
Wardah dan Eza kini sudah bergabung kembali bersama Anisa dan yang lainnya. Sebentar lagi acara akan dimulai. Eza harus bersiap untuk memberikan sambutan nantinya. Wardah tentu saja kini berfokus kepada Si Kembar di sampingnya.
Hingga kini tibalah di acara yang dinanti Eza, yakni memberikan sambutan. Jika Biasanya ia sendirian menaiki panggung itu, kini ia tak mau sendiri. Eza menggandeng Wardah agar mengikutinya menaiki singgasana penyampaian sambutan. Wardah yang tak tahu apa-apa awalnya menolak, saat tahu dirinya kini menjadi pusat perhatian, ia mengikuti Eza menaiki podium.
Riuhan tepuk tangan menyambut langkah kaki Eza dan Wardah. Wardah terus memeluk lengan Eza menutupi kegugupannya.
"Saya di sini bersama istri saya, sengaja mengajak istri saya agar para hadirin tahu wanita cantik nan anggun di sebelah saya ini adalah milik saya, hahaha," ujar Eza disambung dengan tawa para hadirin. Sedangkan Wardah sudah bersemu merah merasa malu dibuatnya. Spontan ia memukul lengan Eza geram.
"Terima kasih atas kesempatannya untuk menghadiri acara perayaan 5 tahun berdirinya perusahaan tv ini, bla-bla-bla... " ujar Eza memberikan sambutan.
Turun dari podium, Eza mengajak Wardah untuk bergabung bersama Mama dan Papanya yang juga tengah bersama rekan kerjanya.
"Lha kira-kira udah ngisi belum istrinya Za?" tanya Tante Maya kepada Eza.
"Mohon doanya saja Tante, kalau untuk sekarang masih diberi kesempatan untuk pacaran dulu," jawab Eza.
__ADS_1
"Lagian Wardah juga lagi seneng-senengnya meniti karir, tidak usah terlalu buru-buru," ujar Papa.
"Iyaa, toh juga masih sama-sama mudakan ya sayang," sambung Mama mengelus punggung tangan Wardah yang duduk di sebelahnya. Wardah tersenyum mendengar jawaban suami dan mertuanya. Mereka benar-benar menyayanginya. Itulah hal selalu Wardah syukuri.
Acara selesai hampir tengah malam, dan masih berlanjut hingga menjelang pagi dengan hiburan-hiburan yang berlokasi di tempat yang berbeda. Acara dalam gedung ini dikhususkan untuk para tamu VVIP dan kolega utama. Sedangkan panggung hiburan ada di salah satu gor yang dapat didatangi masyarakat umum.
Eza kini sudah menggendong kembar. Lebih tepatnya Si Abang. Sedangkan Adiknya bersama Uminya. Selama perjalanan pulang, Wardah dan Eza ditemani Baby Al. Wardah terenyuh saat melihat Eza dengan bahagianya bermain. Apa Eza benar-benar tak apa jika dirinya belum bisa memberikan momongan? Sebenarnya Wardah tak sanggup mendengar celetukan perihal anak dari orang lain. Justru malah orang tua dan suaminya yang lebih sering membantu menanggapi.
"Ay, kenapa sayangku? Cintaku?" tanya Eza lembut.
"Lagi capek aja Mas," jawab Wardah yang kini menyender di lengan suaminya.
"Yakin cuma capek?" tanya Eza memastikan.
Wardah mengangguk menimpali. Wardah mengelus lembut hidung mungil Baby Al. Sungguh comelnyaaa. Eza merangkul Wardah agar bersandar di dadanya. Beruntung Baby Al sudah terlelap di pangkuan Eza. Di dalam mobil ini hanya ada mereka berdua bersama supir di depan dan Baby Al. Mereka bisa leluasa bermesraan saat ini. Meski tak terlalu, karena masih ada Pak supir dan baby di sini.
__ADS_1
"Minggu depan Mas ada kunjungan di kota Padang, kamu mau ikut Ay?" tanya Eza.
"Emangnya kalau ikut boleh?" tanya Wardah.
"Boleh dong! Kamu ikut yaa, nanti kalau Anisa masih di sini, biar sama Mama dan Bunda," jawab Eza. Wardah mengangguk menimpali. Jangan lewatkan senyuman merekahnya yang sukses selalu membuat Eza terpana.
"Love you Mas," lirih Wardah menengadah melihat ke arah Eza.
Cup!
"Love you more," jawab Eza mencium bibir Wardah.
Betapa bahagianya memiliki suami seperti Eza. Wardah tak akan sanggup jika diminta untuk berpisah, meski hanya sehari.
...Bersambung ...
__ADS_1