
"Tadaa! Jadi deh makanan Dedeknyaa," dengan senyuman kegembiraan Wardah mengangkat mangkuk yang ia bawa.
Wardah juga tak segan-segan meminta tolong pada Mama untuk menyicipinya. Dengan senang hai Mama menerima suapan menantunya itu. Si Mbok juga tak mau kalah, ia juga ingin menyicipinya.
Setelah makanan Baby Z dirasa pas, Wardah kembali ke ruang keluarga untuk menyuapi. Baby Z benar-benar anak yang pengertian. Tak repot merawatnya. Makannya lahap dan mudah, hamper tak pernah rewel, dan ia juga sangat menggemaskan. Wardah sama sekali tak kerepotan merawatnya.
“Wiih, anak ayah lagi makan apa itu?” sapa Eza yang baru saja masuk setelah mengajari anak-anak mengaji.
“Mamam sayur Ayah,” jawab Wardah dengan suara menirukan anak kecil.
Sedangkan Baby Z tampak kegirangan melihat Eza yang menghampirinya. Wardah dan Eza sampai terkikik melihat ocehannya. Eza mengalihkan Baby Z ke pangkuannya. Memudahkan Wardah dalam menyuapi si kecil. Sudah seperti keluarga Bahagia jika melihat mereka bertiga bercengkrama. Meski yang satu mengoceh dengan tak jelas.
__ADS_1
Bunda dan Mama yang melihat anaknya Bahagia seperti itu tersenyum haru. Dibalik masalah-masalah yang keluarga mereka hadapi, ada Pelangi indah yang menanti mereka kali ini. Baby Z memberikan warna baru di keluarga mereka. Bunda pun yakin Wardah dan Eza dapat merawat dan menyayangi Baby Z seperti anak mereka sendiri.
Rumah semakin ramai saat dua bocil yang tadi ada di mushola sudah kembali ke dalam rumah. Dinda dan Inayah langsung mengerumuni Baby Z yang sedang asik melahap makan malamnya. Tak segan-segan mereka rebutan ingin menyuapi si kecil.
“Ada apa ini kok rame banget?” tanya Papa yang baru saja keluar dari ruang bacanya.
“Opa! Opa! Dinda nyuapin dedek bayi!” seru Dinda memamerkan pada opanya.
“Makanannya sudah siap, kita makan dulu yuk!” ajak Mama menghampiri ke ruang keluarga.
Dengan berat hati Dinda memberikan sendok makan baby Z kepada Wardah. Padahal dirinya masih ingin menyuapi si kecil. Percayalah, makanan hasil suapan Dinda dan Inayah sudah belepotan dimana-mana. Akhirnya Wardah pindah Haluan menuju ruang makan. Menyuapi si kecil sembari berkumpul bersama yang lain. Dan ini adalah kali pertama Baby Z duduk di kursi makannya. Siang tadi Papa membelikan kursi khusus Baby Z.
__ADS_1
Tentu saja kursi itu memudahkan Wardah. Ia tak perlu memangku si kecil lagi di kursi makan. Seperti biasa, selama makan didampingi oleh ocehan-ocehan dan pertanyaan dari Dinda yang notaben-nya memang super duper cerewet. Inayah yang awalnya dulu lebih banyak diam kini sedikit demi sedikit mulai terkontaminasi dengan pengaruh kecerewetan Dinda.
Senangnya Wardah, si kecil menghabiskan makanannya. Dengan begitu gentian ia sendiri yang makan. Melihat Sang istri selesai menyuapi Baby Z, Eza berinisiatif untuk mengambilkan makanan untuknya. Jiwa-jiwa perhatiannya bergejolak tiba-tiba. Tak lupa Wardah memberikan sepotong apel untuk Baby Z agar tak rewel selama dirinya makan. Biarlah bayi itu bermain dengan apel yang ada di tangannya, sesekali juga memakannya meski tak dapat menggigit. Karena memang giginya belum cukup kuat untuk menggigit apel itu.
Malam semakin larut, tapi Baby Z belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk sama sekali. Padahal orang rumah juga sudah masuk ke kamar mereka masing-masing. Sehingga sudah sepi saja rumah sebesar ini. Baby Z masih saja mengocah sembari memainkan mainan di tangannya. Sedangkan Eza dan Wardah sejujurnya sudah mengantuk berat.
“Dek, kapan boboknya sih?” tanya Eza yang kini memposisikan dirinya berbaribg.
“Aku udah ngantuk Mas,” lirih Wardah yang juga berbaring.
Baby Z kini berada di tengah-tengah Ayah dan Buna-nya. Ia masih duduk memainkan mainan itu. Tak berselang lama Eza melirik kea rah Wardah yang ternyata sudah memejamkan matanya. Eza mengambil mengecup kening Wardah sekilas dan menutupi tibuhnya dengan selimut agar tak kedinginan.
__ADS_1
...Bersambung...