
...Maaf ya gaess, udah lama Lhu-Lhu ndak up. Terlalu disibukkan dengan urusan dunia nyata membuat Lhu-Lhu lupa masih memiliki tanggungan up. Mohon maaf yaa, mumpung masih suasana nisfu syakban, Lhu-Lhu mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian jika ada kata-kata tulis Lhu-Lhu yang menyinggung. Maaf juga jika mengecewaka pembaca karena lama menunggu waktu up. 🙏🙏🙏...
Tak tega harus membangunkan sang istri, Eza memilih untuk membopong Wardah ke kamar. Merasa ada pergerakan, Wardah membuka matanya. Betapa terkejutnya ia mendapati dirinya sudah berada di gendongan sang suami.
"Mas, udah pulang? Turunin ih! Kan bisa dibangunin akunya," ujar Wardah dengan suara khas bangun tidurnya.
"Kan Mas udah bilang, nggak usah ditungguin..."ujar Eza.
"Siapa yang nungguin Mas? Aku ketiduran aja tadi tuh!" jawab Wardah tak mengaku.
Eza tertawa sembari menurunkan Wardah ke tempat tidur. Mereka hanya berdua, tapi sang istri masih mengelak saja.
"Udah makan malam belum?" tanya Wardah yang kini duduk di hadapan Eza.
Eza meringis menanggapi pertanyaan Wardah. Ia memang belum makan malam. Sengaja Eza mengesampingkan makan malamnya agar pulang lebih cepat. Wardah yang paham dengan cengiran Eza sontak berdiri dan kembali keluar kamar. Tujuannya tentu saja ke dapur. Eza yang memanggilnya pun tak digubris. Alhasil, Eza mengikuti sang istri saja.
"Duduk!" perintah Wardah. Eza menurut dan duduk dengan memperhatikan Wardah.
Dengan lihainya Wardah menyiapkan perlengkapan makan di meja depan Eza dan memanaskan lauk yang masih ada. Beruntung Wardah selalu menyimpan makanan untuk orang rumah yang bisa saja ingin makan di malam yang larut. Seperti Eza saat ini.
Setelah beberapa menit memanaskan makanan, barulah Wardah menemani Eza menyantapnya. Wardah tak habis pikir dengan suaminya ini, bisa-bisanya belum makan saat sudah larut seperti ini.
"Jangan lupa makan dong Mas," lirih Wardah yang kini masih memperhatikan Eza makan.
"Mas pengen cepet pulang tadi Ay... Makanya nggak nyempetin makan," jawab Eza. Wardah hanya diam tak menanggapi.
"Iya-iya, besok nggak lagi... Oke!" sambung Eza yang mulai merasa tak enak melihat respon istrinya. Jangan sampai ngambek nih!
Selesai menghabiskan makanannya, Eza langsung membersihkan piringnya. Jangan sampai istrinya bekerja lagi. Wardah yang hanya memperhatikan Eza pun tak tahan. Sontak ia memeluk Eza dari belakang dengan eratnya. Ntahlah! Rasanya kangen sekali dengan makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini.
Eza membalikkan tubuhnya menghadap kepada Wardah. Menangkup kedua pipi Wardah dan meng*cup sekilas bib*r ranum itu. Beruntung sekali dirinya memiliki istri seperti Wardah.
"Mau di sini atau di kamar?" goda Eza.
__ADS_1
"Iisshh! Mesum kali suami aku ini!" jawab Wardah.
Sontak Eza terkikik mendengar jawaban Wardah yang dibuat-buat dengan logat lain itu.
Jika tadi Eza ingin segera beradu padan dengan Wardah, yang jelas sekarang tak sesuai harapannya. Wardah membantu Eza mengganti baju dan menunggu Eza yang masih membersihkan diri.
"Sini Mas, pasti capek kerja sampai malam," ujar Wardah menarik tangan Eza agar duduk di hadapannya.
Wardah memang tak ahli dalam memijat, tapi ia ingin menghilangkan kepenatan dari suaminya. Dengan telaten Wardah memijit pundak Eza, hingga kini Eza sudah tengkurap menikmati pijatannya.
"Kerasa nggak sih Mas?" tanya Wardah.
"Kerasa. Tapi kayaknya lebih kerasa lagi kalau pakai kaki deh Ay," jawab Eza.
"Ha! Keberatan nanti," ujar Wardah.
"Coba dulu deh,"
"Mohon maap ya Pak... Saya nggak bermaksud durhaka dengan menginjak bapaknya ini," celetuk Wardah.
Eza tertawa menanggapi candaan Wardah. Bahkan ia tak merasa keberatan saat Wardah memijatnya dengan kedua kaki.
"Kalau gini lebih enak Ay," ujar Eza.
Sepertinya Wardah memang tak berbakat untuk memijat menggunakan tangan. Jelas saja, jemarinya memang mungil jika dibandingkan dengan postur tubuh Eza. Puas dengan layanan Wardah, kini mereka berdua sudah berpelukan satu sama lain.
"Ayy.." panggil Eza dengan menciumi rambut Wardah.
"Tega bener nyuruh keramas sebelum subuh," jawab Wardah.
"Hehe, ya udah, tunggu serangan fajar besok ya," ujar Eza mengeratkan pelukannya.
"Tapi beneran nggak papa kan? Kalau maunya sekarang, gak papa kok." lirih Wardah menengadahkan kepalanya melihat Eza.
__ADS_1
Tak boleh memang menolak suami, makanya Wardah ia memastikan kembali kepada Eza. Mana mungkin ia menolaknya, dosa besar itu.
"Nggak, Mas ngantuk... Pengen tidur sekarang ajah," jawab Eza mengec*p bib*r Wardah.
***
"Sudah siap?" tanya Eza setelah menyimak Wardah lalaran.
"Siap apa?" tanya Wardah basa-basi seolah tak tahu.
Eza langsung bergegas mengunci pintu kamarnya dan membantu Wardah membereskan peralatan sholatnya. Ia sudah menahan dari malam tadi, jangan sampai ia menahan lebih lama lagi. Serangan fajar akan segera berlangsung. Dibopongnya Wardah menuju tempat tidur.
"Nggak sabaran banget dah!" goda Wardah.
"Iya, udah nggak tahan. Hari ini libur dulu bantuin Mama sama Bunda masak," jawab Eza yang kini sudah melucuti baju kebangsaan Wardah.
Biarkan mereka menikmati waktu pagi ini dengan bergumul bersama. Siang nanti Wardah dan Eza harus menjemput Anisa dan Farhan di bandara. Ya! Sahabatnya itu berkunjung ke Jakarta untuk mengantarkan Faiz (adik Anisa).
Puaskan waktu mereka berdua terlebih dahulu sebelum esok harinya harus disibukkan dengan acara ulang tahun stasiun tv.
Ada apa Anisa mengantarkan Faiz ke Jakarta? Kita bahas di part selanjutnya yaaa! Bismillahirahmanirahim! Semoga Lhu-Lhu nggak telat up lagi!
Gaess! Bantuin Lhu-Lhu meningkatkan performa novel baru Lhu-Lhu dong! Bantuin komen, vote, like, hadiah, favoritnya jugaa... Pliiisssss.... Novel yang ini nih!
Di share jugaaaa!!!!
Alhamdulillah novel ini sudah masuk di entri lomba!
Terima kasiiiihhhh!
...Bersambung...
__ADS_1