
Selepas sholat Isya, Wardah sudah berkutik dengan barang-barang yang akan dibawa liburan. Wardah memilah dan memilih pakaian mana yang akan ia bawa. Tiga koper sudah berjejer menanti tuannya memenuhinya. Koper satu yang berukuran jumbo untuk barangnya dan juga Eza. Satu koper sedang digunakan untuk perlengkapan Sakha yang ternyata juga tidak sedikit, dan koper ketiga yaitu koper mini untuk peralatan make-up dan body care dari ujung rambut sampai ujung kaki milik mereka bertiga. Meski sebenarnya yang paling banyak milik Wardah.
“Jangan di serak-serak lagi dong Nak! Buna-kan udah susun rapi-rapi,” ujar Wardah saat melihat Sakha mengeluarkan kembali baju-bajunya yang sudah tersusun rapi.
“Iyaa, Sakha boleh bantuin Buna kok, tapi bukan bantuin yang ini yaa. Sini-sini, kita susun sama-sama!” sambung Wardah lagi yang kini menggotong Sakha untuk duduk dipangkuannya.
Beberapa kali Wardah celingukan mencari keberadaan suaminya. Tak kelar-kelar kalau Sakha ikut riweh di sini. wardah mengambil gawainya untuk menelepon Eza. Betapa geramnya ia saat tahu mendengar nada dering dari ponsel Eza yang ternyata ada di atas nakas. Kemana gerangan suaminya itu?
Tap! Tap! Tap! Tap!
Suara tapak kaki nan tenang mulai mendekat ke arah kamar. Pintu kamar yang tak ditutup oleh Wardah membuatnya masih mendengar aktivitas di luar kamarnya. Muncullah Eza yang dengan santainya menghampiri ibu dan anak itu. Mood Wardah yang sudah sedikit terganggu tadinya, kini mereda saat melihat Eza membawa laptop di tangannya. Ia pikir suaminya tengah bersantai di luar tadi, ternyata tengah bekerja. Eza mengecup kening Wardah dan Sakha bergantian dan duduk di sofa yang tak jauh dari Wardah dan Sakha.
“Wiish, banyak bener Ay bawaannya?” tanya Eza yang baru sadar jika ada dua koper dan satu lagi kecil.
“Kita-kan lumayan lama ke Bandung Nya, jadi harus bawa persediaan yang cukup Mas. Lagian yang lain pasti juga nggak bakal kepikiran buat bawa keperluan urgent, jadi mau nggak mau aku yang harus selektif,” jawab Wardah.
Benar kata Wardah, liburan keluarga besar seperti ini pasti yang paling riweh. Yang lain pasti hanya menyiapkan keperluan umum mereka saja. Sehingga Wardah Lah yang harus membawa obat-obatan hingga keperluan mendesak lainnya. Eza mengambil alih Sakha yang tengah sok sibuk membantu Buna-nya. Padahal sejatinya ia menghambat kerja Wardah. Hahaha.
Eza memangku Sakha sembari bekerja di depan layar laptop yang ia pegang juga. Ternyata Eza ada rapat sebentar mala mini. Mengingat besok ia harus meninggalkan kantor sementara, membuatnya harus menyelesaikan urusan penting hari ini. Eza tipe orang yang tak akan mau mengurusi pekerjaan jika tengah liburan bersama. Eza Juga sudah memasrahkan seluruh pekerjaannya pada orang kepercayaannya.
__ADS_1
Kelar dengan pekerjaannya, Eza menidurkan Sakha. Pantas saja anak itu tak seaktif tadi, sudah lewat jam tidurnya ternyata. Tak membutuhkan waktu lama, hanya beberapa menit Eza mengelus lembut sisi alis Sakha, sudah pulas saja anak itu di pangkuannya. Barulah Eza turun tangan membantu Wardah menata barang yang tinggal sedikit.
Akhirnya selesai juga. Saatnya rebahan di tempat tidur ini mah!
“Enak nih kalau ngopi Ay,” celetuk Eza.
Wardah memutar bola matanya jengah. Kenapa tak dari tadi? Giliran baru saja merebahkan diri malah nyeletuk minta kopi.
“Kopi malam-malam begini? Nggak bisa tidur nanti kamu Mas, besok perjalanan jauh lho. Aku irisin buah aja ya?” Ujar Wardah.
Dari kopi beralih ke buah. Wardah menghempaskan rasa malasnya untuk turun ke bawah. Ntah mengapa badannya jadi cepat capai sekarang. Padahal kegiatannya juga masih sama seperti biasanya. Eza mengikuti istrinya turun. Padahal Wardah sudah bilang jika tak apa sendiri.
Eza memeluk Wardah dari belakang saat sang istri tengah mencuci buah. Andai mereka di rumah hanya berdua, pasti ia akan khilaf dimana pun ruangan yang disinggahi. Eza mendusel di ceruk leher Wardah. Mencium aroma harum manis khas dirinya. Aroma favorit seorang Eza.
“Aku kok ngerasa buncitan ya Mas,” celetuk Wardah.
Eza sontak mengelus perus istrinya. Memang benar, tapi ia belum menjawab. Takut salah atas jawabannya. Bisa berabe nanti.
“Iyaa kan? kamu ngerasa nggak sih Mas?” tanya Wardah lagi.
__ADS_1
Gawat ini! Eza harus menjawab jujur atau bagaimana? Bagaimana caranya menjawab jujur tapi tak menyakiti perasaan Wardah. Ia sendiri tak masalah kalau Wardah mau buncit atau gemuk sekalipun, tapi bisa memperburuk mood nanti kalau salah menjawab.
“Kayaknya memang iya deh Ay, jadi lucu kalau dielus gini,” jawab Eza dengan hati-hati.
“Tuh kan! bener, apa aku diet lagi ya? atau minum teh herbal? Tapi pencernaan aku lancar kok masih buncit ya?” tanya Wardah mulai was was.
“Hey, kamu kenapa sih Ay? Nggak papa biar gini aja, lucu, itung-itung menyesuaikan diri seperti orang hamil. Hahaha,” jawab Eza membalikan Wardah agar menghadap ke arahnya.
“Nggak bisa gitu dong Mas, nanti kalau ada yang tanya ‘udah ngisi ya?’ aku jadi agak sedih,” jawab Wardah.
“huush, nggak boleh sedih dong, udah ada Sakha juga kok. Ya sudah, besok kalau di Bandung kita sambil olah raga biar ramping lagi,” ujar Eza.
Eza membopong Wardah tiba-tiba. Meninggalkan anggur yang sudah siap itu di sana. sepertinya malam ini juga Eza mengajak istrinya olahraga. Olahraga enak tentunya. Hahaha.
...Maaf ya gaess, selama puasa ini Lhu-Lhu cukup syulit mengatur waktu buat update. Kegiatannya hampir full, hehehe....
...insyaAllah hari ini up double deh yaa…. Sore kalau nggak malam…...
...Bersambung...
__ADS_1