
Seperti janjinya tadi, pulang dari kantor mereka singgah terlebih dahulu untuk membeli nomor baru untuk Wardah. Bukan hanya kartu SIM, Eza ternyata juga membelikan gawai baru untuk istrinya. Sudah lama ia ingin membelikan gawai baru untuk istrinya, tapi baru terealisasikan saat ini.
"Tapi hp aku masih bagus lho Mas," ujar Wardah.
"Nggak papa, pakai hp yang baru sekalian aja. Nanti data-data yang penting aku pindahin ke hp yang baru. Takutnya hp yang lama sudah disadap sama orang itu," jawab Eza sembari memilihkan gawai untuk istrinya.
"Sekalian beli iPad yang baru yaa, iPad kamu kan kemarin kesenggol Sakha, jatuh," sambung Eza.
"Aku belum butuh banget kalau iPad Mas, lagian editing naskah juga udah nggak sekarang. Cuma jadi presenter aja," jawab Wardah menolaknya.
Suaminya itu benar-benar yaa! Ia tak mau sebenar-benarnya untuk membeli barang mahal seperti itu. Coba aja nawarin mbak Author, pasti nggak akan nolak deh! Dijamin ituu!
Percuma juga menolak tawaran suaminya, buktinya sekarang bukan hanya iPad, tapi juga jam tangan ditambah ear phone, ditambah chasing, dan perintilannya sudah berjejer di depan meja kasir. Mbak kasirnya auto bahagia itu mendapat borongan dari seorang Eza.
"Aku pilihkan hp yang warnanya kembar sama punya aku," bisik Eza.
Warda memutar bola matanya jengah. Sontak ia memilih untuk mengajak Sakha dan Dinda ke parkiran menunggu Eza menyelesaikan pembayarannya dan setting hp.
"Aunty! Mau beli cilok!" ujar Dinda.
"Boleh, ayo ke mamang ciloknya," jawab Wardah.
Sembari menunggu proses registrasi dan pembayaran untuk gawai istrinya, Eza tampak berpikir serius siapa gerangan orang yang mengganggu istrinya. Bahkan ia sampai tahu pakaian yang dikenakan istrinya, itu berarti dia benar-benar mengintai kehidupan Wardah.
__ADS_1
“Pak? Ini barang dan kartunya,” panggilan kasir itu membuyarkan lamunannya.
Keluar dari tempat perbelanjaan, Eza melihat dua bocil tampak kegirangan sembari menikmati makanan di tangannya. Begitu pun dengan Wardah. Ia tampak tersenyum sumringah melihat bocil-bocil itu bergurau satu sama lain.
“Enak banget nih makan cilok nggak bagi-bagi!” celetuk Eza menghampiri mereka.
“Ayah mau? Itu Mang-nya masih ada,” ujar Sakha.
“Ayah minta Buna aja ciloknya,” jawab Eza.
Wardah dan Eza berbincang sembari menikmati cilok dan juga menunggu anak-anak juga. Barulah mereka kembali ke rumah. Hari-hari berganti dengan normal seperti biasanya. Pengganggu Wardah pun tak muncul kembali. Kak Winda pun sudah mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Ia tak perduli dengan Rio yang terus menerornya untuk meminta pekerjaan.
“Aku pengen shoping Mas R, biasanya kamu selalu nurutin aku kalau aku mau jalan-jalan,” celetuk Ayu pada Rio. Kini Rio tinggal bersama Ayu di Kos-annya. Laki-laki itu tak berani untuk kembali ke rumah orang tua-nya.
“Kamu ngertiin aku dong sayang, aku sekarang nggak punya apa-apa. Kartu kredit aku juga udah dibekukan sekarang.” Jawab Rio.
“Oke! Kita ke rumah Mama Papa aku, kita minta maaf bareng, dan memohon agar diterima tinggal di sana,” ujar Rio.
Kehendak hati memang tak mau ke rumah orang tuanya. Tapi ia tak tahan lagi jika harus melarat seperti ini. Ini baru dua minggu, bagaimana seterusnya?
***
Weekend ini seluruh keluarga berkumpul di rumah. Wardah tengah membantu Mama dan Bunda menyiapkan kudapan yang cukup banyak. Karena mereka juga mengundang teman-teman dan kerabat yang lain juga.
“Aku aja Ay yang bawa, kamu jalan aja temani aku,” celetuk Eza yang mengambil alih nampan berisi minuman di tangan istrinya. Perut Sang istri yang semakin membuncit tentu saja membuatnya tak tega untuk mengangkat benda berat.
__ADS_1
“Minumannya dataang!” ujar Eza pada para manusia yang hadir di sana.
Suasana taman belakang begitu meriah. Candaan anak-anak hingga para orang tua bersahutan menandakan keharmonisan di rumah ini. Wardah memeluk lembut Gita, yang sengaja ia undang bersama pacarnya yakni Bang Fadhil. Tak lupa menyalami dan ucapan terima kasih Bang Fadhil juga yang menyempatkan untuk hadir, meski harus mengganggu waktu kencan mereka berdua.
Senang sekali rasanya kumpul-kumpul seperti ini. Rumah menjadi tak sepi seperti saat-saat hari kerja.
“Gemes banget ngelihat perut kamu buncit kek gini, cepet keluar ya Dedek... Aunty pengen cepet-cepet bisa gendong kamu,” ujar Gita yang mengelus lembut perut Wardah.
“Cepet halalin gih Bang! Kasihan nih udah pengen mau momong dedek bayi,” ujar Wardah pada Fadhil.
Yang diajak bercanda pun tersenyum menanggapinya. Eza ikut bergabung setelah membagikan minuman-minuman kepada yang lain.
“Iyaa, nunggu apa lagi sih Bro? Uang udah banyak, rumah udah ada pastinya, calon istri juga udah ada,” sambung Eza.
“Tunggu kabar baiknya aja ya besty,” jawab Gita sembari mengelus lembut panggung tangan pacarnya.
Mereka berbincang bersama hingga menjelang malam. Bahkan sholat, mengaji bersama, hingga makan malam. Barulah setelah makan malam, satu per satu pulang masing-masing. Wardah membantu membereskan peralatan sebentar, hingga Eza mengajaknya ke kamar untuk beristirahat. Sakha sudah bersama Oma-nya, membuat Eza bahagia tak karuan.
Eza membantu Wardah untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian ternyaman yaitu daster. Barulah mereka berdua berbaring di tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuh. Selama hamil, Wardah tak menggunakan skincare, membuat Eza tak perlu menunggu sang istri harus berlama-lama di meja rias. Mungkin hanya menyisir rambut saja, setelah itu langsung tiduran dan menonton tv bersama.
“Istri aku cantik banget, MasyaAllah,” celetuk Eza sembari mengecup gemas pipi, kening, hingga bi bir Wardah.
“Suami aku juga ganteng banget... MasyaAllah,” jawab Wardah yang langsung membalas pelukan Eza.
*TING!
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, satu notifikasi di gawai Eza berbunyi. Tapi tak dihiraukannya dan memilih untuk mengikuti Wardah yang sudah terlelap.
...BERSAMBUNG...