Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Rebutan


__ADS_3

“Apa sih Ca? Kemarin baru lamarfan pribadi. Besok kalau lamaran resmi pasti libatin kamu kok! Tenang ajah! Kan yang paham dekorasi kamu,” ujar Eza yang tiba-tiba sudah ada di dapur.


“Awas aja kalau nggak ajak aku lagi!” ancam Caca.


...****************...


"Goolll!" teriak Eza, Alif dan Haris secara bersamaan.


"Huuusshh! Jangan berisik! Bunda lagi istirahat Mas-Mas," geram Wardah, yang juga syok mendengar seruan para laki-laki itu.


Benar dugaannya, tak beberapa lama kemudian keluarlah Bunda dengan muka bantalnya. Segar seketika melihat anaknya bertranformasi membelah diri menjadi 5. Mereka yang ditatap Bunda hanya meringis merasa bersalah.


"Ini ada acara apa? Kok anaknya Bunda nambah banyak?" tanya Bunda.


Caca menghampiri Bunda, Bunda yang lupa-lupa ingat dengan Caca tampak memperhatikan dari atas hingga bawah.


"Ini Caca?" tanya Bunda lagi. Yang ditanya hanya tersenyum dan mengangguk dengan sopan.


"Ya Allah, dulu masih MTS sekarang udah besar banget, tinggi pula, Dedek masih kalah aja tingginya," celetuk Bunda menerima salaman Caca kemudian memeluknya. Diikuti Haris yang juga ikut menyapa Bunda.


"Ini, pacarnya Caca Bun, temannya Eza juga," ujar Caca menjawab tatapan bingung Bunda terhadap Eza.


Bunda manggut-manggut mengerti kemudian tersenyum dan menepuk pelan pundak Haris.


"Jangan mainkan perasaan anak-anak Bunda. Caca ini juga anak Bunda," ujar Bunda.


"Siap tante," jawab Haris. Sontak mereka yang ada di sana tertawa. Pasalnya setiap teman atau orang terdekat Wardah pasti memanggil dengan sebutan Bunda.


"Panggil Bunda saja." ujar Bunda.


"Hehe, siap Bunda," jawab Haris.


...----------------...


Seperti rencana sebelumnya, hari ini Bunda akan diantarkan untuk menemui Mama Sarah. Sementara Wardah dan Eza kembali ke kantor.


"Apa Bunda nggak papa sendirian? Wardah temenin aja ya?" tanya Wardah sedikit khawatir. Ia takut Bunda tak nyaman selama di mansion Orang tua Eza.


"Bunda lebih berpengalaman dari Kamu Dek, tenang saja. Tanggung jawab Dedek di kantor juga penting," jawab Bunda menenangkan Wardah.


"Kan Dedek udah bilang kalau Mama sama Papanya Eza baik banget sama Dedek, jadi nggak usah khawatir," sambung Bunda. Wardah tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Sampai di mansion, Mama sudah menyambut di depan pintu masuk. Sudah seperti penyambut di indomart.


"Akhirnya yang ditunggu datang juga," celetuk Mama sembari menyalami Bunda.


"Assalamu'alaikum," sapa Bunda.


"Wa'alaikumussalam," jawab Mama.


"Ma, Eza sama Dedek langsung ke kantor ya. Jangan dinakalin Bundanya Eza," pamit Eza.


"Hahaha, tenang, paling Mama kamu yang keok kalau nakalin Bunda," jawab Bunda.


"Assalamu'alaikum," pamit Eza menyalami Bunda dan Mama diikuti Wardah.


"Wa'alaikumussalam,"


"Papa di mana Ma?" tanya Wardah.


"Papa udah berangkat, ada sidang siang ini. Jadi harus nyiapin berkas-berkasnya," jawab Mama.


"Nanti siang Mama tunggu di butik keluarga ya Za," sambung Mama.


Alif kemana? Tentu saja ia memilih ikut Eza dan Wardah ke kantor. Tapi kali ini ia mengikuti Eza, tak mengikuti Wardah lagi.


...****************...


Sampai di kantor, Wardah segera menyelesaikan berita yang akan ditayangkan hari ini. Di apartemen ia telah menyelesaikan sebagian, saat ini hanya menyelesaikan sisanya.


"Wuiih! Yang followersnya naik pesat," ledek Mbak Zizi.


"Followers naik buat apa Mbak? Wardah aja nggak tahu," jawab Wardah.


"Kamu buka endors aja Wardah, lumayan dapet cuan," ujar Mbak Nana menimpali.


"Wardah nggak pernah promosiin barang gitu... Nggak tahu jadinya," jawab Wardah.


"Kamu tanya Eza aja, tahu banget dia tuh kayak ituan. Pasti udah banyak yang nawarin endors?" tanya mbak Zizi lagi.


"Lumayan sih mbak, belum ada yang Wardah bales,"


"Eman itu maah," gerutu mbak Zizi dibalas anggukan oleh Mbak Nana.

__ADS_1


Wardah menunggu Eza menyelesaikan rapatnya. Ntah kenapa setiap hari pasti rapat orang itu. Sedangkan Wardah telah menyelesaikan siarannya siang ini. Sembari menunggu, Wardah menyiapkan rundown untuk liputan petang. Bukan tugasnya memang sebenarnya. Untuk mengusir rasa bosannya ia membantu Mas Angga menyelesaikan tugasnya.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamu'alaikum," pucuk dicinta ulam pun tiba. Yang ia tunggu-tunggu dari tadi akhirnya sampai juga.


"Waalaikumsalam,"


"Wardah, pangeran udah datang ituuuu, sana gih!" seru Mbak Zizi menggoda.


Sukses membuat Wardah adem panas berada di posisi ini.


"Jangan gitu Mbak, kasihan tuan putrinya malu," satu pukulan melayang di lengan Eza. Wardah benar-benar malu.


Sampai di mobil Alif sudah ngelipus tertidur di jok belakang.


"Udah tidur aja ni anak," celetuk Wardah.


"Diruangan ramai tadi, jadinya milih ke mobil dia," jawab Eza.


......................


Disisi lain, Mama sudah berada di sebuah pusat perbelanjaan butik keluarga. Mama sengaja mengajak Bunda untuk mendengarkan pendapatnya mengenai gaun yang akan dikenakan Wardah saat lamaran nanti.


Bunda sempat menolaknya, karena ingin anak gadisnya mengenakan gaun hasil rancangan tangan Bunda sendiri. Mama yang baru tahu jika besannya memiliki butik, akhirnya bernegoisasi untuk yang merancang Bunda kemudian dibuat di butik keluarga ini.


Wardah kini tengah berada di antara Bunda dan Mama. Ya! Mereka telah sampai di butik.


"Dedek mau lamaran resmi di Jombang atau Jakarta?" tanya Mama to the point.


Yang ditanya pun hanya melongo tak tahu hendak menjawab apa. Ternyata Bunda juga bersikeras jika diadakan lamaran lagi, harus di Jombang.


"Ma, sepertinya untuk lamarannya di Jombang aja deh. Kan kita meminta Dedek sama keluarganya, masak di Jakarta? Kan biasanya kalau lamaran memang di kediaman perempuan," ujar Eza menengahi. Tampak Bunda tersenyum puas mendengarkan tuturan Eza.


"Mama pengen menghandle semuanya Za," ujar Mama.


"Mama handle sama-sama dengan Bunda. Caca juga mau bantuin. Kemarin dia marah karena nggak diajak juga waktu liburan," jawab Wardah.


"Ya udah, Za kamu ajak Wardah nemuin Kakak kamu sebelum ke Jombang ya. Dia udah ada di Jogja kemarin," ujar Mama mengalah.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2