Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Tugas Dadakan


__ADS_3

Karena rencana masak memasaknya masih nanti siang, Wardah menata belanjaannya terlebih dahulu. Sakha ada di pangkuan Eza yang kini tengah mengecek email di laptopnya.


Tengah asik menata belanjaannya, Wardah sampai baru sadar jika suaminya tengah menelepon seseorang dari tadi.


"Iyaa, kamu pantau terus gerak-geriknya!" ujar Eza kemudian menutup teleponnya.


"Telepon dari siapa Mas?" tanya Wardah menghampiri suami dan anaknya.


"Hem? Oh ini, dari divisi pemasaran yang lagi tugas di lapangan," jawab Eza.


Wardah mengangguk mengerti. Meski sebenarnya ia masih tak puas dengan jawaban suaminya. Wardah mengajak Sakha untuk ikut dengannya. Wardah harus ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tapi yang diajak tampaknya tak mau. Sakha masih ingin bersama Ayahnya.


"Nggak papa Ay, nanti kalau Sakha mau ikut kamu biar Mas antar ke sana," ujar Eza.


"Nanti Mas digangguin apa nggak sama ni bocil?" tanya Wardah dengan kekhawatirannya.

__ADS_1


"Nggak Ay, tenang aja," jawab Eza menghampiri Wardah dan mengecup lembut kening istrinya.


Akhirnya Wardah ke ruangannya tanpa Sakha. 'Sakha-nya mana Mbak?' Pertanyaan pertama yang Wardah dapatkan saat memasuki ruangan. Banyak yang menanti kehadiran Sakha setiap harinya. hahaha


Baru beberapa saat mengedit naskah berita, tiba-tiba ada pemberitahuan meeting. Wardah baru ingat jika beberapa hari lagi akan ada acara peringatan 1 Abad NU di Sidoarjo. Pasti meeting ini hendak membahas hal itu. Wardah segera memberikan naskah editannya pada PD acara. Barulah ia menyusul rekannya ke ruang meeting.


Memasuki ruangan, ternyata mereka sudah memulai meeting-nya. Tampak di sana juga ada Eza yang masih setia memangku Sakha yang juga tengah asik memakan buah apel di tangannya. Anak itu benar-benar pintar, tak rewel dan tak mengganggu pekerjaan orang tua-nya sama sekali. Wardah tersenyum simpul melihat pemandangan itu. Ia langsung duduk dan mengikuti rapat itu hingga akhir.


Ternyata Wardah ditugaskan untuk menghadiri acara perayaan itu sebagai reporter lapangan. Di sini Wardah mulai bingung bagaimana mungkin ia bisa pergi? Tak mungkin ia meninggalkan Sakha. Beberapa kali Wardah meminta keringanan untuk digantikan oleh reporter yang lain. Wardah menghadap pada Mbak Zizi yang bertugas sebagai penanggung jawab.


"Terus anak saya gimana nanti Mbak, nggak mungkin kalau di tinggal," sambung Wardah.


"Ay..." panggil Eza yang ternyata mengikutinya ke ruangan Mbak Zizi.


"Mas... Nggak mungkinkan aku berangkat ke Sidoarjo," ujar Wardah pada Eza meminta dukungan.

__ADS_1


"Ay, biasanya kamu suka kalau ikut acara seperti ini," ujar Eza sembari duduk di samping Wardah.


"Iyaa, aku suka, tapikan keadaannya sudah berbeda Mas," jawab Wardah.


"Kita bisa ajak Sakha kok, nanti biar Mas yang atur, sekalian kita jemput Mas Faisal sama istrinya," ujar Eza lagi.


Bukannya membantu menolak justru suaminya malah ingin ikut juga. Wardah takut jika membawa Sakha nanti malah tambah bingung dan takut jika pembawaannya justru tak maksimal.


Eza membujuk Wardah untuk tetap ikut dalam acara itu. Sakha sebenarnya bisa mereka ajak Toh Sakha bukan anak yang rewel. Eza berencana mengajak babysitter mereka untuk ikut. Bahkan Eza juga berencana untuk singgah ke rumah Jombang terlebih dahulu. Siapa tahu istri Mas Faisal bisa membantunya mengurus Sakha juga. Dengan begitu tak perlu menyewa babysitter.


"Kita bicarakan dengan Kak Yusuf dulu yuk!" ajak Eza.


Akhirnya mereka berdua ke ruangan Eza untuk menghubungi Kakak Wardah. Di ruangan Eza, Sakha ternyata ditemani oleh Riri salah satu rekan divisi tempat Wardah.


Saat menghubungi Mas Yusuf. mereka disambut dengan penuh kegembiraan. Mas Yusuf dengan istrinya sangat senang saat tahu jika ponakan mereka akan berkunjung. Mereka juga mau untuk menjaga Sakha saat Wardah dan Eza menemani istrinya bertugas.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2