Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Lamaran Cak Ibil


__ADS_3

Kisah cinta Wardah dan Bang Fadhil masih terus berlanjut. Bahkan membuat Ustadz Zainal patah hati. Ustadz Zainal kembali ke kampung halamannya. Alasannya untuk menenangkan diri. Ih iya! Wardah pernah dilamar Ustadz Zainal secara langsung. Dan Wardah menolak dengan halus. Alasannya masih ingin melanjutkan sekolahnya. Ustadz Zainal memahami, walau sebenarnya ia tahu jika pujaan hatinya mencintai ponakannya. Yaitu Bang Fadhil.


Hingga akhirnya, setelah perkemahan selesai sikap Bang Fadhil berubah. Ia lebih sering membuang muka dari Wardah.


"Wardah, kemarin aku lihat teman fb ku memajang foto Bang Fadhil." Ujar Nana mantan pacar Bang Fadhil yang tiba-tiba duduk di samping Wardah.


"Aku beneran, aku gak bermaksud memprovokasi," Sambungnya.


"Iya, terima kasih, terserah dia mau ngapain, aku gak ada apa-apa sama Bang Fadhil." Jawab Wardah dengan tenang.


.


.


"Aku udah tanya sama Bang Fadhil. Katanya memang benar, dia pacaran sama santri dari pesantren Al-.... " Ujar Anisa di kamar mereka.

__ADS_1


Tetesan bening keluar tanpa perintah. Deras, dengan sangat deras. Bahkan kini Wardah sesenggukan. Ia juga heran pada dirinya. Kenapa harus nangis? Toh dia gak ada hubungan apapun dengan Bang Fadhil. Anisa memeluk Wardah dengan erat. Sangat erat.


.


.


.


Wardah sama sekali tak ingin berhubungan dengan lelaki. Ia hanya sekedar mengagumi biasa. Hingga sesosok pria datang sebagai Asatidz baru pesantren ini. Lelaki single, gagah, dan tampan pastinya. Disini, peran Wardah sebagai kantor pos antara Cak Ibil dan Anisa. Ya! Ustadz baru itu bernama Muhammad Aibil Abqari. Beliau datang ke pesantren saat Wardah dan Anisa kelas 3 Aliyah. Ustadz baru berani-beraninya langsung kepincut pada sang sahabat.


Acara mak comblang itu usai disaat sang sahabat pindah berkuliah di tempat lain. Empat tahun lamanya Wardah mengabdi di pesantren sekaligus berkuliah selama di Universitas dekat pesantren. Hingga lulus S1 Sarjana Ekonomi.


Di saat tengah libur semester, tiba-tiba datanglah Cak Ibil bersama Abah Kyai ke rumahnya. Pasalnya ia hendak menghadiri acara pertunangan resmi sahabatnya. Jadilah Wardah membatalkan keberangkatannya.


Yang lebih mengejudkan! Abah Kyai datang perihal melamar Wardah untuk Aibil!

__ADS_1


Lelaki yang dulu ia bantu untuk menaklukkan hati Anisa, kini malah melamarnya. Wardah memang tak mencintainya. Tapi, bukankah akan sangat beruntung memiliki suami berilmu seperti beliau. Bunda tak membutuhkan waktu lama untuk memutuskan hal itu. Beliau langsung menyetujuinya. Apalagi hal ini diperantarai oleh Abah Kyai.


Lamaran tepat saat sahabatnya bertunangan. Awalnya Wardah akan berangkat ke rumah Anisa, karena mendapat kabar jika Umi dan Abah Kyai akan berkunjung, ia tak jadi berangkat.


Wardah sempat berbincang sebentar dengan Aibil. Tutur katanya yang lembut tapi tetap tegas, dan perlakuannya yang baik begitu meluluhkan.


Wardah benar-benar tak menyangka, partnernya sebagai abdi ndalem, menjadi jodohnya. Seseorang yang dari dulu ia tahu bahwa menyukai sahabatnya, ternyata kini akan menjadi suaminya.


"Njenengan benar-benar sudah tidak mencintai Anisa?" Tanya Wardah lirih.


"Anisa sudah akan menikah, jangan dibahas lagi. Kita susun rumah tangga kita nantinya agar bisa bermanfaat, diridhoi, sakinah, mawaddah, warahmah," Jawabnya dengan tegas.


Lamaran yang sungguh sangat sederhana. Tanpa ada persiapan apapun. Karena Wardah pikir hanya sekedar kunjungan silaturrahim. Tak tahunya malah membawa Cak Ibil beserta keluarga.


Pernikahan mereka akan dilaksanakan dua bulan lagi. Itu berarti sebulan setelah terselenggaranya pernikahan Anisa dan Farhan. Sembari menunggu waktu itu tiba, Wardah dan Aibil masih tetap membantu di pesantren. Selama di pesantren, seolah tak terjadi suatu apapun. Mereka berjalan seperti biasanya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2