Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
:")


__ADS_3

"Wardah tadi kemana ya? Kalian tahu gak?" Tanya Bunda yang turun dari tangga.


"Tadi aunty ke belakang Oma!" Jawab sang cucu.


"Makasih sayang," Ujar Bunda mengusap rambut cucunya.


Celingak-celinguk mencari keberadaan Wardah. Dimana anak itu. Cepat sekali jalannya. Ternyata sedang melamun di atas ayunan. Bunda mendekati Wardah yang tampaknya tengah memandangi sawah warga yang kebetulan menjadi view dari ayunan itu.


"Gak baik melamun itu dek," Lirih Bunda yang mengusap pundak Wardah.


Terkejut? Tentu saja. Wardah menoleh sekilas kemudian kembali memalingkan wajahnya.


"Maafkan Bunda dek... Bunda sudah salah memilihkan jodoh untuk anak tersayangnya Bunda dan Ayah," Bunda berjalab ke depan Wardah. Menghadapkan Wardah agar melihat ke arahnya.


Buliran bening menetes dari mata indah Bunda.


"Bunda gak salah kok. Sebenarnya Cak Ibil itu baik Bun... Hanya saja, beliau belum bisa membuka hatinya untuk Wardah... Wardah masih bisa bertahan kok, Wardah akan sabar menunggu," Lirih Wardah yang berdiri dan menangkup pipi Bunda. Menghapus perlahan buliran bening itu.


Wardah menuntun Bunda untuk duduk di bangku yang ada di bawah pohon ntah apa itu namanya. Cukup rindang. Ayah yang membuat bangku yang melingkar di pohon itu dulu. Kini sudah direnovasi oleh Kak Yusuf, agar Bunda tak begitu trauma melihat bangku itu.


"Bunda menyesal dulu memberikan keputusan yang salah,"

__ADS_1


"Bunda gak boleh gitu," Lirih Wardah.


"Bunda menyesal sayang, boleh tidak Bunda meminta dedek untuk menuruti permintaan Bunda kali ini?" Tanya Bunda.


"Dedek akan selalu menuruti permintaan Bunda selagi dedek bisa," Jawab Wardah.


"Mintalah cerai dengan suamimu,"


"Gak bisa Bun!" Tegas Wardah.


"Toloong, Bunda tak ingin anak Bunda sedih terus... Bunda ingin anak Bunda bahagia," Lirih Bunda


"Izinkan Wardah menyelesaikan perjanjian pernikahan 2 bulan... Jika selama 2 bulan Cak Ibil belum bisa membuka hati, Wardah akan ikhlas dilepaskan," Sambungnya.


"Dedek jangan marah sama Anisa yaa... Bunda yang paksa Anisa supaya cerita." Ujar Bunda.


Wardah mengangguk patuh. Wardah berencana akan ke rumah Anisa. Meminta maaf. Betapa terkejudnya Wardah saat Bunda memberi kabar jika sahabatnya itu sudah mengandung. Yang lebih mengejudkan, hamil kembar. Tak sabar rasanya menemui sahabatnya itu.


.


.

__ADS_1


.


Wardah sudah bersiap dengan setelan super simpel handalannya. Ia benar-benar akan ikut Kak Ani dan Kak Yusuf untuk mendaftarkan Inayah ke sekolah SD.


Inayah yang notabenya begitu dekat dengan Wardah, sontak selalu menggenggam tangan Wardah. Maklumlah, membutuhkan waktu lama untuk terus bersabar sehingga dipertemukan saat ini.


"Kakak pengen fotoin kamu dek, cepet gaya! Inayah sini dulu sayang," Ujar Kak Ani sebelum mereka menaiki mobil.


Dengan senang hati Wardah berpose ria tak lupa menunjukkan kesan cute untuknya.



"Kok tiba-tiba pengen fotoin Wardah sih?" Tanya Wardah.


"Foto kamu di hp kakak gak ada. Ntar dikirain Kakak ipar gak akur sama adik iparnya lagi. Hahaha," Canda Kak Ani.


"Tengok kak! Cantik gak akunya?" Wardah merebut gawai kakak iparnya itu.


Oh iya! Kini mereka telah menyusuri jalanan kota Jombang untuk menuju sekolah baru Inayah. Tentu saja dengan Kak Yusuf yang mengemudikan. Wardah mengotak atik gawai Kak Ani sambil berbincang-bincang meladeni ocehan ponakannya itu. Dengan sengaja Wardah memposting fotonya tadi di akun media sosial sang kakak.


...Bersambung.... ...

__ADS_1


__ADS_2