Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
OTW


__ADS_3

Tiga hari ini Wardah menghandle 2 pekerjaan sekaligus. Yakni menjadi produser acara berita dan menjadi presenter. Tentu saja itu tak luput dari perintah Papa. Jangan heran juga jika sosial media Wardah dibanjiri ribuan followers.


Pulang dari kantor Wardah langsung membereskan barang-barang yang akan mereka bawa liburan bersama bumil. Tak tanggung-tanggung, Eza mengambil cuti seminggu bersama Wardah.


Wardah membereskan barang-barangnya terlebih dahulu, kemudian ia bawa ke apartemen Eza. Agar lebih mudah kata Eza. Tak tahu jika itu hanya modusnya saja.


Gawai Eza berdering ketika Wardah sibuk membereskan barang-barang Eza. Wardah memang tengah menggunakan gawai Eza untuk mendengarkan lagu-lagu. Sudah macam ibu negaranya saja, Wardah menyiapkan barang bawaan Eza.


"Mas, ada telepon nih!" ujar Wardah.


"Siapa?" tanya Eza.


"Nggak tahu, nomor baru pun," jawab Wardah sembari melongok ke gawai Eza.


Eza menghampiri Wardah dan mulai mengangkat telepon. Suara perempuan, tapi tak asing bagi Eza. Semacam pernah mendengarnya.


"Hallo, assalamu'alaikum," sapa perempuan itu pada Eza di sebrang telepon.


"Waalaikumsalam, maaf dengan siapa ya?" jawab Eza dan bertanya kembali.


"Kak Eza? Ini Husna," ujar Husna lirih. Ternyata anak itu. Eza pun tak tahu ia mendapatkan nomornya dari mana.


"Oh, iya dek? Ada apa? Ada yang bisa dibantu?" tanya Eza.


"Ndak kak, cuma mau tanya, Kakak jadi ikut Kak Farhan liburan?" tanya Husna lirih.


"Insyaallah jadi dek, besok insyaallah berangkat," jawab Eza. Pasti ini ulah Anisa atau Farhan. Mereka pasti menggunakan Husna untuk bertanya memastikan keberangkatannya. Pikir Eza.


"Mas, untuk cemilan dan bodycare aku gak ada yang ukuran mini traveling," ujar Wardah. Sepertinya terdengar oleh Husna di seberang telepon.


"Itu siapa?" tanya Wardah lagi.


"Udah siap semua? Yang itu kita cari aja nanti di supermaket! Oh ini, Husna, nanyain kita berangkat kapan," seru Eza pada Wardah.


"Husna?" panggil Eza.


"Eh! Iy-iyya Kak, itu tadi Kak Wardah ya?" tanya Husna.


"Iya, itu tadi Kak Wardah, mau ngomong dengan Kak Wardah-kah?" tanya Eza balik.

__ADS_1


"Emm, nd..." ujaran Husna terpotong.


"Assalamu'alaikum Husna?" sapa Wardah dari seberang telepon.


"Emm, wwaa'alaikumussalam Kak," jawab Husna gugup.


"Gimana dek?" tanya Wardah.


"Eh, nggak gimana-gimana Kak, hehehe" jawab Husna bingung.


"Kak, kakak satu rumah sama Kak Eza?" lirih Husna.


"Hahaha, ya nggaklah dek, aneh-aneh aja kamu ini." sontak Wardah terpingkal mendengarkan tuturan Husna.


"Kakak cuma nyiapin barang-barangnya aja, biar besok sekalian berangkat," jawab Wardah.


"hehehe, ya udah kak, Husna dipanggil Bunda," alasan Husna.


"Oke, titip salam buat Bunda dan yang lain ya," jawab Wardah.


"Iya kak, assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam,"


"Kak Wardah, aku boleh ikut yaaa.... Pliiisss, nanti nggak bakalan gangguin kok, pliiisss!" adu Alif yang tiba-tiba menghampiri Wardah.


"Ngomong sama Kakak kamu itu, kakak aja dibayarin, hahaha," jawab Wardah.


Sontak Alif menghampiri Eza yang baru saja meletakkan gawainya. Melendet dengan manjanya, tapi sukses membuat Eza geli. Wardah terkikik melihat mereka.


"Kaaaakk," rengek Alif.


"Terpaksa gini, biar dapet jatah liburan," gumam Alif.


"Tanya Kak Wardah sana, nanti kalau boleh pesan tiket sendiri, biar Kakak yang bayar," jawab Eza kemudian beranjak ke kamarnya.


"Kak Wardah, bantuin Alif dong... Alif pengen ikut refreshing," ujar Alif pada Wardah.


"Apa untungnya kalau Kakak bantuin kamu?" goda Wardah.

__ADS_1


"Hallah, malesin ah! Kak, jangan gitu laaah. Kitakan satu geng," ujar Alif.


"Iya, pesan sana, yang bayar juga Kakak kamu, bukan Kakak," jawab Wardah.


"Yes! Kakak memang terbaik! Boleh nih nanti pajang di IG, biar temen-temen pada pengen," ujar Alif.


"Dasar, nggak boleh pamer gitu," celetuk Wardah.


"Hehehe, canda kak,"


...****************...


Siang hari, tepatnya setelah sholat zuhur Wardah bersiap untuk berangkat ke bandara. Ia berangkat dari kantor, setelah menyelesaikan liputan siang. Alif sedari pagi sudah mengikutinya kemana-mana.


Dari pagi menyelesaikan naskah, Alif menunggu duduk di sampingnya. Hampir semua orang di divisi news bertanya siapa gerangan laki-laki yang bersama Wardah. Orang-orang memang tahu jika seorang Eza memiliki adik, tapi tak banyak yang sudah tahu siapa adik Eza. Wajar saja jika mereka tak mengenal Alif.


"Saya Alif mbak, adiknya Kak Wardah," jawab Alif.


Wardah memutar bola matanya jengah. Bisa-bisanya anak itu menggunakan namanya sebagai title Kakak. Dari segi wajah saja tak mirip. Boro-boro wajah, dari postur tubuh saja dirinya kalah jauh dengan anak abg itu.


"Punya adik kamu ternyata Dek, ngikut ke siapa kamu kok nggak tinggi kayak Alif, hahaha," ujar Mbak Zizi.


"Nggak boleh body shaming Mbak," gerutu Wardah.


.


.


.


"Ayo dek sholat zuhur! Habis itu langsung berangkat ke bandara," ajak Wardah.


Kembalilah Alif mengikuti Wardah ke mushola kantor. Sudah macam buntut saja anak itu.


"Jangan di belakang kakak," sudah berulang kali Wardah mengingatkan Alif.


"Iya-iya, siap boss!" Mulailah Alif berjalan di samping Wardah.


Kunci mobil Eza dibawa oleh Wardah. Eza masih ada rapat, jadi kunci mobilnya ia berikan pada Wardah agar bisa menunggunya di mobil. Wardah tak mau gosip gosip tentang dirinya semakin runyam, ia selalu saja menolak jika Eza memintanya untuk ke ruangannya atau sekedar jalan beriringan. Apabila di lantai dasar parkiran tentu saja tak banyak orang berlalu lalang, mungkin bisa aman.

__ADS_1


Ntah bagaimana nanti jika orang-orang tahu bahwa laki-laki yang bersamanya itu adalah adik seorang Eza. Siap-siap saja tranding topik harian. Hahaha.


...Bersambung.... ...


__ADS_2