Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Tamu 2


__ADS_3

Bunda tak kalah terkejutnya mendengar ujaran anaknya. Bunda yang otaben-nya akrab dengan teman-teman anaknya tentu saja tahu dengan sosok Gita. Bunda memang humble pada siapa saja. Sehingga teman-teman Wardah juga suka jika bersama Bunda. Wardah juga memberitahu Mama siapa gerangan Gita karena tampak bingung dengan perbincangan ibu dan anak itu.


“Lho! Bunda di Jakarta juga? Kok Wardah nggak cerita sih!” kaget Gita saat bertemu dengan Bunda.


Pelukan hangat pun tak dapat terbendung lagi. Gita langsung berhambur memeluk Bunda. Yang paling ia suka juga saat tahu jika Bunda masih ingat pada dirinya. Karena Gita memang hanya sampai bangku MTS di pesantren. Wardah menggandeng Mama memperkenalkan Gita dan juga Bang Fadhil.


“Nak Fadhil ini juga teman sekelasnya Wardah?” tanya Bunda. Bunda memang akrab dengan teman-teman Wardah, tapi untuk santri putrinya saja. Untuk santri putra tidak.


“Iya tante, saya teman sekelas MA-nya Wardah,” jawab Fadhil.


“Ya sudah, temu kangen dulu saja kalian. Bunda mau istirahat dulu,” ujar Bunda pamit ke belakang. Diikuti dengan Mama yang ikut undur diri.


“Oh iya, sayang itu tadi Mama beli jajanan kok. Kamu ambil aja udah dibawa ke dapur sama Mbak Narsih,” ujar Mama sebelum benar-benar pergi.

__ADS_1


“Oke Ma, nanti Wardah ambil,” jawab Wardah.


Tinggallah mereka bertiga di ruang tamu. Banyak pertanyaan Gita yang meluncur setelah pertemuannya dengan Bunda. Bukan hanya persoalan Bunda. Tapi juga kekagumannya pada Wardah yang bisa sangat akrab dengan mertuanya. bukan hanya akrab biasa, bahkan sudah seperti ibu dan anak sendiri. Beruntung sekali temannya itu. Jika dilihat dari dirinya, ia pun belum bertemu dengan orang tua Bang Fadhil. Setelah melihat Wardah, Gita menjadi memiliki harapan semoga mertuanya seperti mertua Wardah.


Hari semakin terik dan menjelang sore hari, Sakha juga sudah bangun dari tidurnya. Kini Sakha tengah bermain bersama kedua kakaknya. Siapa lagi kalau bukan Naya dan Dinda. Ya! dinda memang sudah pulang. Dan Gita juga bertemu dengan kakak Eza itu. Wardah kini juga tengah menyiapkan makan malam bersama Mama, Mbak Winda, dan Si Mbok. Ditambah dengan Gita yang juga ikut membantu.


Mereka berdua memang belum pulang juga. Awalnnya tadi Gita dan Fadhil hendak pamit pulang, tapi Mama menawari untuk makan malam bersama. Dengan senang hati Gita menerima. Bocil-bocil kini tengah bermain di taman belakang yang ditemani oleh Faiz. Selesai kuliah Faiz tak kembali ke kantor melainkan pulang. Fadhil juga ikut menemani Faiz yang menjaga Sakha di belakang.


“Ya begini Mbak, kalau ngumpul semua tuh seneng,” jawab Mama.


“Jangan panggil Mbak dong Tante, panggil Gita aja biar kelihatan akrab, hehehe,” pinta Gita.


“Oke-oke, tante panggil Gita,” jawab Mama.

__ADS_1


Tak berselang lama Naya berlari dari depan mencari Wardah. Padahal tadi anak itu ada di belakang, kenapa sudah dari depan saja. Memberitahu Wardah jika Om-nya sudah datang bersama dengan Opa (Papa Eza). Wardah memberikan pekerjaanya pada Mbak Narsih. Berbenah sebentar kemudian menyambut suaminya. Tak lupa ia izin dulu pada Mama.


“Wardah keren banget sih!” celetuk Gita yang kembali mengagumi temannya.


“Neng Wardah itu sangat luar biasa, anaknya baik, rajin, sholehah. Bahkan keluarga Ibuk sangat sayang sama menantunya itu,” jawab Si Mbok menimpali.


“Beruntung ya Wardah,” sambung Gita lagi.


“Kami yang beruntung dengan hadirnya Wardah di sini,” ujar Mama.


“Semoga kamu juga mendapatkan keluarga baru yang kamu impikan juga ya,” sambung Mama dengan senyumnya yang meneduhkan.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2