
...Assalamu'alaikum, bagaimana kabar kalian para pembaca online Lhu-Lhu? Semoga selalu dalam lindungan Allah yaa... Maafkan Lhu-Lhu yang baru muncul lagi, dikarenakan pasca demam beberapa hari yang lalu 🙏🙏🙏...
...Happy New Year Gaess.... ...
...Semoga di tahun yang baru ini kita lebih banyak kebahagiaannya yaaa! Makin rajin buat update khusus Lhu-Lhu, hehehe. ...
...Makin lancar rejeki & urusannya.... Aammiiinn ...
...Karena banyak yang meminta part berisi isi hati Cak Ibil ataupun Husna, di sini Lhu-Lhu akan mengabulkan inginan kalian. Selamat membacaa!...
POV Cak Ibil
Keadaan hati yang gundah gulana inilah yang kini kurasakan. Seorang gadis lugu yang takt ahu apa-apa telah aku korbankan perasaan tulusnya. Dan kini aku terjebak di dalam api yang telah aku kobarkan sendiri.
Rasa cinta ini telah tumbuh dengan seiring waktu bersama dengannya. Dari awal aku menikah adalah untuk mengalihkan perasaan cintaku terhadap Anisa. Sahabat dari gadis aku nikahi. Hal itu berhasil, tapi gadis itu malah pergi.
Aku tak pernah menyalahkannya, karena itu memang muri kesalahanku. Tapi aku masih berharap untuk Kembali bersamanya. Hingga datanglah aku ke Jakarta untuk menemuinya dan untuk kembali memperjuangkan cinta yang telah aku sia-siakan.
Mirisnya hatiku saat mengetahui jika ternyata wanitaku sudah memiliki yang baru. Seseorang yang memang pantas untuknya. Bukan sepertiku yang bajingan ini.
Hatiku Kembali hancur saat mendatangi pernikahannya. Bukan wanitaku yang mengundang, justru malah calon suaminya.
“Kamu nggak ikut ke acara resepsi Ustadzah Wardah Na?” tanyaku kepada Husna yang kebetulan bertemu di sebuah pendopo sedang menghafal Al-Quran.
“Ndak Cak, dari pada nanti malah nangis di sana, mending nggak usah lihat sekalian,” jawabnya.
“Nangis terharu? Ya nggak papa to, kan wajar,” jawabku heran.
“Nangis karena pujaan hatiku lebih memilih yang lain,” sambung Husna.
Tak kusangka ternyata Husna menyukai calon suami dari mantan istriku. Lamunanku terbuyarkan dengan panggilan suara dari kantor untuk keberangkatan ke Jakarta bersama rombongan pesantren. Akhirnya kutinggalkan husna sendiri di pendopo itu.
__ADS_1
Kuatkan hati dan kuatkan emosi dan iman kini menjadi semboyanku. Harus kuat berhadapan dengan wanitaku yang sudah menjadi milik laki-laki lain. Sepanjang perjalanan aku mencoba menangkan detakan jantunhku yang seolah hendak menculat.
"Sabar ya Bil," hanya itu yang dapat diucapkan teman-temanku.
Dari awal memasuki aula resepsi, hingga kinj hendak mengucapkan sepatah dua patah kata selamat rasanya sangat berat. Hendak menarik bibir agar tersenyum saja harus dipaksakan.
🌾🌾🌾
Keluar dari studio Eza masih setia menggenggam jemari Wardah. Wardah masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Bagaimana bisa laki-laki yang ia temui di pantai dulu adalah suaminya sendiri? Dan saat itu keadaannya ia masih berstatus istri dengan Cak Ibil. Dunia begitu sempit. Anehnya Wardah tak mengingat wajah laki-laki itu.
“Kenapa Ay?” tanya Eza.
“Masih ragu sama katanya Mas tadi. Masa iya, yang waktu itu adalah Mas?” jawab Wardah.
Eza memesan sebuah caffe yang ada di kantor itu. Tak etis rasanya menjelaskan semuanya di tengah jalan dengan orang-orang yang berseliweran.
Eza mengambil gawainya dan menunjukkan social medianya kepada Wardah. Foto seorang perempuan dari arah belakang Eza unggah di Instagram. Wardah tahu betul jika itu adalah dirinya. Postingan itu juga diunggah di waktu yang sama pula. Tunggu! Captions itu membuyarkan fokus Wardah. “Bolehkan aku berharap jika wanita ini untukku Ya Robb”
“Iya, dan Allah mengabulkan doaku. Mas tahu saat itu Ayang sudah punya suami. Tapi, Mas tetap saja memiliki harapan untuk dipersatukan dengan Ayang,” jawab Eza. Kini mereka ada di sebuah caffe vvip kantor stasiun tv yang mereka kunjungi.
“Maaf Ay, gara-gara doa Mas kamu jadi menderita dengan kunyuk itu,” sambungnya lagi.
Wardah tersenyum ke arah Eza. Tak ada rasa benci sama sekali dihatinya terhadap suaminya itu. Ia memang sempat down dengan kejadian yang menimpanya, tapi saat ini sudah sangat Bahagia memiliki Eza disisinya.
“Tapi, mungkin saja saat ini Dedek masih berkutat dengan sikap dinginnya Cak Ibil jika Mamas tidak mendoakan Dedek,” jawab Wardah.
Cup! Satu kecupan mendarat di bibir ranum Wardah. Dengan lembut Eza ******* benda bertekstur lembut itu. Sudah lama ia ingin **********, tapi selalu ia tahan. Takut jika keblabasan. Hahaha.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu membuyarkan sesi romantisan mereka berdua. Seorang waiterss mengantarkan pesanan mereka ternyata. Mereka makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke kantor Eza. Ada rapat bulanan siang ini. Padahal Eza masih memiliki cuti libur, tapi tetap saja rapat bulanan ini tak dapat dilaksanakan tanpanya.
__ADS_1
"Wooaahh! Cheff Arnold pernah ke cafe ini ternyata Mas!" seru Wardah melihat sebuah tanda tangan di dinding.
"Iya, tempat makan yang ada tanda tangannya dia pasti terkenal enaknya," jawab Eza.
Benar sekali ucapan Eza, Wardah tampak menikmati makanan pesanannya dengan nikmat.
"Mau nyoba ramennya Mas," lirih Wardah menunjuk mangkuk Eza.
Dengan senang hati Eza menyuapi Wardah. Karena Wardah sendiri memang kurang pandai menggunakan sumpit. Oke! Kini malah Wardah yang menghabiskan makanan Eza.
"Kayaknya minumannya Mas enak deh," celetuk Eza.
"Mau coba?" tanya Eza dengan ragu.
Tanpa ragu Wardah mengangguk dan mengambil gelas Eza. Menyeruputnya dengan seksama, meneliti rasanya.
"Kan bener! Enakan punya Mas... Gantian ya!" ujarnya tanpa dosa.
"Iyaa," jawab Eza.
"Yang ikhlas dong," sanggah Wardah.
"Iya sayangku cintaku, apasih yang nggak buat cantikku ini," jawab Eza lagi.
Ntahlah! Kenapa milik orang lain serasa lebih nikmat dibandingkan dengan pilihan sendiri.
"Padahal punya dia sendiri juga enak," batin Eza yang kini menyeruput minuman Wardah.
🌾🌾🌾
...Bersambung ...
__ADS_1