Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Lelah


__ADS_3

Perjalanan siang ini sedikit terhambat. Apalagi kalau bukan karena macet. Wardah beberapa kali melihat ke arah Husna yang masih tertidur pulas. Tujuan mereka kali ini langsung menuju rumah sakit. Ini merupakan hari terakhir Anisa di rawat. Sore nanti kabarnya akan kembali ke rumah.


Hampir satu jam mereka hanya stuck di pusat kota. Ntah kenapa macetnya sangat keterlaluan.


"Belum nyampek ya Kak?" tanya Husna yang baru saja terbangun.


"Tinggal satu tikungan lagi ini, tapi nggak jalan-jalan dari tadi," jawab Eza.


Melewati tikungan yang dimaksud, akhirnya sampai juga mereka di tempat tujuan. Wardah dan Husna mengikuti Eza yang tengah menanyakan pada resepsionis rumah sakit dimana ruangan Anisa.


"Assalamu'alaikum," sapa mereka memasuki ruang rawat Anisa.


"Waalaikumussalam," jawab mereka.


"Wardaaah!" teriak Anisa.


Ibu dua anak itu tak tahu situasi sekali. Teriak sesuka hati sendiri saja. Anisa turun dari tempat tidurnya.


"Jangan! Jangan turun! Aku aja yang ke sana," teriak Wardah kembali.


Sudah macam tak bertemu lima tahun saja. Padahal minggu lalu juga sudah bertemu. Wardah menyalami para tetua di sana barulah menghampiri Anisa.


"He krucil! Udah dibilangin nggak usah pulang! Malah ngintil!" geram Bunda melihat Husna memasuki ruangan Anisa.


"Adudududuuu! Sakit Bundaaa!" teriak Husna yang kini dijewer Bunda.


Untung saja ada Ayah yang melerai dua wanita yang sedang bertengkar itu. Akhirnya kini Husna duduk bersama sang Ayah, tak mau melirik Bundanya.


"Karepmu! Ngikut di ketiak Ayah aja terus!" ujar Bunda. Tawa seisi ruangan pun tak dapat dielakkan.


"Upin Ipinnya mana?" tanya Wardah.


"Lagi diperiksa dokter, nanti sorekan sudah pulang kita," jawab Bunda Eza.


"Bunda kamu waktu hari pertama di sini sampai malam lho," sambung Bunda.


"Hehehe, iya Bun... Mewakili Wardah," jawab Wardah.


"Mas, minjam baju ganti dong! Cuacanya semakin panas ternyata," ujar Eza mendekati Farhan.


Farhan memberikan setelan kaos dan celana jins selututnya pada Eza. Menambah kesan ketampanannya saja. Ia justru terkesan seperti Mas-mas kuliahan.


"Sayang, ikut Bunda jemput kembar yuk!" ajak Bunda.

__ADS_1


Dengan senang hati Wardah mengikuti Bunda keluar. Tak sabar rasanya ingin menggendong baby twins. Melihat dari luar kaca saja Wardah sudah kegirangan. Apalagi sudah menggendong salah satu dari keduanya?


Wardah tak bisa membedakan dari dua baby ini. Sungguh tak bisa. Yang Wardah tahu, salah satunya ada tahi lalat di bawah bibirnya sebelah kanan. Dan yang satu sebelah kiri. Comel sekaliiiii.


Dengan perlahan Wardah mengambil alih gendongan perawat. Bayi ini terlihat tampan nan menggemaskan sekali.


"Gantian Ay... Mas pengen gendong juga," ujar Eza menghadang Wardah setelah sampai di ruangan Anisa.


"Nggak mau! Belum puas," bantah Wardah.


"Ini-ini, nggak usah rebutan. Masih ada satu lagi," lerai Bunda.



Dengan isengnya Farhan memfoto Eza.


"Kirim fotonya Mas!" seru Eza setelah sadar jika Farhan memfotonya. Biasalah, untuk kepentingan kontennya. Hahaha.


"Tumben Caca nggak kesini lagi," celetuk Umi Anisa.


"Masih nyiapin acara lamaran Wardah Mi," jawab Anisa.


"Oh iya, jadinya kapan mau nemuin Kakaknya Eza?" tanya Anisa pada Wardah yang berdiri di samping tempat tidurnya.


"Oh, berarti Mamanya Eza sudah di Jogja?"


Wardah menganggukkan kepalanya mengiyakan. Ia masih setia menimang baby di gendongannya.


"Super duper suuiibuk kamu ya. Keluar masuk kota terus, hahaha," celetuk Anisa.


🌼🌼


Setelah sholat asar Eza dan Wardah mengantarkan Anisa dan Farhan kembali ke mansion. Barulah mereka kembali ke rumah Bunda.


Hari ini mereka telah melakukan perjalanan yang cukup panjang. Dari kediri menuju pesantren Abah Munif, kemudian kembali ke rumah sakit, barulah pulang ke rumah. Rasanya punggung Wardah dan Eza meronta-ronta meminta diistirahatkan.


Memasuki gerbang rumah, terlihat di sana ada mobil Kak Yusuf dan satu mobil lagi yang dapat dipastikan jika itu milik Hito.


"Pengen cepet baring," gumam Wardah.


"Silahkan cantiknya Mas Eza," ujar Eza membukakan pintu Wardah.


"Haiissh," Wardah salting. Dipukulnya lengan Eza untuk menutupi kegugupannya.

__ADS_1


.


.


.


"Assalamu'alaikum," sapa Wardah dan Eza.


"Waalaikumussalam!"


Bundalah yang membukakan pintu untuk mereka. Dipeluknya Eza dan Wardah secara bergantian setelah menerika salam dari keduanya.


"Lancarkan perjalanannya?" tanya Bunda.


"Alhamdulillah lancar Bun," jawab Wardah.


Memasuki ruangan, sudah ada Kak Yusuf dengan Hito yang tampak serius berbincang di ruang keluarga. Bahkan mereka tak sadar dengan kehadiran Wardah dan Eza. Hingga nimbrungnya Eza barulah mereka sadar. Fokus sekali.


"Mas Eza istirahat dulu aja, pasti capek," ujar Wardah.


"Nggak papa, Mas mau di sini dulu... Baring di sini juga enaken kok," jawab Eza yang kini berbaring di kasur lantai samping sofa bersama Inayah.


"Iya! Om Ejakan kagen sama Naya," sambung Inayah yang kini memeluk Eza gemas.


Utututuuu, lucu sekali mereka....


"Iyaa sayang, Om Eja kangen sama Inayah," jawab Eza. Sudah macam anak dengan ayah saja mereka berdua.


Sedangkan Wardah memilih untuk ke kamar. Sudah tak sanggup rasanya mempertahankan punggung dalam keadaan tegap.


Cklek!


Memasuki kamar, Wardah melihat Caca yang tengah tertidur pulas. Mumpung mereka sedang cuti, jadi manfaatkan untuk tidur siang.


"Caa, Cacaa, sholat asar dulu Caa," panggil Wardah membangunkan Caca.


"Hooaamm, udah pulang ta?" membangunkan Caca memang tak sesulit membangunkan Wardah. Hahaha.


Caca ke kamar mandi, kini gantian Wardah yang membaringkan tubuhnya. Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan? Mengistirahatkan tubuh kali ini benar-benar nikmat sekali. Tak perlu menghitung sampai lima menit, dengan hitungan detik pun Wardah sudah pulas setelah membaca doa.


Meskipun sejatinya tak boleh tidur di antara asar dan maghrib, tapi dilakukan sekali tak apalah ya? Wardah benar-benar sangat lelah. Setelah sholat bukannya ke bawah keluar kamar, Caca malah kembali merebahkan diri di sebelah Wardah dengan memeluknya kembali terlelap. Mumpung masih pukul setengah tiga lewat.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2