
...Maaf gaess, Lhu-Lhu baru sambang kalian lagi.... Maafkan Lhu-Lhu yaa.... ...
Jika di pendakian mereka berjalan kaki, berbeda dengan proses turunnya mereka. Eza mengajak Wardah mencoba sensasi menaiki kereta gantung untuk turun ke bawah. Setiap kereta berisi empat orang, tapi bukan Eza kalau tidak ingin berduaan bersama Wardah. Tentu saja Eza menyewa satu kereta untuk berdua.
Dari atas sini terlihat jelas pemandangan gunung yang teramat indah. Telaga biru yang mereka singgahi juga terlihat jelas dari sini. Beruntung baterai gawai Eza belum habis. Tentunya sesi berfoto ria tak boleh tertinggalkan. Kehendak hati ingin segera memposting foto-foto mereka, tapi masih terhalang dengan sinyal. Selama tiga hari ini mereka hidup tanpa sinyal internet.
Jika dalam perjalanan pendakian mereka membutuhkan waktu sembilan jam, perjalanan jalur udara hanya membutuhkan waktu lima jam. Lancar jaya, semakin cepat mereka sampai di kaki gunung. Berhubung di puncak tadi Wardah hanya makan sedikit, di sini Eza memaksakan istrinya untuk mengisi perutnya. Beruntung Eza membawa termos air panas dengan dua pop mie tadi.
“Nggak pengen makan Mas,” rengek Wardah yang kini memilih merebahkan kepalanya di paha Eza.
“Huush, dari tadi Cuma makan bubur dikit,” ujar Eza.
“Nggak mau, nanti aja kalau sampai penginapan baru makan,” balas Wardah tetap kekeh.
Jadilah dua popmie yang menghabiskan Eza. Diudara sedingin ini memang sangat enak menikmati makanan berkuah plus hangat. Percuma membujung sang putri, ia tetap saja tak mau. Eza khawatir turun dari gunung, sang istri malah drop. Bisa-bisa ia dihukum pancung oleh Papa. Sembari menunggu sampai di posko satu, Eza mengelus lembut alis Wardah agar lebih nyaman beristirahat. Gemas melihat sang istri yang tertidur, Eza iseng-iseng mengambil fotonya.
Hampir saja gawai Wardah yang ada di sakunya terjatuh. Beruntung Eza sigap menangkapnya. Ternyata gawai istrinya tak ada kata sandi dan lain sebagainya. Dari pada berdiam sahaja, sepertinya lebih bai kia melihat gawai Wardah. Meski sebenarnya Eza sendiri yakin di dalamnya yang paling istimewa adalah persoalan dirinya sendiri. Eaaakk! Lihat saja wallpaper yang dipasang Wardah. Foto mereka berdua membawa buku nikah dengan tawa Bahagia saat awal mendapatkannya.
Eza senyum-senyum sendiri melihat galeri Wardah. Ada fotonya yang diambil secara diam-diam pula.
Kling! Kling! Kling! Sepertinya sinyal mulai bermunculan dimana-mana. Sigap pula Eza mematikan nada dering di gawainya dan Wardah agar tak terbangun. Perjalanannya masih kurang satu jam lagi. Cukuplah untung melihat isi gawai sang istri. Pertama yang Eza lihat adalah WhatsApp. Fokus Eza ada pada beberapa nomor baru. Bukan hanya satu, tapi ada banyak. Eza curiga jika itu dari heters yang bermula adalah fans fanatiknya. Jangan lupakan beberapa Wanita yang berulah di kantor Eza dulu sewaktu Wardah belum menjadi istrinya. Eza harus menjaga Wardah ekstra ketat.
__ADS_1
Benar saja, nomor-nomor ini banyak mengirimkan Wardah beberapa cercaan. Bukan hanya sekarang ternyata, Eza juga mengecek pesan-pesan sebelumnya yang sempat ditimbali oleh Wardah. Sepertinya Eza harus segera bertindak. Eza tak perlu mengecek sosial medinya, karena dirinya sudah memiliki akun Wardah.
“Iya, siapkan semuanya. Pastikan disetiap bulannya sudah ada ganti,” ujar Eza dengan seseorang di seberang telepon.
“Iya. Benar! Terima kasih,” jawabnya menutup teleponnya.
“Siapa Mas?” tanya Wardah yang baru saja terbangun.
“Dimas, “jawab Eza dengan senyumnya.
Wardah melihat sekeliling. Ternyata mereka sudah berpindah di mobil. Dan Eza sama sekali tak membangunkannya. Sedangkan sekarang sudah lima belas menit perjalan mereka menuju ke villa. Jika kemarin mereka sempat bermalam di penginapan yang super alamiah seperti di tengah hehijauan hutan, kini Eza mengajak Wardah dengan timnya berpindah haluan menjadi villa. Villa yang tak kalah indahnya dengan yang awal.
“Kok nggak bangunin aku sih Mas?” tanya Wardah.
“Emmmm, tayaang akuuu coocweet,” ujar Wardah memeluk pinggang Eza karena kini ia memang tiduran di pahanya.
“Coba-ca ulang lagi Ay!” ujar Eza sembari menaikkan Wardah ke pangkuannya.
“Tayangnya akuu coocweet!” balas Wardah lagi yang kini memeluk Eza.
Dengan jahilnya Wardah menjulurkan lidahnya pada Caca untuk meledeknya. Caca memijit kepalanya yang tak pusing. Menyesal rasanya mengadukan hal itu pada sahabatnya. Sepertinya ikut satu mobil dengan mereka merupakan keputusan yang salah. Sedangkan Eza dan Hito terkikik mendengarkan ocehan Caca setelah itu.
__ADS_1
“Kok jalannya beda sama yang kemarin kayaknya,” celetuk Wardah.
“Kita pindah ke villa Ay, dijamin kamu suka deh nanti,” jawab Eza.
Wardah manggut-manggut mengerti. Kiri kanan jalan dipenuhi dengan tanaman hijau. Hanya sesekali mereka melewati pedesaan, kemudian kembali dimanjakan oleh hehijauan. Semakin naik, mereka mulai dikelilingi oleh perkebunan teh.
Wardah sangat bersemangat melihat-lihat kamarnya dengan Eza. Villa ini ternyata ada di tengah-tengah perkebunan teh. Wardah membuka pintu kaca yang menyajikan pemandangan indah kebun teh dan pegunungan yang salah satunya telah mereka daki.
Ternyata di kamar mereka tersedia swimming poll private. Wardah sudah membayangkan enaknya berenang di kolam ini sembari menikmati pemandangan indah pegunungan secara langsung. Jika kemarin ia tak bisa menikmati telaga biru, sekarang dirinya akan berenang sepuasnya di sini. Tentu saja air kolam ini tidak sedingin yang menyebabkan bekukan? Hahaha.
Eza memeluk Wardah dari belakang. Mendaratkan dagunya di pundak Wardah. Senang sekali rasanya bisa bermesraan tanpa batas sekarang. Eza membukakan jilbab istrinya dan membuangnya asal ke lantai. Tenang saja, dari posisi mereka sekarang tak akan ada yang bisa melihat aktivitas mereka.
"Kangen," lirih Eza dengan suara beratnya.
Eza membuka ikat rambut Wardah dan mengesampingkan rambutnya di sisi sebelahnya. Aroma tubuh istrinya sangat membuatnya candu. Wardah mendongak dikala Eza men cu mbu lehernya. Mencium leher jenjangnya dan sesekali memainkan cu ping Wardah.
"Mau di luar atau di dalam?" tanya Eza.
"Sami'na Wa Atho'na," jawab Wardah dibalas dengan tawaan oleh Eza.
Sontak Eza menggendong Wardah menuju ranjang king size yang sudah memanggil manggilnya sedari tadi. Dilucutinya pakaian Wardah hingga menyisakan selimut yang membungkus mereka berdua. Tanpa menunda lagi, saatnya Eza gass poll melanjutkan aksinya.
__ADS_1
...Bersambung ...