Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
-


__ADS_3

...Maafkan Lhu-Lhu yang sudah hengkang beberapa waktu... ...


...Mohon doanya, semoga Lhu-Lhu dan kita semua diberikan kemudahan dalam segala hal. ...


...لنا الفاتحه ...


...Terima Kasih 🙏🙏🙏...


.


.


.


Waktu terasa berjalan dengan sangat cepat. Jika kemarin hari Wardah masih bisa meluapkan kebosanannya dengan para mahasiswa, kini ia hanya bisa sendiri. Para rombongan ziarah sudah kembali ke Jombang. Berbeda dengan Wardah dan Cak Ibil. Mereka masih tetap tinggal di pulau dewata ini untuk menikmati tiket hanymoon.


Tampak Wardah tengah menikmati pemandangan pantai di sore hari ini. Ia sendiri, ya! Tentu saja! Mau sama siapa lagi?


Cak Ibil? Dia ntah kemana.


Pemandangan pantai yang di sewakan khusus. Membuat para pengunjungnya dapat menikmati pemandangan tanpa kebisingan akibat banyaknya pengunjung.

__ADS_1


Deburan ombak dan tiupan sepoi angin laut membuat Wardah tampak rileks sedikit. Cukup untuk mengkesampingkan pikiran yang tengah berkecamuk.


"Sendirian aja Dek?" Tanya seseorang dari arah samping Wardah.


Spontan Wardah terkaget melihat seorang laki-laki berdiri tak jauh darinya. Langsung saja ia menjauh.


"Ndak, saya dengan suami saya," Jawab Wardah.


"Saya permisi, assalamu'alaikum," Pamit Wardah.


"Wa'alaikumsalam," Jawab laki-laki itu.


"Saya bantu ya dek," Ujar orang tadi.


"Tidak usah, saya bisa sendiri. Terima kasih," Jawab Wardah segera.


Berhasil turun, Wardah bergegas kembali ke vila. Wardah memang selalu begitu, takut jika bertemu laki-laki asing.


"Dak dek dak dek, memangnya aku masih kayak anak kecil apa! Jelas-jelas udah nikah! Walaupun gak di anggap sih!" Di tengah perjalanan Wardah terus ngedumel sendiri.


Selalu saja begitu, orang-orang yang baru ditemui pasti mengira ia masih anak kecil. Tentu saja itu membuat Wardah jengkel.

__ADS_1


Sampai di jalanan arah villanya, ternyata Wardah melihat Cak Ibil tengah merokok bersama beberapa pekerja villa. Ya! Kemarin mereka memang sempat berkenalan dengan pekerja Farhan itu.


Bahkan sang suami tak mempedulikan dirinya ada dimana atau tengah melakukan hal apa! Dengan santainya ia berbincang, bercerita, tertawa kikik-kikik!


"Suami kamu di antara mereka berenam?" Tanya seseorang tiba-tiba dari belakang Wardah.


"Anda ngapain ngikutin saya? Permisi! assalamu'alaikum," Wardah berjalan dengan cepat menuju villanya.


Di pantai itu memang terdapat beberapa villa. Salah-satunya merupakan milik dari keluarga Farhan. Beberapa villa memang disediakan untuk pengunjung lainnya. Tapi tidak sembarang orang umum yang dapat mengunjungi pantai ini. Dapat dipastikan jika di buka umum, pasti akan sangat ramai. Karena pemandangannya yang sungguh sangat luar biasa.



"Cantik, aku pikir dia masih anak sekolahan atau masih mahasiswa seperti rombongan yang kemarin," Ujarnya sembari melihat hasil jepretannya kemarin hari.


"Ternyata sudah punya suami, dosa nggak ya kalau aku berdoa semoga ia beralih menjadi jodohku? Hahaha! Nglawakmu kejauhan bro!" Monolognya sembari berjalan ke villa yang ia sewa tiga hari ke depan.


Wardah tampak berdiri termenung memandangi pepohonan hijau yang berjejer rapi di sepanjang pantai di balik balkon kamarnya. Pohon-pohon itu menambah kesan cantik menjadi berkali-kali lipat.


Deg! Laki-laki itu lagi! Dia ada di villa yang bersebelahan. Sedang memandangi Wardah. Apa maunya laki-laki itu! Merasa risih karena dipandangi, Wardah memilih untuk masuk ke kamarnya. Menutup rapat-rapat pintunya serta kelambu yang digunakan untuk menutup kaca transparan itu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2