
Drama menidurkan Baby Z sudah berakhir. Benar saja perhitungan Eza, setelah sholat subuh dirinya langsung merebahkan tubuhnya kembali si tempat tidur. Baby Z yang awalnya di box bayi sudah Wardah pindahkan di samping Eza. Melihat dua jagoannya tidur berdampingan seperti itu membuat Wardah gemas sendiri.
Setelah selesai dengan urusan kamarnya Wardah segera turun untuk membantu Bunda, Mama dan Si Mbok untuk menyiapkan sarapan. Wardah mengambil beberapa bahan sayuran untuk membuatkan Baby Z makanan. Wortel, bayam, dan jamur kuping menjadi pilihan kali ini. Dengan lihainya Wardah memasukkan satu demi satu nasi, sayuran, hingga perasa hingga merubah teksturnya menjadi bubur.
Setelah siap, Wardah meminta tolong pada Mama untuk menyicipinya. Ia rasa masakannya sudah enak, tapi Wardah memang sering meminta pendapat orang lain lagi. Si Mbok yang melihat masakan Wardah cukup menggoda sontak tergiur juga. Jadilah Si Mbok ikut menyicipinya.
Setelah selesai Wardah memilih untuk menyiapkan peralatan yang ada di meja makan. Kemudian barulah ia kembali ke kamarnya. Dilihatnya Baby Z sudah terbangun dengan merayap di atas Eza. Eza juga sudar terbangun, sepertinya baru saja. Terlihat jelas muka bantalnya. Mungkin suaminya itu terusik oleh Baby Z.
"Mas? Masih ngantuk apa?" tanya Wardah menghampiri suami dan anaknya.
Diciumnya kening Eza dan pipi chubby Baby Z dengan gemas. Disambut oleh cengiran lucu bayi itu.
"Udah nggak Ay... Barusan dibangunin Abang," jawab Eza.
__ADS_1
"Abang?" tanya Wardah heran.
Jadilah Eza menceritakan mengenai nasehat Mama tadi malam. Subuh tadi ia hendak membicarakan hal ini. Tapi ia dikalahkan oleh rasa kantuk yang teramat sangat dahsyat. Wardah yang mendengar hal itu manggut-manggut mengerti. Perkataan Mama benar juga.
"Mandi gih biar segeran, aku juga mau mandiin Abang Gemoy ini," ujar Wardah menggendong Baby Z.
Wardah begitu menikmati saat-saat bersama Baby Z seperti ini. Anak ini begitu ceria, lucu, penurut, dan tak rewel. Bahkan kini saat di bak mandinya Baby Z sangat girang sembari memainkan mainannya.
Keluar dari kamar mandi dua manusia tercintanya sudah tak ada di tempat. Wardah segera menyelesaikan rutinitas skincare-nya dan lekas turun ke bawah.
Sampai di bawah ia melihat momen yang sangat cantik. Tampak Eza sudah mendudukkan Baby Z di kursi khususnya sembari menyuapinya. Di sana juga ada Dinda dan Inayah yang sudah mengenakan pakaian sekolah. Dua bocil itu tengah asik mengajak Eza berbincang dengan pertanyaan-pertanyaan absurd yang mereka miliki.
"Pagi adik-adik aunty yang comeelll," sapa Wardah menghampiri mereka.
__ADS_1
"Aunty! Ayok ajak Dedek ke sekolah!" seru Dinda hingga berantusias menghampiri Wardah.
"Ha? Sekolah? Dedek bayikan belum gede kayak Kakak Dinda, jadi belum bisa sekolah sama Kakak," jawab Wardah mengelus lembut rambut Dinda.
"Yaahh, padahal Kakak Dinda mau sekolah bareng Dedek," jawab Dinda dengan lesu dan kembali ke kursi samping Baby Z.
"Kalau Dedek udah besar ya, nanti Kak Dinda bisa ngajarin Dedek juga, biar pinter kayak Kak Dinda sama Kak Naya," ujar Wardah menghampiri ponakannya itu.
Dinda tersenyum dan mengangguk antusias. Eza tersenyum melihat interaksi istri dan ponakannya itu. Ia jadi ingat dulu waktu Sang Mama mengatur kencan buta untuknya. Pilihan Mama yang ternyata notaben-nya tak suka dengan anak kecil menjadikan Mama frustasi. Akhirnya tak mengatur kencan buta kembali.
Ya! Dulu Eza sempat pernah kencan buta. Eza mengajak Dinda agar tak hanya jalan berdua. Awalnya wanita itu Wellcome atas keberadaan Dinda. Saat Eza izin ke kamar mandi dan kembali, ia melihat Dinda yang awalnya ceria menjadi murung. Eza kira memang sudah capek, saat sampai rumah ia mendengar cerita Dinda yang dimarahi oleh perempuan itu. Bahkan ia tak mau diajak bertemu kembali.
...Bersambung ...
__ADS_1