Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Kejar-Kejaran.


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siang bersama kanebo kering, Wardah kembali ke ruangannya. Kali ini Wardah mulai merevisi kesalahan yang cukup banyak tadi. Merevisi kesalahan yang tadi memang tak membutuhkan waktu banyak, tapi kini Wardah diberi tugas lagi. Ia diminta untuk VO (Voice Over).


Mas Angga baru saja mendapatkan laporan dari Bu Raya mengenai kemampuan VO Wardah. Setelah mengetesnya tiga kali, kini Wardah diminta untuk VO sepuluh berita untuk penayangan liputan petang nanti.


Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Wardah baru saja menyelesaikan tugasnya mengisi suara berita (vo). Wardah menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi. Beberapa rekan kerja sudah pulang. Karena memang jam kerjanya tidak semuanya sama. Kalau tugas mereka selesai, mereka bisa pulang dengan cepat. Tapi tentu saja ada sift yang menggantikan. Meski bukan dari divisi news.


"Pulang aja kamu. Besok datang lebih pagi. Jam delapan! Dibenerin cara ngedit naskahnya. Masih banyak yang kurang!" ujar Mas Angga.


"Siap Mas!" jawab Wardah.


Kemudian merapikan bawaannya dan segera pulang. Ia tak sabar ingin melihat tempat tinggal barunya. Dirogohnya gawai dalam tas dan mulai memencet nomor telepon Caca.


"Di mana lu?" tanya Wardah sebelum memasuki lift.


"Gua lagi ngedate sama Hito! Hehehe, elu sama Adit aja ya! Gua udah ngomong sama dia. Dia mau katanya," jawab Caca.


"Nggak usah ngacok deh Ca! Kan aku udah ngomong kalau aku nggak mau dulu ngladenin comblangan kamu!" tegas Wardah.


"Ehm!" sebuah dehaman dari belakang Wardah menyeruak. Sontak Wardah berbalik.


Damn! Yang tengah dibicarakan ada di sini. Wardah menyahuti Caca, tapi ternyata sudah di tutup sepihak. Asem Caca.


"Ayo! Saya antar ke apartemen baru kamu," ujar Aditya. Ia mendorong tas punggung Wardah. Mau tak mau Wardah terdorong masuk ke lift. Macam anak kucing baee.


"Kok bapak ada di sini?" tanya Wardah setelah masuk ke lift.


"Bapak-bapak! Saya bukan bapak kamu Wardah," jawab Aditya.


"Sayakan cuma ikutan Caca," gumam Wardah.

__ADS_1


"Caca itu sebenarnya memanggilku dengan sebutan nama. Ntah gayanya aja sejak ada kamu pakai embel-embel bapak," jelas Aditya.


"Panggil apapun kecuali Bapak, oke!" sambungnya lagi.


Keluar dari lift, ternyata di lobi masih banyak orang. Wardah melihat Aditya yang sesekali berhenti berbincang atau sekedar menyapa. Ternyata tak sekaku dalam bayangannya. Cukup humble ternyata. Tapi kenapa selama dua kali bertemu, ia tampak kaku?


"Mau ikut ke basement apa nunggu di lobi aja?" tanya Aditya.


"Nunggu di bangku taman itu aja dah," jawab Wardah dengan menunjuk sebuah taman kecil di depan kantor.


"Oke! Tunggu ya, nggak lama kok," Aditya berlari menuju lift basement.


Wardah menunggu di bangku taman. Di dalam kantor tampak berseliweran. Mungkin Karena taman ini sedikit berjarak agak jauh, jadi tampak sepi.


Serem juga lama-lama di sini. Pak Adit juga belum ke sini sih! Wardah melupakan satu hal. Jangan memanggil bapak. Lalu ia harus memanggil apa? Mas? Oh tidak! Wardah ingin tertawa sendiri membayangkan.


"Neng? Nungguin siapa?" tanya dua orang laki-laki duduk di antara Wardah.


Tangannya dicekal kuat oleh salah satu orang itu.


"Santai neng, ayo kami antar," cegahnya.


"Maaf, tolong jangan seperti ini," pinta Wardah dengan berusaha melepaskan tangannya.


Ia tak sanggup lagi untuk membendung air matanya. Ia takut! Sangat takut! Terngiang sudah ucapan Bunda. Ketakutan Bunda selama ini. Wardah mulai di seret menjauhi taman. Teriakan Wardah tak mengaruh sama sekali. Ntah kenapa jalanan mendadak sepi.


BUGH!!!


Satu hantaman mendarat pada dua laki-laki yang menarik Wardah. Tersungkur sudah mereka. Untung saja Wardah bisa menyeimbangkan tubuhnya.

__ADS_1


"Lama banget sih! Aku takuuutttt!" teriak Wardah pada Aditya dengan matanya yang masih sembap.


"Iya maaf, tadi mobilnya nggak bisa keluar," jawab Aditya. Matanya melirik pada laki-laki tadi. Ia membawa sebilah pisau.


"Jangan dilawan, aku takut," lirih Wardah yang juga melihatnya.


"Siapa yang mau adu kuat? Hahaha. Ayo kita lari! Seperti saat itu!" jawab Aditya.


Tanpa basa-basi Aditya menarik tangan Wardah dan berlari. Bisa-bisanya ia tertawa di saat yang cukup genting ini!


Berlari menyusuri jalanan yang tak ramai. Kemana julukan Ibu Kota yang ramai? kenapa di saat seperti ini harus sepi. Untung saja Wardah juga mengenakan celana, jadi ia bisa berlari lebih cepat.


"Jangan lihat ke belakang!" ujar Aditya saat Wardah hendak berbalik.


Grep!


Aditya menarik Wardah bersembunyi ke dalam alfamart. Aditya merangkul Wardah menghadap kejejeran jajanan. Pasalnya dua orang laki-laki itu ikut masuk ke alfamart, mengecek keberadaannya.


Alhamdulillahnya di sini ramai pengunjung. Wardah dan Aditya tadi memang berlari di sebuah gang, dan baru menemukan jalanan umum kembali.


"Tenang, atur napasnya dulu." ujar Aditya melihat Wardah yang ngos-ngosan.


"Lemes, capek, dehidrasi aku. Ngapa larinya nggak ke kantor aja sih!" lirih Wardah dengan protesnya.


"Kalau di kantor, besok-besok mereka bakalan balik lagi ke sana. Karena tahu kita punya akses memasuki kantor," jelas Aditya.


"Syuut, nanti lagi di bahas. Kita akting dulu. Orang itu kemari," bisik Aditya.


Spontan Wardah lebih mendekat pada Aditya meremas kuat jasnya. Sepertinya laki-laki itu tak mengenali dengan pasti irang yang dikejarnya. Ia melewati Wardah dan Aditya begitu saja. Mungkin karena di taman tadi gelap. Mereka tak mengingat secara pasti pawakan Wardah dan Aditya.

__ADS_1


...Bersambuemp...


__ADS_2