Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Lamaran


__ADS_3

Memang tak semua yang kita mau harus menjadi milik kita. Kita harus bisa bertahan meski tak harus menjadi pemeran utama di saat bahagia seperti ini. Itulah yang dirasakan Husna. Ia tampak sabar membantu Eza yang notabenya adalah sosok pangeran yang ia impikan.


Kini Husna tampak menggandeng lengan Wardah, membantunya berjalan keluar hotel. Pertanyaan-pertanyaan Wardah sama sekali tak dihiraukan. Ia diam membisu.


"Kakak ikutin lilin itu Kak, Husna permisi. Assalamu'alaikum," ujar Husna kemudian berlalu. Wardah yang memanggilnya sama sekali tak dihiraukan.


Dengan perlahan Wardah mengikuti lilin yang terjejer di depannya. Secercah cahaya terlihat di pinggir pantai itu. Ternyata lilin yang diikuti Wardah mengarah pada sebuah pendopo yang telah dihias sedemikian rupa.



Wardah mendekati pendopo itu secara perlahan. Tak ada siapapun. Wardah membalikkan badannya dan Eza-lah yang ada di belakangnya. Dengan senyuman yang mengembang ia mendekati Wardah.


"Mas?" lirih Wardah.


"Kita makan malam ya, ayuk!" ajak Eza.


Wardah mengikutinya dan duduk di samping Eza karena ingin memandangi laut.


"Yang lainnya mana? Kok Dedek di suruh pakai ginian? Kan cuma makan, nggak ada pesta. Ini tempat makan banyak tempat duduk tapi kosong, kan mubazir," ujar Wardah. Bisa-bisanya masih berpikiran mubazir dengan tempat yang kosong di meja mereka.


"Makan dulu yaa, nanti Mas ajak ke yang lainnya," jawab Eza. Acara makan malam mereka berjalan dengan lancar. Percakapan mereka juga lurus alur seperti biasanya. Hingga kini Eza mengajak Wardah ke tengah tumbler yang tiba-tiba menyala di samping pendopo dengan cantiknya berbentuk Love. Wardah tampak terkejoed.


"Saya mohon Dek, jangan anggap ini hanya candaan. Mamas dua rius, berlipat-lipat rius dengan maksud dan niat ini." ujar Eza.


"Mas tu yang ngerusak momen, nggak usah ngelawak," jawab Wardah.


"Will you marry me?" Ujar Eza membukakan kotak beludru merah di hadapan Wardah. Ia sebenarnya bingung hendak membuka perkataannya dengan Wardah bagaimana. Jadilah ia to the point.

__ADS_1


"Mas?" lirih Wardah.


"Jangan tolak! Mas mohon... Mas nggak akan mempermainkan Dedek," lirih Eza. Tatapan Eza menjurus pada Wardah. Tak ada tanda-tanda kebohongan di sana. Yang ada malah genangan air mata yang siap menerobos keluar. Demi apa? Mas Eza menangis....


"Dedek janda Mas," lirih Wardah lagi.


"Mas tahu, Mas tahu bagaimana masa lalu Dedek dulu. Tapi masa depan Dedek hanya boleh dengan Mamas," jawab Eza.


"I will," Lirih Wardah.


Air mata bahagia itu akhirnya tumpah juga! Refleks Eza hendak memeluk Wardah. Wardah yang beringsut takut dipeluk segera memundurkan dirinya. Eza segera berlari di sisi pantai yang ternyata sudah berkumpul orang-orang yang lain. Bahkan Eza lupa belum memberikan cincinnya untuk Wardah.


Eza menghamburkan pelukannya pada Papa. Ya! Di sana ada Papa dan Mama Sarah juga. Bahkan Bunda dan, Kak Yusuf dan Kak Ina juga ada di sana.


"Jagoan Papa berhasil juga akhirnya," ujar Papa yang ikut memeluk anaknya.


Bunda menghampiri Wardah dan memeluknya erat. Menyalurkan ketenangan dan rasa bahagianya.


"Bunda yakin pilihan untuk Dedek kali ini tak salah. Dedek patut untuk bahagia. Ayah pasti juga senang melihat putrinya sekarang," lirih Bunda. Wardah semakin tersedu haru mendengarkan tuturan Bunda.


"Dedek?" sapa Papa Eza yang menghampiri Wardah dan Bunda.


Wardah mengurai pelukannya dengan Bunda dan tersenyum pada Papa. Jangan lupakan sesenggukan Wardah masih ada.


"Boleh saya memeluk Wardah bu?" tanya Papa pada Bunda. Bunda mengangguk pada Papa mengizinkan. Bunda tersenyum sumringah, akhirnya anaknya menemukan kebahagiaan yang seharusnya.


"Dedeknya mau nggak dipeluk Papa?" tanya Papa lagi.

__ADS_1


"Hahaha, Papaaa," rengek Wardah dengan nada khas setelah menangisnya. Wardah menghamburkan pelukannya pada Papa. Memeluknya erat seolah tengah memeluk Ayah.


Percayalah baju Papa kini telah basah terkena air mata Wardah. Papa mengelus lembut pundak Wardah memberikan ketenangan. Mencium sayang puncak kepala Wardah.


"Terima kasih sudah menerima anak tengil Papa ya, bilang dengan Papa kalau Eza jahat sama Dedek, Papa yang akan bunuh langsung dia," celetuk Papa.


"Sayang, sini Mama pasangkan cincinnya dulu," ujar Mama menghampiri Wardah.


Sontak mereka yang ada di sana tertawa setelah menyadari jika cincinnya belum terpasangkan.


.


.


.


Setelah haru bahagia, mereka kini berkumpul di restoran hotel. Wardah yang notabenya hoby makan, juga ikut andil makan lagi. Bunda tampak berbincang dengan Bunda, sepertinya mengakrabkan diri. Tiba-tiba Wardah kepo perihal kedatangan Bunda, Mama, dan Papa di sini.


Kak Yusuf dan keluarganya bahkan juga hadir.


"Gimana perasaannya punya tunangan?" bisik Kak Ina pada adik iparnya. Wardah yang mendengar pertanyaannya hanya tersenyum canggung.


"Kakak kok bisa di sini?" tanya Wardah mengalihkan pembicaraan.


"Orang tuanya Eza kemarin ke Jombang siaturrahmi, sekalian ngajak ke sini. Disuruh Eza katanya," jawab Kak Ina.


Eza ini memanglah, tak bisa diduga-duga.

__ADS_1


...Bersambung.... ...


__ADS_2