Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Puncak


__ADS_3

...Maaf ya, Lhu-Lhu baru bisa up lagi. Minta doanya, semoga kita semua diberikan kesehatan dan umur panjang, serta rejeki yang lancar. Aammiiin......


Acara malam mereka masih terus berlangsung hingga pukul 09:30. Karena itu merupakan batas dilakukannya kegiatan malam. Di atas jam itu seluruh pendaki harus sudah berada di dalam tenda masing-masing.


Caca bersikeras memohon kepada Eza agar Wardah ikut dengannya satu tenda. Perdebatan terus berlanjut hingga berakhir dengan Caca yang merengut karena tak berhasil.


"Kyak apa aja rebutan," celetuk Wardah memasuki tenda.


"Ya aku nggak maulah Ay, kalau disuruh pisah sama kamu," jawab Eza.


Wardah dan Eza kini tengah duduk di tenda dengan menikmati gemerlap bintang di langit. Eza sengaja membuka tendanya agar bisa melihat bintang-bintang yang bertaburan. Wardah menyenderkan kepalanya di pundak Eza ikut menikmati pemandangan indah itu.


Tampak Eza membahas bentuk-bentuk rasi bintang dan filosofinya. Wardah yang baru mendengar hal baru sangat exatid mendengarkan Eza. Sesekali Eza juga membimbing jemari Wardah untuk menggambar rasi bintang itu.


"Mari Mas, Mbak," sapa petugas posko 4 mengecek tiap anggota pendaki.


"Iya Pak," jawab Eza.


"Jangan berkeliaran lagi ya Mas, kalau ke kamar mandi laporan dulu sama kami yang ada di posko," pesan bapak itu.


"Siap Pak!" jawab Eza.


Tiba-tiba Wardah teringat dengan cerita Caca sore tadi. Ia teringat juga jika belum membersihkan dirinya ke kamar mandi. Wardah menarik pelan baju Eza. Memintanya untuk mengantarkan ke kamar mandi. Setelah laporan, barulah mereka ke kamar mandi. Kamar mandi di posko ini memang terletak agak jauh dari jangkauan penglihatan. Makanya para pengunjung diminta laporan terlebih dahulu.

__ADS_1


"Mas, nggak berani masuk sendiri," lirih Wardah menarik baju Eza.


"Masak Mas ikut ke dalam?" tanya Eza dengan bingung.


Wardah mengangguk malu terhadap suaminya itu. Ia benar-benar takut saat ini. Bagaimana jika nanti ada yang mengintipnya, atau ada makhluk astral yang merecokinya di dalam sana? Eza menggaruk kepalanya yang tak gatal. Akhirnya ia mengangguk juga menyetujui.


Jangan berpikir macam-macam kalian para pembaca. Hahaha. Eza murni hanya menemani Wardah. Mana mungkin ia berpikir untuk melakukan hal-hal seperti jalan pikirannya? Hahaha. Setelah selesai, Eza dan Wardah disambut oleh dua bapak-bapak yang kebetulan lewat. Tampak jelas sekali mereka menatap dua pasutri itu dengan tatapan menyelidik.


"Eh Bapak, ini istri saya nggak berani masuk kamar mandi sendiri. Jadi minta ditemani," ujar Eza.


"Oalah, iya-iya... Maaf ya Mas, soalnya beberapa waktu yang lalu ada yang nakal. Eh! Malah terjadi hal-hal buruk dengan mereka," jawab Bapak itu.


Selama di perjalanan, Wardah terus memeluk erat lengan Eza. Bahkan ia takut melihat sekelilingnya.


"Lihat deh Ay, telaganya cantik banget," ujar Eza.


Beruntung Wardah berperawakan mungil nan imut. Ia bisa bersembunyi di dalam pelukan Eza untuk mencari kehangatan. Ditambah dengan selimut khusus yang Eza siapkan, membuat hawa dingin menjauh dari tidur nyenyak mereka.


Pagi hari di telaga biru terlihat sangat cantik. Ditambah dengan pancaran sinar matahari atau sunset yang sangat jelas, menambah kecantikan di tempat ini. Warda, Eza, dan anggota mereka tampak sibuk berfoto ria sebelum meninggalkan destinasi wisata ini.


Ya! Mereka akan melanjutkan perjalanan ke puncak. Tenda-tenda mereka juga sudah selesai diberesi. Kini saatnya mereka melanjutkan perjalanan.


Tanjakan cinta adalah medan yang harus mereka lalui. Eza menggandeng Wardah dengan erat melewati tanjakan super tinggi ini. Eza mewanti-wanti Wardah agar tak melihat ke belakang. Karena masa depannya sudah berada di sampingnya. Eeaaakkkk!!!

__ADS_1


Bukan, bukan seperti itu. Konon katanya, jika sepasang kekasih melewati tanjakan cinta ini tanpa melihat ke belakang, mereka akan langgeng. Dan mereka yang belum memiliki pasangan, akan segera dipertemukan dengan pasangannya. Tak tahu benar atau tidak, yang jelas Eza meminta Wardah untuk fokus mendaki tanjakan ini. Baru nanti sampai puncak, mereka dapat menikmati pemandangan telaga biru yang sangat indah dari posko 5.


Mereka juga melewati hamparan bunga lily yang mekar sangat cantik. Tentu saja itu tak dilewatkan oleh Wardah dan Caca untuk berfoto ria. Bukan hanya bunga, hamparan ilalang juga terbentang tak kalah cantik pula. Satu posko lagi, sampailah mereka di titik puncak gunung XXX.


Di posko terakhir, mereka sampai di siang hari. Pas terik-teriknya sinar matahari. Tapi masih kalah dengan hawa dingin puncak gunung XXX. Mau tak mau mereka harus kembali membentangkan tenda. Untuk bermalam sekali lagi. Jika mereka memaksakan untuk turun, takutnya sampai di tengah hutan hari sudah gelap. Jadilah Eza mengambil jalan amannya saja.


Berada di puncak seolah berada di atas awan. Di sisi depan, mereka bisa melihat awan-awan yang seolah berada di bawah puncak. Sedangkan disisi kiri tampak wilayah atau daerah di sekitar gunung XXX. Tak habis-habisnya Wardah mengucapkan keagungan tuhannya. Tak lupa pula ia mengabadikan foto bersama suaminya.


Hingga yang mereka tunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Sunset! Itulah yang kebanyakan dari pendaki mereka tunggu. Wardah duduk dengan bersandar di pundak Eza menikmati sunset. Caca yang gemas melihat keuwuan sahabatnya, sontak memfoto mereka berdua dari belakang. Tak lupa dengan dirinya mengajak Hito berfoto ria.


Keadaan cuaca di puncak ternyata lebih dingin dibandingkan dengan tempat singgah mereka sebelumnya. Setelah makan malam mereka langsung masuk ke tenda masing-masing. Bahkan Wardah hanya mampu melihat gemerlap bintang dan cahaya lampu penduduk sebentar saja. Padahal sangat cantik.


Wardah yang sudah berbalut dua jaket masih terasa dingin. Makanya Eza mengajak Wardah untuk masuk ke tenda. Tak ada kegiatan lain, kecuali mengobrol ria berdua. Bercerita ngalor-ngidul tak tahu arah. Eza juga mengajak istrinya adu game melalui gawainya yang masih tersisa baterainya. Beruntung Eza memiliki game yang tanpa memerlukan internet. Baterai habis, saatnya mereka tidur.


"Padahal, Mas pengen minta jatah," celetuk Eza.


"Ngawur ah! Dimana mau mandi wajib coba!" jawab Wardah malu sendiri.


Bersembunyi di dalam pelukan Eza adalah jalan ampuh menutupi kecanggungannya. Eza terkekeh melihat tingkah istrinya. Membalas pelukan Wardah kemudian ikut berkelana ke dalam mimpi indahnya.


...Bersambung...


...Jangan lupa vote + like + hadiah + komen positif + bintang + semangat buat Lhu-Lhu-nya yaaa.......

__ADS_1


...Lhu-Lhu lagi meriang (merindukan kasih sayang) canda......


...Lhu-Lhu lagi kurang sehat ini gaess, mohon doanya semoga lekas sembuh dan diberikan kancaran dalam menulis novel + skripsi....


__ADS_2