Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Empat


__ADS_3

Malam harinya, setelah selesai makan malam yang canggung, bahkan saking canggungnya makanan terbaik yang diriku masak bisa terasa hambar di lidah. Aku mengurung diri dikamar setelah makan malam, sambil melukis semari aku memikirkan tentang tawaran pekerjaan dari pak Yuki tadi siang.


Aku tidak tahu apa ingin ku lukis. Aku menggoreskan kuas ambil mengungkapkan gambaran isi hatiku yang berwarna biru kelabu saat ini. Seketika terlintas di benakku untuk menggambarkan anak yang bertutur kata sampan dan menghadap ke arah langit yang berwarna ungu kelabu. Di sinari dengan cahaya rembulan purnama dan dihiasi oleh bintang-bintang serta terpantul sempurna di permukaan air laut. Aku tidak tahu apa maksudnya, aku hanya menggambar apa yang ada dipikiranku dan apa yang diungkapkan oleh hatiku saat ini.


Beralih ke gambar berikutnya, aku ingin melukis kota Tokyo di malam hari. Dan aku melihat panduan gambarnya dari internet. Aku tidak tahu apa maksudnya, aku melukisnya hanya karena keinginan saja. "Aku tidak mengerti dengan diriku" ucapku sambil membaringkan tubuh di atas tempat tidur dan memikirkan lagi tentang tawaran pak Yukimura.


"Ambil tidak ya?" mengingat apa yang dikatakan Lina ada benarnya juga tentang masalah diri sendiri. Aku mau tapi aku ragu. Aku berpikir panjang kali lebar. Dan tidak lama aku memutuskan untuk mengambil saja dulu apa yang ditawarkan oleh pak yukimura. Sekalian aku mempromosikan lukisan-lukisan ku di tempat baru nanti. "Ucapku sambil tidur karena lelah berpikir.


Keesokan harinya, sang benda kuning sudah berada di atas langit memancarkan cahaya yang sangat terang. Aku selesai membereskan diri dan bersiap untuk pergi ke kantor pak Yuki untuk menerima tawarannya, dengan rambut berkuncir satu ala ekor kuda dan poni selamat datang. Mengenakan kemeja putih lengan panjang dengan rok hitam sebatas lutut serta beralas kaki kan sepatu fals yang aku kenakan kemarin sewaktu berangkat dari kota asalku Nagoya. "Yos aku sudah selesai." ucapku dalam hati sembari meyakinkan diriku dalam cermin. Usai semuanya selesai aku berangkat menuju ke halte bus yang tidak jauh dari rumah Lina.


Lina tidak dapat menghantar kau karena masuk kerja. Jadi aku serba mengandalkan smartphone dan internet petunjuk arah atau maps... Tidak lama menunggu, busnya rutenya melewati kantor pusat Zi Long restoran akhirnya datang titik aku langsung saja naik, men-scan kartu bus milikku dan duduk di kursi paling belakang nan kosong di dekat jendela.


Selama perjalanan berlangsung, aku hanya diam dan memperhatikan sekelilingku. Sesekali melirik kearah smart phoneku dan mengecek berkali-kali Google map. Karena diriku takut sekali kesasar.


Setelah beberapa saat kemudian aku melihat handphone milikku untuk yang kesekian kalinya. "Akhirnya rute tujuanku sudah di depan mata." usah turun dari bos aku langsung berjalan beberapa meter agar sampai ke tempat tujuan.


"Wow. besar sekali." ucapku begitu setelah melihat restoran pusat Zi Long sudah di depan mata aku sedikit takut, kakiku gemeteran dan tanganku terasa dingin namun berkeringat titik aku menelan ludah dan mengembuskan napas panjang. begitu masuk ke ma aku langsung meminta bantuan kasir untuk mengantarku ke kantor pak Yuki. "Ibu, berhubung pak Yuki hari ini tidak masuk ke mama jadi saya antar ke kantor pak Gilbert aja ya, tangan kanannya pak Yuki atau wakil pak Yudi. "Ucap salah satu staf yang disuruh untuk mengantarkan ku.


"Baiklah, kalau memang sudah begitu apa boleh buat. "Ucapku sambil mengikuti langkah karyawan tersebut dari belakang. dan beberapa saat kemudian... karyawan itu berhenti dan melihat ke arahku. "Kita sudah sampai Bu" ucapnya titik Aku berusaha untuk tetap tenang, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya.


"Permisi pak" ucapku sambil mengetuk pintu.


"Siapa ya?" ucap seseorang dari dalam yang mungkin itu pak Gilbert.


"Dina Batavya pak"ucapku dari belakang pintu dengan suara yang cukup keras dan tutur kata yang lembut.


"Oh ya. mari silakan masuk." ucapnya lagi dari dalam.

__ADS_1


Aku berjalan masuk ke dalam kantornya pak Gilbert dan tidak lupa berterima kasih pada staf yang membantu aku tadi.


"Permisi pak." ucapku sambil tersenyum lebar. menunjukkan gigiku yang putih titik putih seperti susu.


"Ya iya silakan. silakan duduk. "ucapnya sambil mengambil beberapa berkas.


"Ini berkas yang dititip oleh pak Yuki. Ada beberapa yang harus kamu isi. "Ucapnya sambil menyerahkan 3 lembar dokumen pada aku.


Aku menerima semua dokumen itu dengan tersenyum lebar dan berusaha agar terlihat tetap tenang dan ideal. Dokumen pertama berisikan tentang syarat-syarat yang harus dipatuhi oleh staf sesuai dengan SOP perusahaan. Dokumen kedua berisikan gaji pokok serta service bulanan. Dan dokumen yang ketiga berisikan lembar biodata yang harus diriku isi secara manual. Melihat ketiga dokumen tersebut, rasanya aku ingin sekali menggaruk kepalaku. Bukan karena kutu, tapi karena semua bahasa yang digunakan merupakan bahasa Inggris. "Kalau sudah begini mau bagaimana lagi? kerjakan yang mudah-mudah dulu deh, nanti yang sulit menyusul." Batinku semari menerjemahkan tulisan tulisan tersebut di dalam otakku.


beberapa saat kemudian kok ma aku selesai mengisi semua dokumen, termasuk juga tanda tangan titik aku merapikan semua dokumen tersebut dan mengembalikannya ke pak Gilbert dalam keadaan rapi titik k Gilbert yang sedari tadi sibuk dengan komputernya sesaat berhenti dan memeriksa dokumen yang kuberikan.


"Baiklah, semua sudah terisi titik bisa pinjam ID card?"


Aku langsung mengeluarkan ID card ku dari tas kecilku dan memberikannya kepada pak Gilbert. Selang waktu yang singkat...


"Baik pak." ucapku menahan senang.


"Selamat bergabung. Kalau ingin bertanya silahkan. Kalau tidak ada apa-apa lagi saya mohon tinggalkan saya, saya masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." ucap pak Gilbert.


......................


Sepanjang perjalanan pulang aku selalu tersenyum girang kesenangan sampai aku lupa nama halte tempat aku naik tadi sebelum berangkat. Untungnya, disaat-saat terakhir aku ingat dan tiba di rumah dengan selamat. Mengingat sebentar lagi Lina dan suaminya pulang aku menyiapkan makan malam untuk mereka. Sesudah itu aku langsung membersihkan rumah Lina yang sangat besar, membuatnya kilap semengkilap mungkin dan wangi sewangi mungkin bahkan bila perlu menghabiskan 50 Liter karbol pembersih.


Selesai membersihkan semuanya, dan memastikan semuanya bersih dan mengkilap serta harum. Tiba-tiba saja tercium aroma tidak sedap di hidungku, aromanya seperti bau keringat asem. Dan lekas aku menyadari itu adalah diriku yang belum mandi.


Usai menyimpan semua perlengkapan yang aku keluarkan aku langsung berlari kecil menuju kamar mandi yang ada di kamarku lalu berendam untuk beberapa menit di Bath tub.

__ADS_1


Setelah 15 menit kemudian aku keluar dengan keadaan rambut yang basah karena keramas. Aku mengeringkannya menggunakan kipas angin yang ada di kamar. Seketika terlintas di pikiranku untuk melukis sesuatu dengan keadaan yang begitu segar. Sambil mengeringkan rambut yang lembab aku menyiapkan alat dan bahan untuk melukis. Ketika semuanya siap Aku langsung mengambil posisi membelakangi kipas angin yang kubiarkan menyala untuk mempercepat pengeringan rambutku.


Ide yang terlintas di pikiranku kali ini adalah anak kecil yang berteduh dibawah pohon besar dan rindang sambil memainkan seruling di kala bukit-bukit dengan bunga tulip yang bermekaran dan bergoyang karena hembusan angin. "sungguh sangat indah" batinku ketika tatapanku terkunci senang pada karyaku yang telah terlukis indah di hadapanku.


Aku meninggalkan begitu saja lukisan di dekat jendela yang tertutup rapat dengan naik Kartini yang berwarna oren manis. Aku langsung menjatuhkan badan pada kasus tidur yang empuk menimpa rambutku yang basah dengan keadaan tergerai titik rasa senang yang berlebih membuatku tidak bisa menutup mata ingin beristirahat karena badanku sudah terlalu lelah untuk melanjutkan cerita hari ini. Aku berbaring sepanjang waktu dengan berbagai gaya tapi sayangnya semua nihil. Terakhir, aku mencoba menghitung domba sembari menatap asbes putih yang ada di atasku detik entah di menit keberapa dan hitungan ke berapa aku sudah tertidur pulas.


...****************...


Keesokan paginya, kesadaranku mulai terbangun perlahan. Aku merasakan perutku yang berat seperti ditimpa oleh batu. Perlahan-lahan aku membuka mata dan melihat dengan buram ada benda putih di atas perutku. Spontan aku mengucek mataku beberapa kali dan melihat dengan jelas ternyata itu adalah mochi. Kucing kesayangan peliharaan Lina. Mochi merupakan kucing anggora berbobot besar, berbulu putih dan lebat, selalu lembut dan selain itu, mochi juga memiliki mata yang menarik, sebelah matanya hijau dan sebelah lagi matanya kuning emas.


Aku perlahan-lahan duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur, mengelus kepala Mochi yang diam menggembol di perutku. Seketika rasa aura semangat lebih dari diriku mengurang perlahan begitu juga dengan rasa grogi yang aku rasakan untuk hari pertama kerja setelah mengelus bulu-bulu mochi yang lembut dan indah. Belum puas aku mengelus, Mochi langsung beranjak dari perutku menuju ke gorden, menggigitnya dan menariknya ke sisi kanan jendela. Aku terkekeh menatap kelakuan Mochi, masa itu Mochi langsung berjalan dengan anggunnya ke arah sinar mentari pagi yang berhasil masuk dari kaca kaca jendela. Bulu bulu boci mengkilap setelah terkena cahaya. Kilaunya melebihi mutiara dan putihnya melebihi salju. Mengambil ancang-ancang lalu mochi melompat ke arah sisi jendela. Duduk dengan rapi badannya tegap, ekornya menggantung, dan menatap ke arahku. Aku tertawa kecil melihat kelakuan Mochi "ternyata secantik ini ingin dilukis." ucapku sambil menggeram kedua sisi kepala mochi. Dia hanya mendengkur dan mengeong sekali namun nyaring.


Aku mulai melukis Mochi yang memalingkan pandangan ke arah luar jendela. Beberapa saat kemudian, di penghujung akhir gambarku titik Lina datang dengan panik dan membuka pintu kamarku dengan kasar. "Apa kau melihat Mochi?" ucapnya dengan suara besar dan panik. Aku kaget dan terangkat sedikit di tempat dudukku sementara mochi juga kaget namun memberikan pandangan acuh tak acuh pada Lina yang lega melihat mochi, kucing kesayangannya masih ada.


Aku hanya tersenyum kecil melihat kelakuan Lina dan sedikit menambahkan kupu-kupu biru yang datang ingin hinggap ke arah mochi dalam lukisanku.


"Eh say! lukisanmu bagus loh, banyak, dan juga cantik. Nggak ada niat untuk dipromosikan?" ucap Lina menggendong mochi dan berjalan ke arahku.


"Sudah kok, aku promosikan di akun sosial media milikku, yang memberi like banyak tapi yang beli belum ada sampai sekarang." Ucapku semari meletakkan palet dan kuas yang aku pegang.


"Ih, cantiknya, ini Mochi ya? ... sama aku ya! "ucap Lina setelah melihat lukisan moci yang baru aku selesaikan.


"Dirimu mau? ya sudah ambil saja." ucapku


"Serius?"


Aku menganggukan kepala dan Mochi mendengkur kencang dan mengeong dengan nyaring. Kami berdua tertawa sambil mengelus mochi.

__ADS_1


__ADS_2