Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Kak Winda Kenapa?


__ADS_3

Kamar mereka yang sama-sama berada di lantai dua membuat Wardah mengikutinya dari belakang. Wardah tak berani menanyakan lagi. Mungkin Mbak Winda masih ingin sendiri. Mereka berpisah di pintu kamar Mbak Winda. Masuk ke kamar, Wardah masih kepikiran dengann Mbak Winda yang menangis. Kenapa? Ia tak pernah sekalipun melihat orang rumah ini menangis, ia pikir semuanya memang selalu happy.


Wardah meletakkan Sakha di boxes terlebih dahulu agar bermain. Sedangkan dirinya memilih untuk lalaran/ mengulang hafalannya sebentar sebelum bersiap pergi bersama Mama. Ditengah lalarannya Wardah masih saja terpikir oleh Mbak Winda. Apa yang harus ia lakukan?


“Bu-Na!” panggil Sakha yang sudah berjalan menghampiri Wardah.


Ternyata Sakha sudah bisa membuka pintu box-nya sendiri. Wardah sempat terkejut sesaat melihat anaknya sudah ada di depannya. Sakha memeluk kaki Wardah yang kebetulan tengah duduk di sofa kamar mereka.


“Hey sayang, kok kamu bisa buka pintunya sih? Hebat banget,” ujar Wardah yang langsung memangku Sakha.

__ADS_1


Yang diajak berbicara pun hanya tersenyum sumringah menanggapi Bunanya. Sakha memeluk Wardah dengan sangat erat seolah tak mau melepaskannya. Wardah yang mendapatnya pelukan sayang itupun langsung membalas pelukan Sakha hingga tenggelam dalam dekapannya. Wardah membuatkan susu untuk Sakha. Sembari dirinya bersiap untuk pergi bersama Mama.


“Buna poop dulu ya sayang? Kebelet banget nih,” ujar Wardah yang langsung menutup pintu balkon untuk memastikan keamanan Sakha.


Karena urgent ia segera ke kamar mandi untuk menuntaskan hajad-nya. tengah khusyuk duduk tiba-tiba Sakha sudah menggedor-gedor pintu kaca kamar mandi.


“Sebentar ya Nak, Buna poop dulu,” teriak Wardah.


“Basah semua baju kamu Nak,” ujar Wardah yang poop sembari melihat Sakha yang bermain air di dalam bak.

__ADS_1


“Mandi lagi kamu Nak,”


Jadilah Wardah mandi sekaligus memandikan Sakha kembali. Kerjanya jadi dua kali. Tapi ia cukup gemas melihat tingkah anaknya itu. Semenjak ada Sakha tas bawaan Wardah kini bertambah satu. Satu tas khusus digunakan untuk barang-barang Sakha, dan sat utas lagi untuk dirinya sendiri. Beruntuk tas untuk perlengkapan Sakha tak sebesar dulu saat anaknya itu masih bayi, kini sudah berkurang.


Mama ke kamar Wardah untuk mengajaknya berangkat. Sang cucu sudah menyambutnya ternyata. Melihat mama, tiba-tiba Wardah teringat dengan Kak Winda yang tadi menangis. Ia ingin memberitahu Mama tapi tak berani. Takut jika Kak Winda masih ingin privasi-nya terjaga.


“Cucu Oma udah ganteng ternyata! Ayo sayang kita berangkat,” ujar Mama meleburkan lamunan Wardah.


Sakha digendong Mama dan Wardah mengikuti dari belakang. Selain mengajak Wardah berbelanja ternyata mama ingin mengajaknya menemui teman-temannya di sebuah café. Sudah tak heran jika agendanya berubah. Karena dulu waktu belum ada Sakha pun ia juga sering diajak Mama pergi seperti ini. Wardah membantu Mama memilih-milih barang yang akan dibawa ke hajatan tetangga. Sepertinya bukan hanya Mama, Wardah juga harus berkunjung untuk menghormati. Meski nantinya hanya sebentar-sebentar saja di di sana. Karena apa lagi kalau bukan Sakha. Ia juga harus ke kantor jadi tak bisa full time membantu di tempat tetangganya itu.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2