Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
H-1


__ADS_3

Sudah dua minggu ini Wardah tak bekerja. Ulah siapa lagi jika bukan Bunda dan Mama. Dua minggu ini pula Wardah diboyong ke mansion Papa Surya. Sedangkan Eza dipindah alihkan ke apartemennya. Mereka bahkan tidak diperbolehkan untuk saling bertemu. Padahal biasanya masa pingitan akan berlangsung selama seminggu sebelum akad nikah, tapi berbeda dengan adat yang dianut Papa.


Eza sudah uring-uringan dibuatnya. Ia ditemani Hito selama di apartemen. Jika Wardah tidak diperbolehkan bekerja ataupun keluar, berbeda dengan Eza. Ia masih diperbolehkan keluar hingga seminggu menjelang acara berlangsung.


🌼🌼


Keluarga besar pihak Bunda dan Almarhum Ayah juga sudah datang di Jakarta sejak kemarin hari. Bukan di mansion Papa, tapi mereka ada di villa milik Eza yang letaknya tak jauh dari lokasi pernikahan mereka nantiya. Tepatnya di daerah Bandung. Minggu depan mereka akan diboyong ke Jakarta untuk berlangsungnya acara siraman untuk Wardah. Sebenarnya di keluarga Wardah tak ada tradisi siraman, akan tetapi Mama bersikeras mengadakan acara ini. Bukan hanya Mama, tapi pihak yang bertanggung jawab dari penyiaran tv juga menekankan untuk mengadakan acara ini.


Mulai dari siraman, pengajian, hingga acara resepsi nantinya akan ditayangkan di stasiun tv millik Eza. Dengan begitu, Eza masih bisa melihat wajah ayu nan manis Wardah. Berbeda dengan Wardah yang sama-sekali tak bisa melihat kekasihnya. Gawai Wardah sudah disita Mama sejak ia diboyong ke mansion. Ini sangat tak adil menurut Wardah, karena Eza masih bisa memegang gawainya, sementara ia tak bisa.


Tepat di hari ini seluruh keluarga sudah berkumpul di mansion Papa Surya. Ya! Acara siraman dilakukan di mansion. Sedangkan beberapa hari yang akan datang dilanjutkan dengan acara pengajian. Wardah telah mengenakan dress yang sangat cantik kali ini. Taman belakang mansion juga sudah disulap dengan nuansa hehijauan khas tanaman dengan paduan bunga-bunga yang indah.



Desain gaun yang dirancang oleh salah satu desainer ternama dari negeri jiran menjadi pilihan Mama. Taburan bunga di seluruh baju bagian lengan dan bagian pinggang ke atas dengan tambahan di sepanjang sisi gaun. Warna ini tentu saja warna pilihan Wardah sendiri.


“Masyaallah, cantiknya Mimi satu ini,” celetuk Anisa menghampiri Wardah yang ada di ruang keluarga menunggu acara dimulai. Anisa membahasakan Mimi untuk anaknya. Atas rekomendasi Eza tentunya.


“Sini sayaang, pengen gendong deh! ” jawab Wardah mengulurkan tangannya mengambil alih gendongan kembar.


Anisa memang sudah sampai di Jakarta sejak dua hari yang lalu. Wardah benar-benar berteman dengan si kembar, karena mereka tak rewel sama sekali. Bahkan selama perjalanan, kata Anisa sang anak tak rewel sama sekali.


"Ututuuu, pinter kali anak ini... Tayang tayang tayang," ujar Wardah menciumi pipi tembem bayi satu ini. Sedangkan anak itu tampak terkikik menanggapinya. Seolah paham dengan ujaran Wardah, ia terus mengoceh.


Jika si Upin bersama Wardah, maka Ipin bersama sang Abi. Farhan juga sudah ikut ke Jakarta. Saat ini ia tengah bercengkrama dengan Papa Surya dan Kak Yusuf. Oh tunggu! Ada Dinda dan Inayah juga ternyata. Dua bocil itu tampak excited untuk mengajak bermain si Ipin atau yang memiliki nama asli Alzain.


Wardah memberikan Arzan kepada Anisa kembali. Karena acara siraman akan di mulai.


"Aku masih nggak habis pikir, nama Upin ternyata sama dengan Mas Eza," celetuk Wardah.


"Itu nama dari Abah Munif, bisa kebetulan gitu sama dengan Eza, hahaha," jawab Anisa.

__ADS_1


Beberapa petuah telah disampaikan oleh Mbah Kung dan Pakde Wawan. Tetua dari keluarga Wardah. Sudah lama Wardah tak bertemu orang tua dari sang Ayah, membuatnya rindu tapi juga canggung. Wardah bersimpuh dihadapan Bunda, Mbah Kakung, dan yang lainnya meminta ridho untuk keberlangsungan akad nikah beberapa hari yang akan datang.


Tangis haru mewarnai pembukaan acara kali ini. Harusnya Ayah yang saat ini duduk di samping Bunda, tapi kini harus digantikan Pakde Wawan.


"Eza kemarin baru saja kembali dari Jombang," ujar Bunda ketika menemani anak gadisnya mengganti pakaian.


"Ngapain Bun?" tanya Wardah kaget. Pasalnya tak ada yang memberitahu mengenai Eza. Setiap Wardah bertanya mengenai keberadaan Eza, pasti jawabannya selalu bekerja di kantor.


"Mengunjungi Ayah, dia ingin mengobrol dengan leluasa katanya... Kalau ada Dedek, dia nggak berani nangis nanti," jawab Bunda.


Wardah saat ini sudah menggunakan pakaian kebaya adat jawa dengan dikalungi oleh bunga-bunga yang dirangkai dengan begitu cantiknya. Caca dan Anisa mendampingi Wardah sembari menunggu gilirannya dipanggil menuju tempat penyiraman.


"Mas Eza sudah kembali ke Jakarta Ca?" tanya Wardah memastikan.


"Sudah, dia lagi dipingit. Ngeyel dianya, padahal Papanya udah ngelarang," jawab Caca.


"Tenang Dah, dia waktu berangkat dikawal ketat kok, hahaha," celetuk Anisa.


Wardah diapit oleh Caca dan Anisa menuju tempat penyiraman. Kata-kata pemanis dari pembawa acara pilihan Mbak Winda menambah kemeriahan acara kali ini. Kemeriahan yang tak melunturkan adat budaya yang digunakan.



Jemari Wardah sampai berkerut menyambut tiap siraman dari orang-orang. Hingga menjelang zuhur, barulah acara selesai yang ditutup dengan pemecahan kendil kecil oleh Bunda. Wardah diberikan handuk kemudian kembali ke kamar bersama Anisa dan Caca.


"Dingin bangeeet," ujar Wardah.


"Iyalah! Diguyur berkali-kali gitu," jawab Caca.


🌾🌾🌾


Acara siraman selesai, esok harinya, tepatnya siang ini, dilanjutkan dengan prosesi pengajian. Seminggu berturut-turut kali ini memang cukup melelahkan. Banyak sekali persiapan-persiapan yang dilakukan.

__ADS_1



Dress yang akan digunakan Wardah juga sudah siap. Wardah baru saja menyelesaikan make upnya. Saatnya ia mengganti pakian. Sejak subuh tadi suara khataman sudah riuh berkumandang di penjuru hotel. Ya! Acara kali ini dilaksanakan di hotel. Dilanjutkan dengan prosesi akad yang akan dilaksanakan di hotel yang berbeda pula.


Wardah seolah menjadi penduduk nomaden kali ini. Ia harus diboyong dari tempat satu ke tempat yang lain. Acara khataman dipimpin langsung oleh Abah Munif dan Abah Fadhoil. Beliau bahkan sampai membawa santri-santrinya untuk ikut andil. Dua bus akhirnya dikerahkan Eza untuk menjemput para santri itu.


Untuk acara kali ini Eza juga ikut andil di dalamnya, betapa senangnya Wardah ataupun Eza akhirnya bisa bertemu. Tapi sayangnya tak sesuai eksoetasi mereka. Ternyata mereka berada di ruangan yang berbeda. Wardah di aula yang khusus perempuan dan begitupun sebaliknya.


"Nampak banget nahan rindu, hahaha," ledek Anisa.


"Iya? Nampak banget apa Ca?" tanya Wardah spontan.


"Iya nampak. Siap-siap aja nanti diledekin Bu Nyai kalau lagi tausiah," jawab Caca.


Wajah Wardah pias seketika. Ia malu, tapi dirinya benar-benar rindu ingin bertemu Eza. Tenang Wardah, tenang... Hanya tinggal satu langkah lagi. Besok kamu sudah halal. Hahaha.


Kini Wardah sudah berada di panggung bersama para Bu Nyai berserta Bunda, Mama, Kak Ina, dan Mbak Winda. Giliran Wardah yang membaca ayat-ayat Al-Quran. Kamera roll terus menyorot Wardah yang membaca dengan bil ghoib (tanpa membawa Al Quran). Suara merdunya yang tak pernah bocor ke media, kini menjadi sorotan hangat.


Para tamu undangan yang hadir terkesima seketika. Selain menjadi presenter, ternyata menantu dari Ibu Sarah ini mempunyai keahlian yang luar biasa.


"Percaya deh, pasti besok bakalan antri panggilan kerja film religi tu orang!" celetuk Caca pada Anisa.


"Iye gua percaya, falid no debat," jawab Anisa.


Acara khataman ditutup dengan tausiah dari Bu Nyai beserta doanya. Barulah selesai setelah sesi foto-foto. Padahal Wardah berharap ketemu dengan Eza, tapi nyatanya tidak sama sekali. Padahal mereka berada di gedung yang sama.


Menghilangi bad moodnya, Wardah menyelimurnya dengan mengajak bermain si Kembar. Setelah acara selesai, Wardah dan yang lainnya langsung beralih ke Kota Bandung. Tentu saja sampai acara resepsi selesai. Lagi-lagi Wardah tak bertemu dengan calon suaminya. Apa Eza menggunakan ilmu menghilang? Wkwkwk


Tak berbeda jauh dengan Wardah, sebenarnya Eza juga mencari kesempatan untuk dapat melihat calon istrinya. Tapi saat keluar dari aula, ternyata Wardah sudah berangkat terlebih dahulu. Walaupun ia membawa gawai, itu tak membantu sama sekali. Eza hanya boleh mengoperasikan gawai jika itu menyangkut pekerjaan. Menelepon Anisa atau Caca pun percuma. Tak ada salah satu dari mereka yang mengangkat. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung menjadi serasa sangat lama. Hendak bermain dengan si Kembar pun tak bisa. Sang Emak sudah membawanya. Sang Bapak malah ikutan dengan rombongan mempelai wanita. Hanya Hitolah yang setia menemaninya.


🌾🌾🌾

__ADS_1


...Bersambung ...


...Ingat yaa! Jangan lupa kondangan untuk para pembaca online Lhu-Lhu! ...


__ADS_2