siapa sayang?" tanya Wardah lembut yang kini memiringkan tubuhnya menghadap anak itu, pelukan Inayah merosot dengan sendirinya.
"Dinda," jawabnya dengan senyum yang mengembang.
"Kita ke depan yuk! Mama ada di depan," ajak Wardah.
Dinda mengangguk menanggapi Wardah dan menyambut uluran tangan Wardah untuk menggendongnya. Seluruh tindakan Wardah tak terlepas dari pengamatan Mbak Winda. Ia sempat terenyuh melihatnya. Bagaimana bisa anaknya dengan mudah akrab dengan orang yang baru ia temui.
Mbak Winda segera pergi dari balik pintu kamarnya saat Wardah hendak keluar. Wardah meninggalkan Inayah yang masih tertidur pulas.
"Papa," panggil Dinda pada Papanya.
"Hey sayang! Sudah bangun ternyata, sini sama Papa," jawab Mas Rio.
Sontak Dinda memeluk Wardah erat, enggan melepaskannya.
"Ikut siapa kamu nak?" tanya Mas Rio lagi.
"Itut Aunty balu," jawabnya gemes.
"Hahaha, cucunya Opa punya teman baru lagi," ujar Papa Surya.
Wardah memangku Dinda di sebelah Papa dan mengajaknya berbicara.
"Dinda, ikut Aunty Dea yuk!" Dea tiba-tiba mendekati Wardah hendak mengajak Dinda.
__ADS_1
"Ndak mau! Mau cama Aunty ini ajah!" jawab Dinda dengan tegasnya sembari membenamkan wajahnya di dada Wardah dan memeluknya erat.
"Udah bosen sama kamu Dindanya," ledek Eza yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
Percayalah, bibir Dea sudah mengerucut panjang tak terima dengan perlakuan Dinda.
🌼🌼🌼
Sore ini Wardah sudah mengenakan ampronnya sebagai alat pertempurannya di dapur. Tidak sendiri, tapi bersama Mbak Winda. Mbak Winda sudah setuju dengan perjanjiannya dengan Eza di taman belakang tadi.
Mbak Winda akan melihat tindakan Wardah, jika ia lulus uji menurut standarnya, Mbak Winda akan merestui dan membantu Eza mengerahkan anak buah WOnya untuk membantu Caca di Jombang. Ia juga berjanji untuk pura-pura sudah menerima status Wardah yang sebenarnya.
"Dek, kamu potong-potong kembang kol itu ya," ujar Mbak Winda.
Wajah Wardah bias seketika. Bayangan hewan-hewan tak berkaki itu mulai muncul di sekitar nama sayuran itu. Ia dari kecil memang suka memasak, tapi jika berhubungan dengan ulat-ulat ia sungguh akan angkat tangan. Sering kali ulat-ulat itu bersembunyi disela-sela sayur itu. Otokeee! Bagaimana ini? Wardah tak berani menolak...
Dengan menguatkan dirinya, Wardah harus berani mengeksekusi sayur itu. Walaupun tangannya sedikit banyaknya tremor atau gemetaran. Biasanya ada Bunda yang membantunya, tapi kini tak ada Bunda.
Tangannya sudah menyentuh sayur itu, tapi gemetarnya semakin menjadi. Dibukanya perlahan di celah kembang itu, tepat sekali! Dua ulat sudah bertengger di sana. Dengan bangganya menggeliatkan tubuh tanpa tulangnya.
Wardah tercekat! Keringat dingin sudah membanjir.
"Bunda..." lirih Wardah.
Mbak Winda menghentikan aktivitasnya mendengar lirihan Wardah.
"Kenapa dek?" tanya Mbak Winda kaget melihat ekspresi Wardah yang sudah gemetar.
"Ada ulaat Mbak," lirihnya lagi.
Dilemparnya kembang Kol itu spontan salah satu ulatnya terpelanting di atas jilbab Wardah. Untung Mbak Winda garcep menangkap sayur yang terpelanting itu.
"Ya Allah, kalau phobia ngomong Dek..." ujar Mbak Winda menggenggam jemari Wardah.
"Tapii, itu ada ulat di atas jilbab kamu," sambung Mbak Winda.
Syok! Tentu saja! Wardah berteriak dengan histeris. Menangis langsung.
"Ada apa Mbak?" tanya Eza diikuti anggota keluarga yang lain. Bahkan Mas Rio yang awalnya menjaga dua anak yang sedang bermain, harus menggendong keduanya menuju dapur mendengar kegaduhan.
Mbak Winda segera membuang ulat itu dan memeluk Wardah dengan sangat erat untuk menenangkannya.
"Sudah-sudah, sudah hilang... Ndak ada lagi ulat sialan itu," ujar Mbak Winda. Dapat ia rasakan getaran dari tubuh Wardah.
🌼🌼🌼
Kini mereka sudah berkumpul lagi di sofa ruang makan. Dengan Wardah yang dipeluk Mama.
"Kenapa ndak bilang kalau phobia kembang kol sih dek?" tanya Mbak Winda.
"Ndak berani Mbak," lirih Wardah dengan malu.
"Sama ulat aja takut!" ledek Dea.
"Dea! Diam atau keluar?" ancam Papa.
"Wardah ndak phobia sama sayurnya, cuma phobia sama ulatnya kok," ujar Wardah.
"Hahaha, tapi lucu lihat kamu tadi. Demam seketika lho! Daebak! Hahaha," tawa Mbak Winda pecah.
"Sana masak sendiri! Awas kamu nanti!" ancam Mama.
"Wardah bantu... Tapi yang ngurus kembang kolnya Mbak, Hehehe," ujar Wardah ikut bangkit.
Akhirnya Wardah membantu Mbak Winda. Beliau menyiapkan sayurnya dan Wardah yang memasak.
...Bersambung ...
__ADS_1