Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Dikit dulu yee


__ADS_3

...Maaf gaess, kemarin ke-up dua kali. Wkwkwk. Padahal Lhu-Lhu 1x klik. ...


Kini Wardah dan Eza sudah siap dengan setelan casual yang serasi antara keduanya. Pilihan Eza memang selalu pass. Eza turun terlebih dahulu untuk menyiapkan makanan untuk Sang Istri. Mansion begitu sepi kali ini. Mungkin semuanya telah berangkat kerja masing-masing.


Bunda? Biasanya Bunda selalu ada di mansion. Eza hanya melihat Si Mbok tengah mengelap Meja ruang keluarga.


"Yang lain kemana Mbok?" tanya Eza.


"Keluar Den, Bundanya Neng Wardah juga ikut Ibu pergi tadi," jawab Si Mbok.


"Tumben nggak ada yang pamitan," gumam Eza kemudian berlalu ke dapur.


Jika yang lain sibuk dengan urusan kerjaan, berbeda dengan Eza. Ia memilih untuk bolos kerja kali ini. Ia sudah berjanji dengan Wardah untuk mengantarkannya menjemput Anisa dan keluarga. Disiapkannya makanan yang masih ada. Mama memang yang terbaik. Eza tak perlu masak lagi, ia hanya perlu memanaskan saja.


"Wuiihhh! Udangnya menggoda ih!" celetuk Wardah duduk di kursi meja makan.


"Pantesan Aku laper banget, nggak tahunya udah jam sebelas," sambung Wardah lagi.


"Terima kasih Sayangnya aku, atas waktu paginya," jawab Eza mengecup kening Wardah sembari meletakkan piring berisi nasi di hadapan mereka.


Wardah tersenyum menimpali suaminya. Akibat ulah Eza, seluruh tubuh Wardah banyak tersebar bercak merah. Beruntung ia mengenakan jilbab. Tapi tetap saja Wardah menutupinya dengan foundesen di area lehernya jika sewaktu-waktu ia membuka jilbabnya.


Sepiring berdua merupakan rutinitas mereka berdua. Kali ini Eza membawa makanan mereka di meja ruang keluarga. Agar bisa duduk lesehan maksudnya. Setelah sarapan sekaligus makan siang, mereka langsung berangkat ke bandara untuk menjemput Anisa dan Farhan. Piring sisa mereka makan, sudah diambil alih oleh Mbak Iin.


Sebelumnya Eza dan Wardah menjemput Dinda terlebih dahulu. Baru saja sang Kakak meminta tolong kepada mereka berdua. Oke! Kita bawa saja krucil ini ke bandara sekalian. Memasuki lingkungan sekolah, Wardah dibuat tak enak sama sekali. Sepasang mata selalu memperhatikan Wardah. Apalagi saat Wardah berjalan ke depan kelas Dinda. Wardah risih sendiri dibuatnya.


“Aunty!” panggil Dinda keluar dari kelasnya.


“Hy sayang, jawabnya gimana kalau ketemu orang?” tanya Wardah.


“Assalamu’alaikum Aunty,” jawab Dinda memeluk Wardah yang berjongkok menyambutnya.

__ADS_1


“Waalaikumussalam,” jawab Wardah sembari menggandeng Dinda.


Wardah berbincang sebentar dengan guru Dinda barulah kemudian mengajak Dinda ke parkiran tempat Eza menunggu.


“Maaf, permisi,” ujar seseorang menghampiri Wardah dan Dinda.


“Iya Pak, ada perlu apa ya?” tanya Wardah.


“Mbak ini Kakaknya Dinda ya? Soalnya biasanya Oma kalau tidak ibunya yang jemput Dinda,” jawabnya.


Wardah bingung sendiri dibuatnya, apa urusannya menanyakan hal itu? Wardah hanya tersenyum menanggapi orang itu. Sepertinya dia salah satu guru di sekolah Dinda. Terlihat dari seragamnya.


“Saya kira tadi mau ngelamar kerja di sekolah ini, hehehe. Eh! Tapi saya seperti tidak asing dengan wajah Mbaknya ya?” ujar Pak guru itu.


“Mungkin tidak sengaja berpapasan Pak,” jawab Wardah yang sudah ingin beranjak.


Sesekali Wardah melihat ke arah Dinda sembari memainkan jemari Dinda.


“Dia istri saya Pak. Dinda keponakan saya,” jawab Eza yang datang menghampiri mereka.


Eza menggenggam sisi jemari Wardah. Memandang permusuhan terhadap laki-laki di hadapannya. Wajah pucat terpampang jelas dari laki-laki itu.


“Mohon maaf Pak Eza, saya tidak tahu,” ujar bapak guru itu.


“Jangan kepo dengan seluk beluk setiap orang. Tidak semua orang senang dengan keingintahuanmu itu,” jawab Eza kemudian menggendong Dinda dan menggenggam jemari Wardah untun meninggalkan orang tak penting itu.


“Itu ciapa Om?” tanya Dinda.


“Itukan gurunya Dinda,” jawab Eza.


“Dinda tidak pelnah puna gulu cepelti itu,” jawab bocah itu.

__ADS_1


Sepertinya Dinda memang terkenal tak hanya dikalangan teman-temannya. Tapi juga dikalangan guru-guru dan pengurus sekolah. Hahaha.


“Jangan tersenyum dihadapan laki-laki lain Ay, aku cemburu,” bisik Eza.


“Masak aku harus cemberut terus sih Mas…” jawab Wardah menimpali Eza.


Wardah terkikik melihat tingkah suaminya itu.


Cup! Satu kecupan mendarat di pipi kanan Eza. Tak perduli mereka ada di Kawasan umum atau tidak. Wardah hanya ingin meredakan amarah suaminya itu. Benar saja, Eza tersipu dibuatnya. Tak disangka sang istri berani melakukan hal itu. Tapi ia juga Bahagia.


“Kak Naya ndak puang?” tanya Dinda setelah masuk ke mobil dengan Wardah dan Eza.


“Kak Naya masih nanti pulangnya sayang,” jawab Wardah memasang selbelt untuknya dan Dinda.


Kini saatnya mereka meluncur ke bandara menjemput Anisa dan Farhan. Sepanjang perjalanan ocehan Dinda yang paling banyak mendominasi. Bukannya Wardah dan Eza tak mengobrol, tapi mereka lebih sering menanggapi pertanyaan absurd dari bocil itu. Maklumlah, bocil ini masih berumur tiga tahun, tak heran rasa penasarannya terlampau besar.


"Om Eja napain pegang tanan Aunty telus?" tanya Dinda.


"Tangan Aunty dingin. Dipegangin biar anget," jawab Eza sekenanya.


Wardah hanya tertawa mendengar jawaban suaminya itu. Setelah sekian lama mengoceh, akhirnya mengantuk juga anak ini. Eza bisa berbincang santai tanpa gangguan bocil.


"Capek Ay? Sini biar Dinda Mas yang pangku," ujar Eza.


"Nggak usah, bentar lagi nyampai juga. Nanti Mas gendong aja Dindanya. Kalau gini nggak capek kok," jawab Wardah.


Setelah beberapa saat akhirnya sampailah mereka di tempat tujuan. Bandara Soekarno-Hatta. Eza mengambil alih Dinda dan membantu wanitanya berdiri. Benar tebakan Eza, kaki Wardah pasti keram. Dipijitnya pelan-pelan sembari menggendong Dinda.


Barulah mereka menuju ruang tunggu mencari keberadaan Anisa dan Farhan.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2