Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Ungkapan


__ADS_3

Malam hari di kawasan pantai sangat menguji nyali ketahanan tulang. Apalagi dengan potongan-potongan Wardah yang tak memiliki lemak yang cukup kuat untuk menghangatkan tubuh. Hahaha.


Meskipun angin malam menciptakan suasana dingin, tak melunturkan pemandangan bintang-bintang yang tersebar di seluruh langit. Letak mereka yang ada di atas laut menambah nilai keindahan dengan pantulan cahaya dari air dan suara deburan ombak yang menenangkan.


Tak ada kebisingan kawasan kota merupakan ketenangan yang luar biasa.


Cak Ibil tampak berjalan-jalan di bibir pantai dengan Wardah yang mengikutinya. Mati-matian Wardah mengajak suaminya untuk keluar menikmati suasana malam hari pantai Bali ini. Yaaa, meskipun yang di ajak kebanyakan diam, setidaknya Wardah ada yang menemani. Sejujurnya ia takut keluar sendiri. Apalagi malam-malam seperti ini. Takut jika tiba-tiba makhluk astral dari laut menariknya. Dan menjadikannya ratu pantai Bali. Hahaha.


Oh iya! Malam ini pula Cak Ibil akan mengajak Wardah ngobrol face to face. Jalan-jalan malam ini pula Cak Ibil sekaligus mencari tempat mengobrol yang pas dan santuy...


"Kita bicara di sana," Ujar Cak Ibil sembari menunjuk pada 2 ayunan pantai di depannya. Di sana juga ada lampu tegak ternyata. Sepertinya memang di desain khusus pengunjung yang ingin bermesraan malam-malam di ayunan itu. Hahaha. Tapi kok malah merinding yaaa,,,,


Wardah terus mengekori Cak Ibil yang ada di depannya. Duduk bersebelahan dengan ayunan yang terpisah.


Sesekali Wardah mengayunkan ayunan itu. Tinggi ternyata, kakinya hampir saja tak sampai. Ini ayunannya yang ketinggian atau memang Wardah-nya yang terlalu mungil sih?

__ADS_1


"Tanyakan apapun yang ingin kamu tanyakan," Ujar Cak Ibil.


"Hmmm, Wardah minta penjelasan mengapa sikap Mas kepada saya seperti itu?" Tutur Wardah.


"Sebelum menikahi kamu, saya sempat melamar Anisa," Lirih Cak Ibil.


Syok! Tentu saja! Wardah tahu jika suaminya pernah suka dengan sahabatnya, tapi ia sama sekali tak tahu jika suaminya sudah melangkah begitu jauh sebelumnya. Anisa pun tak pernah cerita.


"Aku seneng, akhirnya Cak Ibil bisa menempatkan hatinya pada orang yang seharusnya," Ujar Anisa tempo dulu.


Wardah mencoba untuk bersikap tenang.


"Wardah?" Panggil Cak Ibil.


"I-iyya, lanjutkan..." Jawab Wardah sedikit terbata.

__ADS_1


"Saya belum bisa move on dari Anisa, Wardah..." Sambungnya.


"Lalu kenapa anda menikahi saya?" Wardah mulai berbicara formal.


"Saya pikir, bisa melupakan perasaan saya terhadap Anisa... Tapi, nyatanya tidak," Lirihnya.


"Itu karena anda tak pernah mencoba membuka hati terhadap wanita selain Anisa!" Tegas Wardah mulai emosi.


"Tenang dulu Wardah, saya sudah mencoba... Saya sudah mencoba berkali-kali, setiap saya melihat kamu, rasanya bayangan Anisa semakin jelas.... Sikap kamu, kebiasaan kamu, masakan kamu, semuanya mirip dengan Anisa. Saya semakin bingung memposisikan diri, saya semakin sulit melupakan Anisa..." Tutur Cak Ibil lirih. Menundukkan wajahnya sedalam-dalamnya.


Tak kuat menahan diri, Wardah berdiri hendak meninggalkan Cak Ibil sendiri.


"Mau kemana?" Tanya Cak Ibil.


"Beri Wardah waktu untuk sendiri," Lirih Wardah sebelum benar-benar pergi.

__ADS_1


Kaki telanjangnya menyusuri pasir pantai malam yang mulai larut....


Bersambung....


__ADS_2