Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Makan Malam


__ADS_3

Eza dan Wardah ada di kemudi depan. Sedangkan Liza dan Faiz ada di kursi belakangnya. Liza melirik ke arah Faiz yang sedari tadi diam membisu. Laki-laki itu hanya berbicara jika menanggapi Wardah ataupun Eza. Bahkan laki-laki itu sama sekali tak menengok ke arah Liza.


Sampai di mansion, Wardah mengajak Liza ke kamarnya untuk mengganti seragamnya. Liza meneliti tiap sudut ruangan Wardah. Hingga kini Wardah dan Liza sudah berada di deretan pakaian yang beragam modelnya.


"Kirain, baju Kak Wardah panjang semua, ternyata ada yang pendek juga," celetuk Liza mengambil kaos pendek milik Wardah.


"Itu buat di kamar aja. Kamu pilih dress panjang yaa, Faiz suka cewek yang berhijab," jawab Wardah.


Liza berbinar seketika. Ia mengangguk menimpali Wardah. Bahkan Liza meminta kepada Wardah agar memilihkannya. Wardah yang perawakannya tak tinggi tentu saja memilihkan dress yang lebih panjang darinya. Beruntung Wardah memiliki beberapa dress untuk manusia tinggi. Hahaha. Bukan sengaja menyetok, tapi dress yang kebanyakan itu kebanyakan pemberian dari orang-orang. Wardah tak memaksa Liza untuk berhijab, sebagai permulaannya, Wardah memberikan selendang yang menutupi sebagian rambutnya.


Wardah mengajak Liza ke taman belakang. Agar lebih santai belajarnya. Dipertemuan pertama ini Wardah bercerita yang dibubuhi dengan ilmu-ilmu di sela-sela ceritanya.


"Faiz, minta tolong ambilin cemilan di dapur," ujar Wardah saat melihat Faiz hendak keluar ke taman belakang tapi tak jadi.


Faiz mengangguk kemudian berlalu masuk ke dalam. Jangan lupakan Liza yang menatap Faiz tanpa berkedip. Sungguh ciptaan Allah yang sangat luar biasa.


"Cuek banget sih Kak, adiknya?" tanya Liza.


"Biasanya juga nggak gitu, gara-gara ada kamu aja tu jadi dingin," jawab Wardah.


"Lha kenapa? Gugup yaa lihat aura kecantikan aku?" tanya Liza dengan tingkat ke-PD-an yang amat tinggi.


"Hidihh, PD banget anak ini," gumam Wardah.


Setelah beberapa saat, datanglah Bunda bersama cucunya membawa senampan cemilan dan minuman dingin. Tampak Liza celingak-celinguk ke belakan Bunda seolah mencari sesuatu.

__ADS_1


"Lhaa Faiz mana Bun?" tanya Wardah seolah tahu maksud tingkah perempuan di depannya.


"Ikut Eza ngerapihin tanaman hias di depan," jawab Bunda.


"Siang tante," sapa Liza menyalami Bunda.


"Siang, namanya siapa sayang?" tanya Bunda.


"Liza tante," jawab Liza malu-malu.


"Panggil Bunda aja, ini Bundanya Kakak," ujar Wardah.


"Emangnya boleh?" lirih Liza.


Nayla sontak duduk menyender di samping Wardah. Bunda kembali ke dalam. Nayla tak punya kawan untuk hari ini, karena Dinda ikut Papa dan Mamanya perjalanan bisnis ke luar negeri. Nayla tampak asik membaca buku dengan judul "Kisah Waliyullah".


Liza yang melihat Nayla tampak asik menjadi penasaran dengan bacaan anak itu.


"Pengen ikut baca buku itu deh, kayaknya asik banget," ujar Liza.


Kini berakhirlah dengan Liza membacakan Nayla. Tak jarang mereka bercengkrama bersama dan tertawa. Sedangkan Wardah kembali ke dalam mansion untuk membantu menyiapkan makan malam.


***


"Sering-sering main ke sini Liz," ujar Mama pada Liza.

__ADS_1


"Hehe, iyaa Tante," jawab Liza.


Bunda yang tak melihat Faiz di meja makan meminta kepada Wardah untuk memanggilnya. Wardah juga heran, biasanya anak itu tak harus dipanggil. Kenapa kini tak ada?


Dipanggilnya Faiz ke kamarnya. Ternyata sang empunya tengah menyiapkan barang-barang perlengkapan ospek di universitasnya. Pantas saja diketok pintunya tak menyahut, ternyata masih fokus. Wardah masuk dan berjongkok di samping Faiz duduk.


"Kak Wardah?" kaget Faiz.


"Udah ditungguin yang lain di meja makan," ujar Wardah mengambil potongan kertas memasukkannya ke dalam tempat samah.


"Iyaa kak, bentar lagi kelar," jawab Faiz.


Sentuhan terakhir untuk atribut ospeknya, akhirnya selesai juga. Faiz mengikuti Wardah ke ruang makan. Keluarga yang lain sudah mulai makan tinggallah Faiz dan Wardah yang baru datang.


"Malamm..." sapa Faiz dengan senyuman manisnya.


"Ayo makan Iz! Habis ini langsung ke masjid," ujar Eza.


"Iyaa, kamu bantuin Kak Eza ngajar ngaji anak-anak ya Iz," sambung Faiz.


"Iyaa Pa," jawab Faiz yang kini sudah memanggil Papa Eza dengan sebutan itu. Meski sebenarnya masih tak terbiasa.


Faiz melihat tempat duduk yang tersisa hanya satu. Yaitu di sebelah Liza dan Bunda. Mau tak mau, Faiz duduk di sana.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2