Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Menjemput


__ADS_3

Setelah beberapa saat akhirnya sampailah mereka di tempat tujuan. Bandara Soekarno-Hatta. Eza mengambil alih Dinda dan membantu wanitanya berdiri. Benar tebakan Eza, kaki Wardah pasti keram. Dipijit Nya pelan-pelan sembari menggendong Dinda.


Barulah mereka menuju ruang tunggu mencari keberadaan Anisa dan Farhan.


Dinda digendong oleh Eza agar tak berlarian. Semakin repot nanti jika anak itu berjalan sendiri. Sebelah tangannya yang terbebas menggenggam jemari Wardah. Percayalah, Eza menguatkan ototnya untuk menggendong Dinda dengan sebelah tangannya. Maklumlah, Dinda memang lebih gembul kali ini. Hahaha.


Setelah berjalan sedikit jauh, tampaklah Farhan yang tengah menggendong salah satu Si Kembar. Ntah itu Abang atau Adiknya. Wardah melambaikan tangannya yang terbebas ke arah Farhan dan menghampirinya. Tapi tak Anisa ataupun Faiz di sana.


"Assalamu'alaikum," sapa Wardah dan Eza.


"Waalaikumsalam," jawab Farhan.


"Ya Allah, udah besar ini anaak... Ini Abang atau Adiknya? Atutututuuu, kangennyaaa.... Sini nak ikut Bundanya," ujar Wardah mengambil alih bayi gumussh itu dari gendongan Farhan.


"Ini Abang," jawab Farhan.


Setelah berbincang sebentar, barulah Farhan mengajak Wardah dan Eza ke ruang tunggu yang sengaja ia sewa. Farhan sengaja mengajak anaknya ke luar untuk menunggu jemputan mereka. Si Kembar juga rewel tadi, jadilah Farhan mengajak berkeliling.

__ADS_1


Tampak Anisa tengah menonton televisi yang tersedia di ruangan yang mereka sewa. Sedangkan Faiz tampak tertidur pulas di samping Ipin yang tertidur pula dengan pulasnya. Di sini Wardah percaya jika mereka telah menunggu sedari tadi.


Akhirnya mereka memutuskan untuk singgah terlebih dahulu sembari mereka beristitahat. Wardah bermain dengan Abang baby bersama Dinda. Dinda sangat senang melihat dua bayi sekaligus yang tampak sama. Berulang kali Dinda meremas dengan gemasnya saat memegang pipi bakpau itu.


"Jangan kuat-kuat Kak Dinda, nanti dedeknya sakit," ujar Wardah mengingatkan ponakannya itu.


🌼🌼🌼


Setelah sekian lama mereka menunggu Faiz bangun, akhirnya Anisa memutuskan untuk membangungkan Adiknya. Padahal Wardah sudah mencegahnya, tapi tetap saja keras kepala.


"Nanti kalian Mas Eza antar ke rumah dulu ya, tapi aku samaas Eza langsung ke kantor. Ada jadwal siaran sama kerjaan lain soalnya," ujar Wardah.


"Iyaa, insyaallah udah ada di rumah semua kok yang lain. Ada Kak Winda juga, jadi nggak bakal bosen nanti,"


"Kak, mau ikut ke kantor dong!" celetuk Faiz.


"Boleh, ikut aja Faiz," jawab Eza dengan senangnya.

__ADS_1


Ia bisa sekaligus menjelaskan apa saja pekerjaan di dunia pertelevisian Indonesia.


Seluruh keluarga Eza menyambut kedatangan tamu agung Wardah di depan pintu. Lihatlah wajah sumringah mereka. Dinda berlari menghampiri Inayah yang ternyata sudah pulang. Mama dan Bunda langsung mengambil alih Si Kembar setelah menyalami tamu mereka. Sedangkan Wardah dan Eza langsung pamit ke kantor diikuti Faiz.


Faiz sangat berantusias saat diberikan tawaran pekerjaan oleh Eza. Ia bahkan mengabaikan Anisa yang menyuruhnya untuk beristirahat terlebih dahulu.


Baru sampai di depan kantor saja ia sudah terperangah melihat tampilannya. Begitu megah. Sontak ia melihat tampilannya yang tak pantas jika memasuki kantor ini. Ia hanya mengenakan kaos oblong dengan kemeja sebagai luarannya. Dipadukan dengan celana jins. Berbeda dengan Eza yang tadi sudah berganti dengan jas, sedangkan Wardah mengenakan pakaian sopan dengan polesan make up natural untuk mengisi acara.


"Hallah! Kak Eza pakai jas karena mau ada meeting. Kalau Hari-hari biasanya dia juga paka pakaian casuall kok. Anggap aja ini baru pengenalan seisi kantor. Besok kita ke sini lagi untuk membicarakan tugas kamu ke depannya." ujar Wardah saat tahu gelagat keraguan Faiz.


"Di dalam banyak yang pakai baju bebas Iz, tenang aja," sambungnya menarik lengan baju Faiz agar mengikutinya.


Mengikutinya? Tentu saja! Karena Eza sudah berlalu dari tadi karena sudah terlambat meeting. Jadilah Faiz bersama Wardah. Memasuki office, tampak para pegawai banyak yang menanyakan siapa gerangan laki-laki tampan yang tengah bersamanya.


"Siang Mbak Wardah.... Sama siapa nih? Bening amat," sapa Rania, resepsionis di kantor.


"Adik saya," jawab Wardah dengan senyumannya yang tak pernah luntur.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2