
Selepas menjalankan sholat subuh, Wardah membantu sang Bunda untuk memasak. Suasqna yang benar-benar baru untuk Wardah. Rumah kakaknya dulu sangat sederhana, kini telah menjelma menjadi rumah yang cukup mewah.
"Pagi Bunda, maaf Bun aku telat ke dapurnya," Ujar Mbak Ani istri dari Kak Yusuf.
"Hallah! Gak papa, kan udah ada tambabah Wardah pembantunya. Hahaha," Jawab Bunda. Sontak Wardah mengerucutkan bibirnya. Bisa-bisanya sang Bunda menganggapnya dan Kak Ani sebagai pembantu.
"Wajahnya jangan gitu ah? Jelek!" Kak Ani menoel hidung Wardah.
Ntahlah! Kenapa banyak sekali orang yang suka menoel hidungnya, bisa-bisa tambah ndelep nanti.
Ketiga wanita itu tampak sibuk berkecimpung dengan alat-alat memasak. Sesekali tampak tertawa riang. Bahagia? Tentu! Sudah lama tak tercipta suasana ceria seperti ini.
"Dek, goreng sayap ayamnya. Buat bekal Inayah," Ujar Kak Ani.
"Siap. Bos! Dedek ikut ke sekolahan yaa?" Pinta Wardah.
"Iyaa,"
"Nggak! Dedek harus di rumah sama Bunda... Urusan kita belum selesai ya dek," Ujar Bunda.
"Ya Allah Bun, nanti aja habis dari sekolah dedek jelasinnya," Pinta Wardah. Bunda geleng kepala tetap tak mengizinkan.
"Kakak," Rengek Wardah dengan Kak Ani.
"Kakak nganterin Inayah sekitaran jam 9an... Itu cuma validasi pendaftaran ajah, habis itu mau jalan-jalan biasa," Ujar Kak Ani.
__ADS_1
"Oke! Bunda, sekarang kita bicara yuk! Wardah akan jawab semua pertanyaan Bunda," Ujar Wardah sembari menggenggam tangan Bunda.
"Ayuk!" Bunda berjalan mendahului Wardah menuju kamarnya di lantai dua.
"Kakak masak sendiri dulu yaa," Ujar Wardah merenges ke arah kakak iparnya itu dan berlari mengejar Bunda.
"Hmmm, tadinya ngasih tugas, eh malah jadi ngerjain tugas sendiri," Gumam Kak Ani menggeleng-gelengkan kepalanya.
.
.
.
.
"Beberapa waktu lalu Bunda main ke rumah Anisa," Ujar Bunda.
"Oh ya? Iihhh, Bunda gak kabar-kabar... Dedek juga mau main ke sana," Rengek Wardah.
"Anisa sudah cerita semuanya kepada Bunda," Lirih Bunda. Wardah masih mendengarkan dengan seksama tuturan Bunda.
"Semua tentang kamu dan Nak Ibil," Sambung Bunda lagi.
Deg!
__ADS_1
Wardah tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Anisa... Kenapa? Wardah baru saja memulai dari awal, sebuah perjanjian yang baru dilaksanakannya dengan Cak Ibil. Jika Anisa menceritakan semuanya, pasti rencana perjanjian ini tak akan berjalan mulus,
"Dek?" Panggil Bunda.
"Wardah tinggal sebentar Bun," Lirih Wardah keluar dari kamarnya.
.
.
Wardah berlari menuruni tangga. Tak digubrisnya panggilan Kak Ani dari dapur dan Inayah yang sedang bermain dengan papanya.
Wardah duduk di sebuah ayunan di bawah pohon rindang belakang rumah. Di ambilnya gawai dari sakunya. Segera terhubung sambungan telepon kepada Anisa.
"Assalamu'alaikum Wardah?" Jawab Anisa di seberang telepon.
"Wa'alaikumussalam," Balas Wardah.
"Nis, aku langsung to the poin aja ya... Kamu kenapa ceritain semua tentang hubungan aku dan Cak Ibil?" Tanya Wardah.
"Emm... Itt-ittu, nganu Wardah... Tunggu dulu ya, kamu tenang dulu... Aku jelasin semuanya," Jawab Anisa sedikit gugup.
"Kenapa sih Nis? Kenapa? Aku gak suka yaa kalau kamu ambil tindakan secara pribadi gini! Apalagi ini masalah aku, bukan wilayah kamu!" Tegas seorang perempuan di sebrang telepon ini.
"Nyesel aku udah cerita semuanya ke kamu! Assalamu'alaikum!"Telepon dimatikannya sepihak.
__ADS_1
Tetesan bening mulai mengalir dengan sendirinya. Kenapa ia jadi gegabah? Kenapa? Kenapa harus memberi tahu? Harusnya Anisa konfirmasi dulu sebelum bertindak.
...Bersambung.... ...