Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Izin


__ADS_3

Bravo! Demi apa! Ini mah seperti iseng-iseng berhadiah. Lamaran yang telah lama dinanti ternyata membuahkan hasil. Awalnya memang hanya iseng-iseng, karena waktu masih mengabdi di pesantren. Kemudian menikah dengan Cak Ibil. Tak mungkin jika diizinkan. Tapi kini setelah mendapatkan panggilan diterima, rasa bahagia kembali menyeruak.


Ini sudah bulan ke 5 setelah lamaran dikirimkan Wardah. Hampir setengah tahun akhirnya membuahkan hasil. Kini yang perlu dipikirkan yaitu meminta izin kepada Bunda. Wardah yakin tak akan mudah bagi Bunda melepaskan anak gadisnya ini.


Aku masih pantas memiliki julukan gadis-kan? Masihlah, masak nggak pulak. Aku ini masih ting-ting Lhu-Lhu....


"Assalamu'alaikum Caca?" Panggilan telepon Wardah tersambung.


"Wa'alaikumussalam Wardah, hey! Gimana kabarnya? Udah lama beut gak kontekan," Jawab Caca, salah satu teman Wardah yang merupakan alumni satu pesantren dengan Wardah dulu.


"Bahasanya udah kayak anak millenial ajah. Alhamdulillah baik Ca," Ledek Wardah.


"Hahaha, ada apa nih? Tumben langsung telphon. Biasanya chat aja," Tanya Caca.


"Aku diterima di perusahaan iklan yang kamu rekomendasiin dulu Ca!" Seru Wardah.


"Seriously? Wooaaahhhhh! Daebak! Kita bakal satu kantor cuy! Uhuuyyyyy! Gak nyangka gua! Kirain lamaran elu udah di depak dari HRD. Hahaha." Jawab Caca dengan tak kalah hebohnya.

__ADS_1


"Aku juga gak nyangka. Udah lama banget. Aku pikir ini email tipuan. Waktu aku cek lagi, ternyata real. Ya aku bingungin, gimana izin ke Bundanya Ca... Aku gak yakin kalau boleh," Lirih Wardah.


"Aman! Nanti gua yang coba bujuk Bunda kamu. Pokoknya harus jadi ke Jakarta. Weekend ini gua ke Jombang jemput elu. Yang sekarang lu pikirin, ngomong sama bumil kembar itu." Jawab Caca meyakinkan.


"Eh! Bunda kayaknya mau masuk, udah dulu ya. Nomor Bunda masih yang lama kok, tolong bujuk. Assalamu'alaikum!" Wardah mematikan sepihak teleponnya.


Benar saja, dengan senyuman yang mengembang Bunda menghampiri Wardah yang kini duduk di sofa kamarnya. Bunda menceritakan semua laporan yang beliau dapat dari Mbak Naura. Gawat ini mah! Ternyata Mbak Naura rutin memberikan laporan.


"Kamu urus butik Bunda ya?" Pertanyaan atau pernyataan. Wardah pun tak tahu. Sebenarnya ia tak ingin kalimat itu keluar dari mulut Bunda.


Ia sama sekali tak ingin mengurus Butik. Ia ingin keluar dari zona nyaman. Mencari apa yang dikehendaki hatinya yang sempat tertunda karena kewajiban lain. Tapi ia tak tega untuk menolaknya.


Oke Wardah! Mantabkan hatimu. Ayo bicara dengan Bunda sekarang!


Wardah mencoba menenangkan diri. Memantabkan hati agar dapat bicara dengan Bunda.


"Bunda tahukan dedek pengen kerja di kantoran," Lirih Wardah dengan menggenggam jemari Bunda.

__ADS_1


"He'em, lalu?" Tanya Bunda kemudian.


"Beberapa bulan yang lalu dedek coba-coba kirim lamaran, lalu sekarang lamaran kerja dedek diterima," Jawab Wardah.


"Bagus dong, terus kenapa ragu ngomong sama Bunda?" Tanya Bunda lagi.


"Lokasinya ada di Jakarta," Jawab Wardah.


Bunda diam seketika. Tangannya sedikit terasa dingin dalam genggaman Wardah.


"Kenapa sejauh itu?" Tanya Bunda akhirnya.


"Dedek sudah coba kirim lamaran di Surabaya, Malang, Solo, bahkan kota Jombang sekalipun. Ada yang diterima, tapi waktu itu dedek masih mengabdi di pesantren. Jadi tak diambil. Apakah sekarang tidak usah diambil lagi Bun?" Jelas Wardah.


Ya! Ia memang banyak mengirimkan lamaran pekerjaan waktu itu. Tapi itu semua murni keisengannya. Ada yang diterima, dan ada yang tak diterima. Berhubung ia masih di pesantren kemudian menikah dengan Cak Ibil, makanya tak ia ambil peluang itu.


...Bersambung.... ...

__ADS_1


...Gimana nih? Kira-kira Bunda ngasih izin gak yaaa..... ...


__ADS_2