Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Berulah


__ADS_3

Seminggu sudah Bunda ada di Jakarta. Selama itu pula Mama yang mengajak Bunda berkeliling seantero Jakarta. Tapi hari ini Bunda malah menggantikan posisi Alif yang sering ikut ke kantor. Ulah siapa lagi kalau bukan Eza yang mengajak Bunda. Eiittss! Alif masih tetap ikut ternyata. Semakin banyak pengikut Eza kali ini. Tapi Alif ikut Wardah ke ruangannya.


Eza tak ada rapat hari ini. Ia hanya perlu mengerjakan tanggungan di ruangannya saja. Makanya ia mengajak Bunda, agar sekaligus menemani Bunda mengobrol. Bunda tampak mengeksplor ruangan Eza. Dan perhatian Bunda tertuju pada perpustakaan mini di ruangan itu. Bunda memang suka membaca. Dan ternyata itu menurun kepada Wardah. Di rumah, Wardah juga menyiapkan ruang baca. Khusus buku kumpulannya, Bunda, Kak Yusuf, dan sang Ayah ketika masih hidup.


Sang Ayah yang menjabat sebagai dosen, kemudian sang Bunda yang suka membaca, semuanya menurun pada kedua anaknya.


"Wardah kerjaannya apa saja Za?" tanya Bunda.


"Wardah sekarang menjadi presenter Bun... Selain itu juga menyiapkan naskah-naskah berita untuk liputan juga. Wardah diminta jadi presenter aja nggak mau, tetap mau ngambil posisi editing naskah," jawab Eza.


"Hahaha, anak itu dari dulu pengen banget kerja di kantoran... Biarkan dia merasakan impiannya dulu Za, setelah kalian menikah, Bunda serahkan sepenuhnya pada kamu untuk membimbingnya,"


"Insyaallah Eza tidak akan mengecewakan Bunda, Kak Yusuf, dan Ayah tentunya," jawab Eza.


Cklek!


"Assalamu'alaikum" sapa Alif yang tiba-tiba masuk.


"Waalaikumussalam," jawab Eza dan Bunda.


"Kak! Minta uang dong, Kak Wardah ngajak ke kedai es krim," rengek Alif.


"Kak Wardah yang ngajak, atau kamu yang ngajak?" selidik Eza.


"Hehehe, dua-duanya. Kak Wardah lupa nggak bawa dompet... Jadi nyuruh Aku minta Kakak," jawab Alif dengan meringis.


"Nih!" sebuah kartu debit ia berikan pada Alif.


"Pinnya?" tanya Alif.


"Kamu kasih Kak Wardah aja, nanti Kakak chat ke Kak Wardah... Ntar kamu colong lagi, kalau Kakak kasih tahu sama kamu," jawab Eza.

__ADS_1


Dengan sedikit ngedumel, Alif keluar dari ruangan Eza. Tak lupa ia menyapa Bunda terlebih dahulu.


Wardah sudah turun terlebih dahulu. Karena ia hendak ke kamar mandi sebentar.


"Wardah?" panggil seorang resepsionis.


"Iya Mbak?" tanya Wardah.


"Ada yang nyari kamu tadi. Karena dia belum membuat janji dulu, jadinya nggak aku bolehin. Pas aku suruh telepon kamu, nomornya nggak bisa lagi katanya," ujar Mbak-mbak itu.


"Siapa Mbak?" tanya Wardah penasaran.


"Lupa siapa tadi namanya. Kayaknya masih ada di taman kantor deh," jawab Mbak itu.


"Terima kasih ya Mbak,"


Wardah segera keluar untuk menghampiri taman kantor. Siapa gerangan yang ingin bertemu dengannya? Ia memang sempat ganti nomor saat awal bekerja di kantor ini. Ia ingin memulai hidup baru, makanya ia mengganti nomornya. Untuk membuang kenangan pahit.


Orang itu! Untuk apa dia ke sini? Wardah memilih untuk putar arah.


"Wardah?" panggil Cak Ibil menghampiri Wardah. Wardah secara spontan mundur dengan sendirinya.


"Pliis, saya mohon... Saya ingin berbicara dengan kamu. Sebentar saja," lirihnya sembari menghampiri Wardah.


"Maaf nggak bisa Cak, takut nanti jadinya malah fitnah... Permisi, Assalamu'alaikum," pamit Wardah.


Percayalah saat ini Wardah tampak tremor. Ia takut melihat wajah Cak Ibil. Wardah berbalik hendak pergi. Ternyata ada Eza menghampirinya. Ada Alif juga di belakang Eza.


"Mas, Adek nggak tahu kalau,"


"Syuuth, Mamas tahu..." potong Eza.

__ADS_1


Eza memegang pergelangan baju Wardah mendekati Cak Ibil. Sontak jemari Wardah sebelahnya mencengkram lengan jas Eza. Sedangkan Cak Ibil tampak menatap hal itu dengan tatapan yang ntah bagaimana itu.


"Assalamu'alaikum, ada perlu apa ya Mas?" tanya Eza.


"Saya perlu berbicara dengan Wardah," jawab Cak Ibil.


"Silakan, asalkan ada saya di sini," ujar Eza.


"Izinkan saya berbincang berdua dengannya," mohon Cak Ibil.


"Maaf, saya tidak mengizinkan. Saya calon suaminya, saya berhak menjaga calon istri saya," sanggah Eza.


Tak beberapa lama datanglah Bunda dengan langkah terburu-buru. Alif mencoba mencegah Bunda, tapi sia-sia sudah. Cak Ibil yang hendak bersalaman dengan Bunda ditolaknya. Bunda mencoba ikhlas, tapi sakit di hatinya perihal Wardah masih membekas.


"Perlu apa lagi? Sudah, cukup sudah kamu menyakiti Anak Bunda dan Bunda sendiri," lirih Bunda dengan penuh penegasan.


"Tolong, jangan ganggu anak Bunda lagi..." lirih Bunda lagi.


Bunda menggandeng Wardah dan segera pergi dari taman kantor. Eza memberikan kunci mobil dengan Alif agar mereka ke mobil.


"Kalau anda ada perlu dengan Wardah, hubungi saya saja. Jangan coba-coba menghubunginya secara langsung. Ini kartu nama saya. Assalamu'alaikum," ujar Eza kemudian meninggalkan Cak Ibil.


...----------------...


Cklek!


Kembalilah Eza ke mobil. Tampak Wardah tersenyum mengisyaratkan jika dirinya tak apa. Eza membalas senyumnya dan mengangguk. Barulah mereka kembali ke apartemen.


"Jangan pernah berhubungan dengan Ibil lagi ya Dek. Bunda selalu saja takut melihat Dedek berhadapan dengan Ibil," pesan Bunda.


"Bunda tenang saja, Dedek sudah dewasa... Dedek tahu mana yang baik," jawab Wardah kemudian memeluk Bundanya.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2