
Benar dugaan Wardah, di rumah masih sepi. Wardah meletakkan Sakha di kamar Bunda terlebih dahulu. Di kamarnya terlalu jauh. Nanti kalau bangun juga tak akan dengar karena ada di lantai dua. Jika di kamar Bunda-kan dekat. Gita mengikuti Wardah menidurkan Sakha. Membiarkan Fadhil menunggu di ruang tamu sendirian.
“Udah lama ta nunggu aku tadi?” tanya Wardah pada Gita sembari menepuk-nepuk Sakha agar lebih pulas tidurnya.
“Belum, paling tiga menit kami datang, kamu juga datang,” jawab Gita yang duduk di samping Wardah.
Gita melihat-lihat sekitar sembari menunggu Wardah. Setelah Sakha dirasa sudah pulas, barulah mereka berdua keluar. Wardah pamit ke belakang membuatkan minuman untuk tamunya. Di dapur, Wardah berpapasan dengan Mbak Narsih yang hendak kembali ke kamarnya. Alhasil Wardah meminta tolong pada Mbak Narsih untuk menyiapkan cemilan pendamping.
Wardah membuatkan jus jeruh untuk Gita dan Bang Fadhil. Rasanya saat ini cukup canggung berhadapan dengan Bang Fadhil. Mungkin karena sudah lama tak bertemu. Dulu pun berpisah dengan keadaan yang tak baik-baik saja. Tapi itu dulu, kini keadaan sudah berbeda. Mungkin hanya perasaan Wardah sejenak.
“Ada apa nih? Kok dadakan ngabarin mau mainnya? Kan aku nggak nyiapin cemilan banyak,” ujar Wardah yang kini sudah duduk si sofa teroisah dengan Gita dan Fadhil.
__ADS_1
“Iya nih! Random aja ngajak Bang Fadhil ke sini, tadi tu aku ikut Bang Fadhil ketemu klien terus pas udah selesai langsung deh nelvon kamu tadi.” jawab Gita.
“Padahal aku pengen ngajak Sakha main,” ujar Gita.
“Hahaha, telat kamunya, ini jamnya dia tidur siang.” Jawab Wardah.
Jujur saja kini Wardah takt ahu hendak membuat obrolan apa lagi. Jika hanya ada Gita di sini, mungkin Wardah masih bisa berbincang bebas. Tapi jika ada Fadhil membuatnya sedikit canggung. Tiba-tiba Gita penasaran dengan album pernikahan temannya itu. Ia yang ketinggalan kabar membuatnya penasaran dengan prosesi pernikahan Wardah dengan pemilik salah satu stasiun tv terkemuka.
Tanpa sungkan Gita meminta izin untuk melihat-lihat beberapa bingkai foto yang tertata rapi nan estetik di ruang tamu. Ada dua figura besar yang salah satunya dapat Gita kenali. Sosok Wardah yang tampak anggun nan elegan mengenakan dress super cantik dengan Eza yang mengenakan jas dengan warna senada. Satunya Gita tak tahu. Tampak asing.
“Oowh, yang ini pasti mertua kamu?” tebak Gita menunjuk foto Mama dan Papa.
__ADS_1
“Iyaa, mending lihat albumnya aja biar nggak capek berdiri,” ujar Wardah langsung membuka laci meja mengambil sebuah album.
Albumnya saja tampak tak biasa. Simple juga elegant. Gita melihat-lihat album pernikahan Wardah bersama Fadhil yang ternyata juga kepo. Gita terkagum-kagum melihat dan tak percaya jika saat itu menjadi pernikahan paling fenomenal. Anehnya ia sama sekali takt ahu mengenai kabar pernikahan temannya itu. Begitupun dengan Fadhil. Mungkin karena keduanya saat itu memang masih di luar negeri.
Mbak Narsih datang membawakan beberapa cemilan. Tak berselang lama terdengarlah suara mobil yang baru saja masuk. Wardah kira itu Eza. Tapi ini belum waktunya pulang. Karena penasaran akhirnya Wardah keluar untuk melihat siapa gerangan yang datang. Ternyata Mama yang pulang bersama Bunda dan Inayah. Sepertinya Mama tadi mampir ke butik Bunda. Makanya bisa pulang barengan.
“Bunda bareng sama Mama pulangnya?” sapa Wardah sembari menyalami dua Wanita hebatnya. Diikuti Naya yang mencium punggung tangannya.
“Iyaa, tadi ketemu di butik,” jawab Bunda.
“Ada Gita Bun, masih ingat nggak Bunda? Temen Wardah waktu MTS di pesantren.” Ujar Wardah memberi tahu dengan excited.
__ADS_1
Bunda tak kalah terkejutnya mendengar ujaran anaknya. Bunda yang otaben-nya akrab dengan teman-teman anaknya tentu saja tahu dengan sosok Gita. Bunda memang humble pada siapa saja. Sehingga teman-teman Wardah juga suka jika bersama Bunda. Wardah juga memberitahu Mama siapa gerangan Gita karena tampak bingung dengan perbincangan ibu dan anak itu.
...Bersambung...