Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Kembali Muncul


__ADS_3

Selesai rapat, Wardah dan Eza masih menemani Kak Winda membereskan ruangan barunya nanti. Dibantu oleh dua OB juga di sana. Barang Rio ternyata tak sebanyak bayangannya. Jelas sekali jika laki-laki itu memang sangan santai selama ini. Biasanya para CEO akan menyediakan tumpukan berkas penting yang banyak, tapi ini hanya sedikit sekali. Padahal laki-laki itu sudah menjabat dalam waktu yang cukup lama.


Eza dan Wardah memilih untuk menjemput Sakha dan Dinda. Meninggalkan Kak Winda yang masih setia menata barang-barangnya.


Kriett! Sosok Rio tiba-tiba masuk. Sontak dua OB yang membantu Winda, awalnya ada di tengah ruangan, menunduk dan melipir ke pinggiran ruangan menata rak di sana. Seolah memberikan ruang pada Rio untuk berbicara pada Wardah.


"Ada yang tertinggal? Sepertinya sudah tidak ada barang tertinggal," ujar Kak Winda.


"Nggak, aku mau ngomong sama kamu," jawab Rio.


"Sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan," ujar Kak Winda yang tak menghiraukan Rio, dan tetap menata mejanya.


"Pliiss Ndaa, aku perlu ngobrol sama kamu," mohonnya.


Beberapa kali Rio membujuk Kak Winda, hingga Kak Winda geram sendiri. Akhirnya Ia berjalan ke arah balkon dan mengisyaratkan Rio agar mengikutinya.


Beberapa saat setelah hanya ada mereka berdua di balkon kantor:


"Kamu nggak bisa bertindak berlebihan begini dong Nda! Bagaimana jika nanti anak aku lahir dan aku sudah tidak punya pekerjaan. Kamu sendiri juga tahu bagaimana keluarga ku yang sangat menyayangi kamu. Mereka pasti tidak akan menerima Ayu!" ujar Rio panjang x lebar x tinggi.


"Aku kira kamu bakalan minta maaf sama aku Mas. Ternyata aku salah. Ternyata kamu juga udah mau punya anak sama wanita itu. Selamat ya... Aku akan transfer ke rekening kamu untuk modal usaha kamu yang baru. Sepertinya akan cukup, tapi aku nggak tahu kalau kamu sama wanita itu boros, akan cukup atau tidak! Aku permisi. Sebaiknya kamu cepet pergi dari sini," jawab Winda kemudian berlalu meninggalkan laki-laki tak tahu diri itu.


"Beneran gila rupanya laki-laki itu! Anak sahnya saja tak ditanyakan sama sekali, lha ini malah mbahas anak baru yang belum launching!" geram Winda saat berjalan ke ruangannya lagi.


...****************...

__ADS_1


Setelah menjemput Sakha dan Dinda di sekolahnya, Wardah dan Eza langsung ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Sebenarnya hanya Eza yang bekerja, tapi Wardah bersikeras untuk ikut suaminya. Jadilah dua bocil itu ikut sekalian. Wardah menyapa dibagian divisi terlebih dahulu sebelum ikut ke ruangan Eza. Setelah berbincang sebentar barulah ia menyusul sang suami ke ruangannya. Wardah mengajak Sakha dan Dinda untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu dan kini saatnya Dinda dan Sakha bermain. Wardah meminta pada Dinda dan Sakha untuk bermain di ruangan pribadi agar tak menggangu Eza.


“Ini kopi-nya Mas,” ujar Wardah yang baru saja membuatkan kopi untuk Eza.


“Terima kasih sayang,” jawab Eza.


Sontak ia menarik tangan Wardah dan mendudukkannya di pangkuannya. Seketika Wardah panik, takut jika anak-anak tiba-tiba keluar dan bagaimana jika tiba-tiba ada yang masuk ke ruangan suaminya disaat posisi mereka seperti ini.


“Tenang aja, nggak aka nada yang lihat Ay,” ujar Eza dengan terkikik melihat kepanikan Wardah.


“Kamu-kan harus kerja Mas, aku biar ke kamar sambal lihatin anak-anak aja,” jawab Wardah.


Eza menggeleng dan membenamkan kepalanya di ceruk leher istrinya yang terbalut dengan jilbab. Mencium aroma parfum istrinya membuatnya rileks. Beberapa minggu yang lalu mereka sibuk dengan empat bulanan Wardah, setelah itu sibuk dengan urusan perceraian Kak Winda, membuat pasangan itu rindu akan kemesraan. Eaakkk!


Eza mengelus lembut perut Wardah yang sudah mulai besar itu. Membuat Wardah juga nyaman menikmati hal itu. Eza sama sekali tak terganggu bekerja dengan memanjakan Wardah seperti itu. Sesekali mereka mengobrol dan sesekali Eza meminta pendapat pada Wardah mengenai pekerjaannya dan sesekali pula mereka bercanda berdua dengan bahagianya. Tak khawatir dengan dua bocil di kamar, karena Dinda sudah bisa diandalkan dalam menjaga adiknya.


“Siapa Ay?” tanya Eza.


“Nggak tahu Mas, kayaknya orang iseng deh. Sepertinya aku harus ganti nomor deh Mas, sering banget ada nomor-nomor nyasar begini,” jawab Wardah meletakkan gawainya di atas meja Eza setelah mematikan telepon dari nomor tak dikenal tadi.


“Iyaa, nanti kalau pulang kita mampir beli card baru,” ujar Eza.


Tak berselang lama gawai Wardah kembali berdering. Dari nomor awalnya sepertinya sama seperti yang tadi. Akhirnya Wardah mengangkatnya setelah beberapa kali berdering.


“Hallo, assalamu’alaikum. Dengan siapa?” tanya Wardah dengan Eza yang ikut mendengarkan.

__ADS_1


“Cantik, aku nggak rela lho kamu ngelupain aku,” jawab seseorang di seberang sana.


Ternyata bukan suara asli, melainkan suara samaran. Eza yang mendengar hal itu sontak mengambil alih gawai istrinya.


“Anda siapa?” tanya Eza.


“Ow-Ow-Ow, sudah diambil alih ternyata. Bahagia sekali kamu bisa bersama dengan pujaan hatiku selama beberapa tahun ini. Tapi jangan senang dulu, sebentar lagi istri tercintamu akan kuambil alih!” jawab penelepon misterius itu.


“Jangan sembarangan berucap ya! Anda it--” ucapan Eza terpotong karena tiba-tiba telepon diputuskan.


“Gimana Mas?” tanya Wardah. Eza langsung mengecek riwayat panggilan istrinya. Zonk! Orang itu ternyata telah memanipulasi nomornya. Nomor pelaku itu tak ada di daftar panggilan masuk.


“Sayang, beberapa hari ini kamu merasa ada yang ngikutin kamu nggak? Habis ini kita langsung cari nomor baru buat kamu ya,” ujar Eza.


“Nggak ada Mas, kan beberapa hari ini aku sama kamu terus. Aku nggak papa kok, mungkin itu tadi orang iseng aja,” jawab Wardah.


“Kalaupun hanya orang asing, kita nggak boleh terlalu menyepelekan... kalau keluar tanpa aku, kamu harus dikawal pokoknya,” ujar Eza lagi.


Ting! Notification baru di gawai Wardah.


‘Kamu makin cantik deh pakai blazer warna denim,’


Bunyi chat itu. Chat yang tak diketahui nomor dan nama pengirimnya. Wardah langsung memberikan gawainya pada Eza.


“Sakit nih orang!” geram Eza.

__ADS_1


Sontak Eza mengambil gawai Wardah. Mematikannya, dan menyimpannya. Biarlah sementara waktu ini Sang Istri tak usah memegang gawai.


...Bersambung...


__ADS_2