Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Work!


__ADS_3

Wardah kini sudah duduk di tempatnya, gilaran Papa Eza menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya dan dibalas oleh Kak Yusuf yang menjawabnya. Eza dan Wardah sudah berdiri berhadapan. Inilah momen yang ditunggu-tunggu, prosesi penyampaian perasaan oleh Eza kepada Wardah.


"Bismillahirahmanirahim. Hari ini dihadapan orang tua, keluarga, dan semuanya, izinkan saya menjadi bagian dalam hidup kamu. Saya berjanji akan selalu menjaga, menghadirkan kebahagiaan, serta menjalani suka duka bersama dengan penuh perasaan sayang yang Allah SWT berikan kepadaku," lirih Eza. Suasana haru atas rangkaian ucapan Eza tak dapat terelakkan lagi. Tangis haru Wardah dan Eza pun tak dapat dibendung lagi.


"Aku berjanji akan menjadi laki-laki yang terbaik untuk kamu, membiarkanmu tumbuh dengan penuh kasih dan cinta hingga akhir usia nanti. Dengan izin orang tuaku, maukah kamu menjadi istriku Wardah Alisha Khumairah?" sambung Eza.


"Bismillahirahmanirrahim, atas izin Allah dan restu Bunda, serta seluruh anggota keluarga, saya Wardah Alisha Khumairah menerima Mas Arzan Altezza Raditya Balindra sebagai calon suami. Terima kasih untuk Mas Eza yang sudah sabar dalam meyakinkan Wardah ataupun keluarga Wardah, terima kasih sudah hadir dalam kebahagiaan Wardah. Semoga niat dan rencana baik kita dapat memberikan barokah," jawab Wardah dengan penuh haru.


Mama menyematkan cincin sebagai pengikat antara mereka. Dilanjutkan dengan prosesi penyerahan hantaran.


Acara lamaran berlangsung secara khidmat. Wardah dan Eza masih sibuk dengan tamu-tamu yang menghampiri mereka untuk mengucapkan selamat. Anisa yang sedari tadi tak sabar untuk memeluk sahabatnya harus mengalah terlebih dahulu.


"Kok baru nyamperin sih?" tanya Wardah pada Anisa.


"Tamunya banyak banget, jadinya baru bisa meluk kamu deh," jawab Anisa.


"Kembar mana?" tanya Wardah. Ia belum melihat kembar sedari tadi.


"Tidur di kamar," setelah dicukur rambutnya, kedua anak itu langsung terlelap.


🌼🌼


"Masyaallah, cantiknya menantu Mama," ujar Mama. Kini mereka telah pulang ke rumah.


Sebelum sholat asar tadi acara ditutup. Wardah masih mengenakan gaunnya. Dua bocil perempuan ini masih penasaran dengan pakaian yang dipakai Wardah. Sedari tadi memegangi selendang di kepala Wardah, hingga memegang gaunnya yang bertaburan payet-payet.


"Aunty mau sholat dulu ya," ujar Wardah, karena memang belum sholat asar.


"Dinda mau ikut!" seru Dinda.

__ADS_1


"Naya juga!" sambung Inayah. Sontak Papa dan keluarga yang ada di ruang keluarga tertawa.


"Aku juga mau ikut!" seru Eza menirukan suara kecil Dinda dan Inayah. Bukan jawaban Wardah yang diterima, malah jeweran Mama yang mendarat di telinganya.


Okelah, biarkan kedua anak ini mengikuti kemana pun Wardah berjalan. Dengan bahagianya mereka mengikuti Wardah menaiki tangga hingga ke kamar. Wardah melepaskan jarum-jarum dan aksesoris yang menempel di kepalanya, cukup sulit ternyata, karena memang banyak.


Dua bocil itu masih saja mengikutinya, alhasil Wardah harus mengurus mereka juga. Memandikan hingga tuntas, barulah ia mengurus dirinya.


Setelah tersebarnya kenyataan bahwa Eza melamar seorang perempuan, pihak media mulai mengusik kehidupan Wardah. Tak hanya di sosial media, dihalaman kantor nan apartemen sudah banyak diserbu. Untung saja Wardah dan Eza masih di Jombang. Tak berani rasanya kembali ke Jakarta untuk saat ini.


Tapi lusa ia harus berangkat ke Jakarta. Bukan, Bandung tepatnya. Karena lokasi ijab qabul dan resepsi yang dipilih ada di Kota Kembang itu.


Sepertinya Dinda benar-benar menikmati memiliki aunty baru. Dimana ada Wardah, disitu pasti ada Dinda. Bahkan Mamanya sendiri terlupakan olehnya. Makan, ia tak mau disuapi Mbak Winda, dengan tergesa ia duduk di bangku samping Wardah.


"Mamamu itu ini lho nak, bukan itu," ujar Mbak Winda.


"Nggak mau! Maunya sama aunty ajah!" jawabnya.


🌼🌼🌼


Seperti rencana sebelumnya, hari ini Wardah akan berangkat ke Jakarta untuk mempersiapkan acara akad nikah. Bunda akan setia menemani Wardah. Tak mungkin sang anak dibiarkan berangkat sendiri, meski sebenarnya Mama Sarah dan Papa Surya sangat menyayangi anaknya.


Wardah pasti akan kembali bekerja saat sampai di Jakarta. Jadi, biarlah Bunda yang menemani Mama Sarah dan Mbak Winda untuk menghandle persiapan-persiapan. Sebelum berangkat, Wardah menyempatkan diri untuk mengunjungi Anisa, Wardah tak yakin pula jika Anisa akan berangkat ke Jakarta. Ia memiliki buah hati yang masih bayi.


"Aku nggak rela kalau cuma bisa lihat kamu dari tv aja say," ujar Anisa.


"Minta doanya saja. Nggak papa kok, kasihan kembar kalau diajak perjalanan jauh," jawab Wardah.


"Bismillah, kita lihat saja besok... Tapi, kamu harus tetap kirimin aku gaun bridesmaids lho!" Ujar Anisa.

__ADS_1


"Iya, pasti," jawab Wardah.


Barulah Wardah berangkat setelah puas berpamitan. Kak Yusuf akan berangkat menyusul bersama keluarga yang lain. Ia harus mengurus surat perizinan Inayah yang akan dipindah alihkan sementara di Jakarta bersama Dinda. Inayah terus saja merengek untuk ikut Neneknya ke Jakarta. Bukan hanya Nenek sebenarnya, tapi juga perihal Dinda. Dinda yang tak mau pulang dan Inayah yang tak mau ditinggal. Sepertinya mereka sudah menyiapkan rencana agar tetap bersama.


Akhirnya Kak Yusuf memutuskan untuk mengurus surat pindah sekolah sementara. Mungkin hanya sampai acara resepsi selesai, Inayah akan kembali ke Jombang. Kak Yusuf dan Kak Ina pasti juga akan sering bolak-balik Jombang Jakarta untuk mengurus pekerjaan dan acara resepsi. Kasihan Inayahnya nanti jika harus bolak-balik juga.


"Kak Naya ke Jakaltanya kapan Aunty?" tanya Dinda. Kini mereka tengah perjalanan udara dari Jombang ke Jakarta.


"Kalau surat pindah sekolah Kak Naya selesai, nanti Dinda mau ikut Kak Naya sekolah?" jawab Wardah. Dinda memang baru TK kecil, sedangkan Inayah kelas 1 SD.


"Cekolah Dinda sama Kak Nayakan deket! Nanti Dinda bisa main cama Kak Naya," ujarnya dengan gaya pelonya.


Meski sudah disediakan tempat duduk sendiri, Dinda lebih memilih dipangku Om Ezanya. Ia ingin dekat Aunty katanya. Penerbangan mereka mendarat pada pukul 10 pagi. Dan Eza sudah harus ke kantor. Begitupun dengan Wardah, ia juga harus mengisi presenter pada siang hingga malam.


Dari bandara, Eza dan Wardah langsung ke kantor. Bunda akhirnya pulang ke mansion.


Percayalah, di depan gedung kantor, para wartawan sudah berkumpul menggerebek pintu masuk. Eza sengaja menggunakan mobil Papa agar tak dikenali oleh para wartawan. Kaca mobil yang tak terlihat dari luar membuat mereka tak curiga.


Sampai di lift, Wardah terduduk lemas. Ia khawatir jika para wartawan itu menyadari kedatangannya dengan Eza. Eza berjongkok mensejajarkan dengan Wardah.


"Kenapa Ay?" tanya Eza.


"Takut Mas," jawab Wardah. Eza terkikik dibuatnya. Nampak sekali raut wajah khawatir dari Wardah.


"Kita menghindar di hari ini, tapi kita tetap harus klarifikasi hubungan dikemudian hari Ay. Kalau tidak ya kita akan dikejar-kejar terus," ujar Eza.


"Kapan Mas?" tanya Wardah.


"Nanti Mas pikirkan, hahaha," jawab Eza. Senang sekali rasanya menggoda calon istrinya itu.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2