Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Begadang


__ADS_3

Baby Z kini berada di tengah-tengah Ayah dan Buna-nya. Ia masih duduk memainkan mainan itu. Tak berselang lama Eza melirik kea rah Wardah yang ternyata sudah memejamkan matanya. Eza mengambil mengecup kening Wardah sekilas dan menutupi tibuhnya dengan selimut agar tak kedinginan. Eza mengambil mainan yang dibawa Baby Z, dan menyimpannya.


“Bobok dek, udah malam, kasihan Buna udah ngantuk itu,” lirih Eza kemudian membaringkan Baby Z ditengah-tengahnya dan Wardah.


Bukannya tertidur anak bayi itu justru mengajak Eza mengoceh dengan memainkan hidung Ayahnya. Tentu saja Eza kalang kabut takut jika istrinya terbangun. Kasihan, mereka baru saja sampai Jakarta masak sudah diajak begadang sama si kecil? Sontak Eza menggendong Baby Z berharap jika digendong ia akan mengantuk dan tertidur. Bahkan Eza sudah mengganti lampu utama menjadi lampu tidur.


“Kita keluar ya, cari udara segar, pasti nanti kamu ngantuk,” gumam Eza mengajak Baby Z berbicara.


Padahal belum tentu Baby Z akan paham dengan ocehannya. Turun dari tangga, suasana rumah begitu sepi. Dilihatnya jam dinding di ruang keluarga, ternyata sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Pantas saja sudah sepi. Eza mendengar perbincangan di luar rumah. Tepatnya di halaman depan. Sepertinya itu suara para penjaga yang bertugas malam hari. Oke! Lebih baik ia mengajak Baby Z untuk ronda saja malam ini bersama para penjaga. Tak lupa Eza memberikan selimut kecil untuk Baby Z agar tak kedinginan nantinya.


Jglek! Suara pintu utama di buka. Para penjaga yang tadinya asik berbincang tiba-tiba diam seketika. Mode siaga mulai diaktifkan. Waspada dari mana gerangan bunyi itu berasal. Saat Eza keluar, mereka menghembuskan napas lega secara bersamaan. Sudah macam pasukan pramuka saja mereka, saking kompaknya.

__ADS_1


“Mas Eza, kirain siapa, belum ngantuk to Mas?” tanya Pak Umar salah satu petugas.


“Bukannya belum ngantuk Pak, sepertinya den Bagusnya yang belum mau tidur itu, hahaha,” jawab Udin menimpali rekan kerjanya.


“Bener tebakan kamu Din, mau ikut jaga mala mini kayaknya, padahal Buna-nya udah pules di dalam,” jawab Eza menghampiri tiga sekuriti itu.


Sebenarnya ada enam petugas yang menjaga tiap malam, dan pagi hingga sore, sepertinya yang lain masih patrol atau mungkin sedang hajat yang lain. Eza duduk bersama mereka yang sedang bermain catur dan berbincang. Baby Z yang merasa mendapatkan teman begadang sontak kegirangan sendiri dengan mengoceh seolah mengajak orang-orang itu berbicara. Melihat bayi itu mengoceh membuat mereka yang mendengarkan gemas sendiri.


Tentu saja dibalas dengan ocehan oleh Baby Z. Eza dan yang lainnya terkikik mendengar ocehannya. Saat datang yang lain suasana pos penjagaan semakin ramai dengan ocehan-ocehan mereka yang menghibur Baby Z ditambah dengan Baby Z sendiri. Eza tak mengantuk jadinya.


“Nggak bener ini saya ajak anak saya di sini, bukannya ngantuk malah ikut ronda beneran ini. Saya masuk dulu ya Bapak-bapak,” pamit Eza.

__ADS_1


“Iya Mas Eza, semangat begadangnya, hehehe” jawab mereka.


Masuk ke rumah Eza berpapasan dengan Mama yang tampaknya baru saja dari dapur mengisi teko kecil untuk di kamarnya.


“Lho! Belum tidur to nak bayi satu ini?” Mama menghampiri Eza.


“Mau ikut ronda katanya malam ini. Matanya masih seger bener Ma, jangan-jangan sama Kakeknya dilatih begadang ya?” celetuk Eza.


“Hush! Ngawur! Kemarin-kemarin waktu kamu di Jombang dia tidurnya juga nggak malam-malam banget kok Za, emang lagi pengen sama Ayahnya mungkin,” jawab Mama mengambil alih Baby Z dan memberikan tekonya pada Eza.


Baby Z tersenyum saat melihat Omanya. Sepontan ia mengoceh pada Omanya itu. Dengan senang hati Oma meladeni cucu-nya itu. Betapa lucunya anak ini. Tak henti-hentinya Mama bersukur dan berterima kasih pada Pak Bagas karena memberikan kepercayaan pada anak dan menantunya untuk merawat cucunya. Mama menimang-nimang Baby Z agar anak itu mengantuk. Biasanya anak seumuran Baby Z akan mengantuk saat ditimang-timang seperti ini. Sementara Mama menidurkan si kecil, Eza justru malah berbaring di sofa ruang keluarga. Ia benar-benar mengantuk saat ini. Ia memang belum sempat beristirahat sepulang dari Jombang tadi siang.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2