
...Maaf, kelupaan mau up tadi Malam......
Mama mengantarkan Wardah untuk sholat zuhur di kamarnya. Sengaja hanya di kamar, terlalu jauh jika hendak ke mushola. Harus ke taman belakang terlebih dahulu. Mereka melakukan sholat secara berjamaah dengan Wardah yang menjadi imam.
Wardah sempat menolak, tapi Mama tetap saja memaksa. Setelah sholat zuhur, Mama mengajak Wardah untuk ke ruang makan. Sudah ada Alif di sana duduk manis dengan senyuman yang mengembang ditujukan untuk Wardah. Wardah kikuk sendiri dibuatnya. Kenapa dari tadi anak itu tersenyum terus?
Wardah duduk tepat di samping Mama. Alif di sisi lain Mama. Ntah di mana Eza. Ia belum kemari. Tak berselang lama, pucuk dicinta ulam pun tiba. Eza muncul dari pintu belakang. Mengenakan sarung dan kemeja kokonya. Masyaallah! Ini mah seperti kang-kang santri asli.
Eza menyampirkan sajadahnya di sofa ruang keluarga yang kebetulan tak terlalu jauh. Dibukanya peci itu dan memakainya lagi. Bedanya, rambut depannya kini terurai menambah kesan ketampanannya.
"Papa di mana Ma?" tanya Wardah menutupi kegugupannya memandangi Eza.
"Papa di Jakarta, kemarin Mama pulang gara-gara bocah satu ini kabur dari pesantren," jawab Mama.
Wardah melotot tak percaya. Bisa-bisanya adik dari Bosnya itu kabur dari pesantren. Tak takut di takzir (hukum) sepertinya.
"Mondok di mana dek?" tanya Wardah basa-basi.
"Dipondokannya Mas Eza dulu. Katanya enak! Eh nyatanya makanannya kangkung melulu," gerutu Alif sembari menikmati makanannya.
"Hallah! Dari MTS udah di pondok kok. Kenapa baru kabur sekarang?" cibir Mama. Aneh! Biasanya orang tua akan marah jika anaknya berulah, tapi ini malah santai-santai. Tak tahu jika marahnya sudah selesai. Wkwkwk.
Wardah tersenyum melihat tingkah ibu dan anak itu. Ternyata Alif baru saja masuk Aliyah (SMA). Ia pulang karena masih libur. Ia akan ikut ke Jakarta besok untuk mengisi waktu luangnya.
.
__ADS_1
.
.
Wardah kini tampak duduk menikmati siang hari yang cukup terik tapi hawanya sangat dingin. Mungkin karena hampir dekat dengan pegunungan. Duduk di ayunan seperti ini sangat menyenangkan bagi Wardah. Mengingatkan dulu dengan sang Ayah yang sering mengajaknya berbincang di ayunan. Ayah yang mengayunnya disertai dengan cerita-cerita karangan-karangan apiknya.
Awalnya Wardah bersama ibunda Eza tadi. Tapi Alif memanggilnya, jadilah kini ia sendiri. Tengah asik melamun, tiba-tiba Eza mengayun Wardah. Untung saja tak terpelosok ke depan. Bisa bertato nanti wajah Wardah.
"Apaan dah! Ngagetin aja. Untuk nggak kejengkang," protes Wardah.
"Makanya jangan ngelamun. Kesambet baru tahu rasa," jawab Eza.
Eza terus mengayun Wardah. Wardah pun kini mulai menikmati ayunan itu. Mama yang awalnya hendak menyusul memilih untuk kembali masuk meninggalkan dua sejoli itu.
"Berarti, Papa di Jakarta sendiri Mas?" tanya Wardah penasaran. Padahal awalnya ia ingin bertemu Ayah dari Bosnya itu.
"Rumah segede ini gak ditempatin si empunya?" tanya Wardah kaget.
"Ada Mbak Sarah sama suaminya. Tapi sekarang lagi liburan ke Bali. Biasanya sih mereka yang nempatin menjelang rumah mereka selesai renov," jawab Eza.
Mbak Sarah? Wardah menebak sendiri siapa nama yang disebut Eza tadi. Sudah pasti itu kakaknya. Tak mau menanyakan kepastiannya, takut jika dicap sebagai pengkepo. Hahaha.
.
.
__ADS_1
.
"Kalau dilihat-lihat, Mbak-mbak itu lebih seumuran kayak aku deh Ma. Tingginya aja sekuping aku. Pasti kalau di samping Kak Eza seketeknya," celetuk Alif saat di ruang keluarga bersantai dengan Mamanya.
"Kok kamu body shaming sih? Kak Wardah itu imut! Cantik! Manis! Cocoklah sama Kakak kamu," jawab Mama tak terima.
"Malah kayak Om sama ponakan," celetuk Alif. Spontan Mama menjitak pelipis anak bungsunya itu. Bisa-bisanya menjelekkan calon menantunya. Tampak Alif mengelus pelipisnya yang kesakitan itu.
"Kamu sama Kakak kamu aja yang tingginya kelewatan. Mama sama kamu juga tinggian kamu!" ujar Mama.
"Iya-iya, Alif kalah. Perempuan memang selalu terdepan," celetuk Alif.
.
.
.
"Mas? Memangnya saya pendek banget ya?" tanya Wardah lirih sembari menghampiri Eza di bawah pohon rindang. Duduk di sebelahnya menikmati pemandangan perkebunan anggur.
Wardah tak sengaja tadi mendengar obrolan Alif dan Mama ketika mengambil air dingin di dapur. Spontan Eza mengapit kepala Wardah di ketiaknya.
"Kamu itu mungil. Tengok! Seketiak saya," celetuk Eza dengan tawanya. Sedangkan Wardah tampak berontak mendapatkan perlakuan seperti itu. Bisa-bisanya perkiraan Alif benar. Wardah setinggi ketiak Eza.
"Iiizzz! Masa anak cute kayak gini dikasih ketiak sih!" protes Wardah melepaskan kepitan Eza.
__ADS_1
...Bersambung.... ...