Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Terkoyak


__ADS_3

Siang hari di kota Jombang tampak panas sekali. Sebelas dua belas dengan Jakarta. Eza tampak duduk mengobrol dengan Farhan dan Kak Ical di kursi penyambutan tamu. Barusan Eza berkenalan dengan Ical dan langsung akrab.


"Assalamualaikum, Umi," sapa Farhan pada Bu Nyai yang ternyata datang bersama para grup banjari pesantren.


"Waalaikumussalam, Umi dapat kabar jika Wardah ada di sini juga," jawab Umi.


Sepeninggalnya Umi dan para grub banjari, sesosok laki-laki yang teramat dikenal Farhan dan Ical. Ibil! Dengan memberikan sapaan senyuman, ia menyalami Farhan, Faisal, dan Eza yang ada di sana. Tak ada percakapan sama sekali. Eza yang melihat ketegangan itu bingung sendiri.


"Monggo silahkan masuk Pak," ujar Eza mempersilahkan. Bisa-bisanya tuan rumah tak mempersilahkan tamunya masuk, malah Eza yang mempersilahkan.


"Terima kasih,"


"Kok diem aja sih Mas?" tanya Eza bingung.


"Itu mantan suaminya Eza." jawab Ical.


JDER!


Bagai petir di siang bolong. Eza segera masuk ke dalam mengawasi orang itu.


"Wardah sudah menemukan yang seharusnya Cal!" celetuk Farhan.


"Iya! Walaupun masih terlihat bocil," jawab Ical.


Tampak Cak Ibil duduk di salah satu kursi tamu setelah menyalami orang tua Anisa dan Farhan. Sorot matanya jelas sekali menuju ke arah Wardah. Tatapan kagum, tak dapat dipungkiri lagi. Melihat hal itu membuat Eza mengepalkan jemarinya.


Eza memberikan segelas air putih untuk Wardah yang baru saja menyelesaikan simakan Al-Quran. Wardah menatap bosnya itu bingung. Kesambet apakah gerangan orang ini?


"Apa ini Mas?" tanya Wardah heran.


"Pasti haus habis semaan 2 juz Al-Quran," ujar Eza.

__ADS_1


Mau tak mau Wardah menerimanya. Ia melirik pada Husna yang menatapnya iri. Ia malu, tapi juga merasa hangat dengan perhatian Eza. Disisi lain Cak Ibil melihat itu dengan tatapan yang... Ntah apa itu.


Acara di rumah Anisa masih berjalan hingga malam. Kini saatnya santunan untuk anak yatim yang ada di daerah sekitar. Wardah kini telah berganti profesi menjadi vokalis sholawat mengiringi tabuhan hadrah yang disewa dari pesantren.


Eza juga masih setia memandangi Wardah dengan suara merdunya.


"Mas Eza!" panggil Husna yang kini duduk di samping Eza.


"Iya? Kamu adeknya Mas Farhan kan ya?" tanya Eza. Dan dibalas anggukan oleh Husna. Tak lupa dengan senyum manisnya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Eza lagi.


"Ndak, Husna hanya ingin duduk di sini dengan Kak Eza," jawab Husna. Eza hanya mengangguk menanggapi.


"Dek, kamu udah kenal Kak Wardah sejak kapan?" tanya Eza memanfaatkan kesempatan.


"Udah... dari dia jadi Ustadzah di pesantren," jawab Husna.


"Orangnya gimana?" tanya Eza lagi.


"Kenapa kok mereka bisa cerai?" tanya Eza lagi. Ia kepo sekali kali ini.


"Nggak tahu Kak, tanya ajah sama orangnya sendiri!" jawab Husna mulai sebal. Ia langsung meninggalkan Eza di sana dengan muka bingungnya atas perubahan mood Husna.


Masa bodoh dengan tingkah adik teman barunya, Eza kembali memandangi Wardah yang sesekali ternyata melihat ke arahnya. Eza memberikan senyumannya di saat itu pula.


"Za! Ikut saya," ujar Kak Yusuf yang tiba-tiba mengajak Eza.


Dug! Dug! Dug!


Bagaimana ini? Ia takut sekarang. Apa tes yang akan dilayangkan Kak Yusuf? Kini mereka berdua sedang berada di pinggir kolam renang yang cukup sepi.

__ADS_1


"Insyaallah saya sudah siap diuji Bang," ujar Eza memberanikan diri unjuk bicara.


"Kamu benar-benar suka dengan Wardah?" tanya Kak Yusuf.


"Saya benar-benar memiliki rasa terhadap Wardah Bang," jawab Eza.


"Apa buktinya?"


"Saya siap melamar Wardah saat ini," jawab Eza mantab.


"Itulah yang dilakukan cecunguk mantan suami Wardah," ujar Kak Yusuf tanpa melihat ke arah Eza.


"Saya tak tahu seberapa besarnya tingkatan pembuktian untuk meyakinkan Abang, tapi dari lubuk hati yang paling dalam, sejak pertama kali saya bertemu Wardah, hingga kini, bahkan hingga kapan pun akan tetap sama rasanya di hati saya." lirih Eza dengan menunduk.


"Ketika saya tahu bahwa Wardah sudah menikah, saya serahkan semuanya kepada Allah. Saya pikir perasaan ini akan hilang dengan sendirinya, tapi ternyata tidak. Saya sempat membenci diri saya, Bisa-bisanya suka dengan perempuan bersuami... Tapi Allah mempunyai rencana yang sungguh luar biasa untuk saya dan Wardah tentunya." sambung Eza.


"Huufft, saya percaya sama kamu. Yakinkanlah hati Wardah Za. Jangan sekali-kali kamu mengecewakanku," ujar Kak Yusuf yang kini meninggalkan Eza sendiri.


"Saya berjanji tidak akan mengecewakan Wardah dan Abang," ujar Eza dengan sedikit keras karena Kak Yusuf sudah berlalu. Untung saja di tempat itu tak ada orang.


Ternyata salah dugaannya, dibalik tembok pembatas seorang gadis belia tampak mengusap lembut air matanya. Ternyata laki-laki yang baru saja ia kagumi benar-benar menyukai sahabat dari kakak iparnya. Ia segera beringsut mundur agar tak terlihat dikala Eza memasuki mansion.


Hari semakin malam dan para tamu juga sudah pulang. Tinggal keluarga pesantren yang masih ada di sini menunggu para penabuh banjari memberesi barang mereka. Cak Ibil tampak duduk dengan canggung bersama santriwan yang sengaja Umi bawa untuk bantu-bantu di tempat.


Tapi Wardah sama-sekali tak menggubrisnya. Ia sadar jika mantannya itu memandanginya, tapi ia bersikeras untuk mengacuhkannya. Wardah hanya menyapa Umi sebentar dan segera bergabung dengan Anisa dan Farhan. Jangan lupakan Eza yang juga ada di sana.


"Makan dulu dek, dari tadi di panggung sampai lupa ndak makan malam. Bunda ngomel tuh dari tadi," ujar Kak Ina yang mengambilkannya makanan.


"Hehehe, makasih kakak cantik," jawab Wardah dengan cengiran khasnya.


Wardah menyantap makan malamnya sembari bercerita ria bersama Anisa, Farhan, dan Eza yang duduk di sebelahnya. Sesekali Eza mencomot lauk yang ada di piring Wardah dan memakannya. Saking asiknya, Wardah sampai tak mempermasalahkan tingkah Eza yang berkedudukan sebagai bosnya itu.

__ADS_1


Cak Ibil yang melihat hal itu tampak teriris seketika. Mantan istrinya sudah bahagia sekarang, tapi dirinya masih dihantui rasa bersalah dan rasa cinta yang sudah tumbuh terlalu dalam.


...Bersambung... ...


__ADS_2