Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Wartawan yg Meresahkan


__ADS_3

Keluar dari lift, Eza dan Wardah sudah disambut oleh para pegawai. Membawakan sebuah buket bunga yang cukup besar untuk Wardah.


"Happy Engagement Bos!" seru mereka.


Mbak Zizi memberikan buket itu pada Wardah. Salah satu sisi dinding juga sudah didekorasi sedemikian rupa.



"Ini apa Mas?" bisik Wardah.


"Nggak tahu Ay," jawab Eza juga terheran-heran.


Pasalnya, mereka juga sudah hadir di acara lamaran kemarin. Atas dasar apa mereka merayakan acara seperti ini.


"Hadiah dari crew Za, mereka pulang dari Jombang langsung siapin acara kecil-kecilan," ujar Mbak Zizi sebagai juru bicara.


Secara bergantian mereka mengucapkan selamat pada calon pengantin ini. Ternyata rata-rata dari mereka kaget saat mengetahui jika pimpinan mereka tiba-tiba mengadakan acara lamaran. Yang lebih mencengangkan, calonnya adalah anggota baru mereka.


"Kok buru-buru sih Za?"


"Kalian udah lama kenal?"


"Kok tiba-tiba langsung lamaran?"


"Perasaan, kalian baru kenal waktu Wardah kerja di sini deh,"


"Gileh! Kirain elu nikahnya sama sepupu Lo si Dea itu!"


Dan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan. Maklumlah, waktu acara lamaran berlangsung, mereka tak sempat mengobrol banyak, karena banyaknya tamu undangan dan 3 sesi acara yang digabungkan. Membuat yang bersangkutan sangat sibuk.


"Ngapain lama-lama, langsung Gas aja yekan Za?" jawab Pak Khoir, salah satu petinggi perusahaan yang baru saja datang.


"Hahaha, biar orang lain nggak ada celah buat nikung," sambung Eza.


Percayalah, Wardah sudah malu setengah mati saat ini. Jika dipikir-pikir, perjalanan untuk sampai di titik ini memang singkat sekali. Wardah bekerja di stasiun tv ini baru tiga bulan. Ia sama sekali tak menggubris perasaan Eza. Hingga tibalah saat Eza meminta izin kepada Bunda hingga sekarang ia mendapatkan gelar calon suami Wardah.


"Sudah-sudah! Kalian membuat jadwal meeting tertunda saja.. Ayo kembali bekerja!" ujar Eza yang melihat Wardah menahan malu.


"Foto-foto dulu Mas," ujar Mbak Ria, salah satu rekan kerja.


Akhirnya mereka berfoto ria terlebih dahulu, barulah kembali ke ruangan masing-masing.


"Terima kasih untuk semuanya, mohon doanya semoga semua berjalan dengan lancar... Itu kuenya dibagi rata per divisi ya," ujar Eza diakhir pepatahnya.


"Minta tolong jagain calon istri Eza ya Mbak," bisik Eza pada Mbak Zizi sebelum pergi ke ruangannya.


Dielusnya lembut kepala Wardah tak lupa. Mbak Zizi hanya memutar bola matanya jengah melihat perilaku Eza. Sudah tertanam dengan subur jiwa kebucinannya. Barulah Mbak Zizi mengajak Wardah kembali bekerja. Bukan mengedit naskah berita, tapi langsung ke studio. Jam penayangan berita siang sudah saatnya.


"Selamat ya Nduk atas tunangannya," ujar Om Didi salah satu penanggung jawab acara.


"Terima kasih Om," jawab Wardah. Ia baru saja selesai syuting.


"Kamu kenal Eza sudah lama ta?" pertanyaan yang sama muncul. Ternyata Om satu ini juga kepo.

__ADS_1


"Kenal di kantor Om, pertanyaannya nggak kreatif sih, hahaha" jawab Wardah.


"Kepo, Eza itu gak pernah nunjukin pacarnya sama sekali... Lha ini tiba-tiba udah tunangan aja," sambung Om Didi. Wardah hanya tersenyum menimpali. Tak tahu harus menjawab apa.


Satu jam sudah Wardah di ruang penyiaran. Kini saatnya ia berpindah alih editing berita untuk penayangan nanti sore dan malam. Tunggu, biarkan Wardah istirahat sejenak. Sebelum ke ruangannya, Wardah memilih untuk membuat secangkir kopi. Matanya cukup berat untuk berkedip rasanya.


"Siang Mbak Wardah," sama Mbak Mina yang menjabat sebagai cleaning servis dan waiters di kantor. Usianya sudah berkepala 4,tak jarang orang-orang juga memanggilnya dengan sebutan Bude.


"Siang Bude," jawab Wardah dengan senyumnya yang manis.


"Sini Bude buatkan kopi... Sepertinya butuh asupan kafein deh," ujar Bude Mina.


"Boleh Bude, agak ngantuk nih," jawab Wardah yang kini berjalan di sebuah meja makan menunggu kopinya.


Wardah menyesap kopinya ditemani Bude Mina yang tengah mengelap gelas-gelas basah. Bercerita ngalor-ngidul tak tahu waktu.


"Ay," panggil Eza yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya.


"Iya Mas? Udah selesai rapatnya?" tanya Wardah.


"Belum, tapi mereka bisa ngehandle tanpa Mas kok. Kita langsung ke pencetakan yuk!" ajak Eza.


"Aku masih ada tanggungan ngedit news Mas," jawab Wardah.


"Kalarin sekarang yuk Ay..." ajak Eza.


"Saya ke kantor dulu ya Bude," pamit Wardah.


Tampak sekali wajah lusuh nan lelah terpancar dari Eza. Kasihan melihatnya. Mereka berjalan beriringan menuju ruangan Wardah. Kantor tampak sepi, mungkin karena memang saat ini waktunya istirahat siang.


"Ada yang istirahat, ada yang udah pulang," jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.


Eza memilih untuk duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Membaringkan tubuhnya sembari memainkan gawai.


"Istirahat aja Mas, nanti kalau udah selesai Aku bangunin," ujar Wardah memberikan bantal leher pada Eza. Ia sengaja menyediakan bantal itu untuknya beristirahat.


"Oke, santai aja ngerjainnya," jawab Eza.


Wardah mulai mengerjakan tugasnya agar segera selesai. Dilihatnya Eza, ternyata sudah terpejam dengan damainya. Kasihan sekali laki-laki itu.


"Kenapa Pak Eza ndak di ruangannya aja?" tanya Mas Angga.


"Nggak mau orangnya Mas," jawab Wardah.


Wardah sudah menyuruh Eza ke ruangannya sendiri tadi. Tapi Eza kekeh mengikuti Wardah. Ya sudahlah, apa boleh buat?


Tak berselang lama, datanglah rombongan karyawan kerja yang lain. Mereka yang awalnya heboh, langsung mengunci mulutnya rapat-rapat saat melihat sang atasan tidur di sofa ruang kerja mereka.


"Kenapa si Bos disini?" tanya Mbak Zizi.


"Nungguin saya Mbak... Nggak mau saya suruh ke ruangannya, eh! Malah sayanya yang disuruh kerja di ruangannya," jawab Wardah.


"Hmmm, jiwa bucin si Bos meronta-ronta," celetuk Mbak Zizi kembali ke mejanya.

__ADS_1


Dua jam sudah Wardah mengerjakan naskah dan vn. Akhirnya selesai juga. Ia serahkan tugas selanjutnya pada Mas Angga untuk mengedit keseluruhan video dan memasukkan suaranya untuk ditayangkan nantinya.


"Kamu bawa pulang itu, makhluk tuhan yang sangat tampan itu... Buat konsen aku nggak karuan ajah," celetuk Mbak Nia.


Wardah membangunkan Eza dengan perlahan. Diambilnya tisu dan diletakkan di lengan Eza. Barulah ia sentuh tisu itu untuk membangunkan.


"Mas, Mas Eza," sekali, dua kali, akhirnya Eza membuka matanya.


"Pulang yuk!" ajak Wardah dengan lembut.


"Udah selesai ta? Iya, ayuk!" jawab Eza dengan suara paraunya. Tak lupa ia membaca doa bangun tidurnya.


"Nyenyak Bos?" ledek Mbak Zizi.


"Nyenyak banget! Pamit dulu ya semuanya," jawab Eza kemudian pamit, diikuti Wardah di belakangnya


"Mas ke kamar mandi dulu Ay, biar ndak ngantuk lagi," ujar Eza. Wardah mengangguk tanda setuju.


Ia memilih untuk duduk di lobi sembari menunggunya. Ternyata di luar sana masih ada beberapa wartawan. Benar-benar pekerja keras mereka itu. Dari pagi hingga sekarang masih setia.


Eza kembali dengan tetesan air dari rambut dan bulu matanya. Menambah kesan ketampanannya saja. Apalagi dengan lengan kemeja yang dilipat itu. Otot-otot kekarnya membuat para wanita melongo.


"Ayuk Ay," ajak Eza. Wardah masih terbengong melihat penampilan Eza tanpa beranjak sedikit pun.


"Ay? Ada apa di wajah Mas?" tanya Eza sembari mengusap wajahnya.


"Astaghfirullah!" nggak ada apa-apa Mas..." jawab Wardah gelagapan.


"Terpesonaaa, akuu terpesonaaa, memandang-memandang wajahmuuu yang maniiisss," goda Eza menyanyikan sebuah lagu.


"Maasss! Akunya maluuu," jawab Wardah memasuki lift.


Keluar dari lift, ternyata beberapa wartawan ada yang sudah standby di sana. Sontak mereka mengejar Eza dan Wardah di depan lift. Wardah diarahkan Eza di belakang punggungnya.


"Takut Mass," lirih Wardah.


"Hallo! Kondisikan mereka semua! Berapa kali saya bilang? Nanti akan ada saatnya saya klarifikasi semuanya!" tegas Eza yang kini sudah menutup kembali pintu lift. Mereka kembali ke lobi menunggu para wartawan itu enyah.


"Kita turun sekarang ya?" ajak Eza.


"Udah nggak ada orang-orang tadikan Mas?" tanya Wardah.


"Insyaallah nggak ada, kan ada Mas," jawab Eza.


Barulah mereka kembali ke basemen. Melaju dengan pelan melewati para wartawan yang masih berjejer di luar kantor. Mengetok kaca sisi kanan dan kiri berharap si empunya mau membukakan. Tapi tak dihiraukan oleh Eza ataupun Wardah.


Eza menghentikan mobilnya terlebih dahulu di sebuah masjid untuk sholat zuhur. Barulah mereka ke tempat pencetakan undangan. Sudah ada Caca dan Hito di sana. Mereka sebagai juri penilaian undangan nantinya. Hahaha.


Melewati beberapa pilihan yang belum cocok juga dengan kehendak hati Wardah dan Eza, membuat Caca lelah sendiri menunggu mereka. Pasalnya, saat Wardah cocok, Eza tak cocok. Begitu pun sebaliknya. Akhirnya pilihan mereka jatuh pada salah satu undangan yang minimalis dan cantik untuk dipandang. Sengaja tak mencari undangan yang ada fotonya. Khawatirnya nanti diinjak-injak saat sudah selesai acara. Kan kasihan wajah cantik dan tampannya Eza. Syukurlah Caca dan Hito juga setuju dengan undangan ini.



Monggo silahkan memberikan sumbangan kepada Wardah dan Eza berupa vote, like, komen, Bintang, dan share. Maafkan Lhu-Lhu juga yang baru up karena mengurus persyaratan tugas akhir.....

__ADS_1


Jangan lupa untuk kondangan. Sumbangannya juga jangan lupa. Bismillahirahmanirahim. Sebentar lagi mereka akan sah.


...Bersambung...


__ADS_2