
...Lhu-Lhu bakalan seneng banget lhoo kalau kalian pada vote+ komen + like + share..... hehehe...
...Terima kasih untuk kalian yang udah nyenengin Lhu-Lhu...
...Love yours...
Tak berselang lama, datanglah dua orang tengah dicari-cari tadi. Mereka ikut nimbrung pada perbincangan orang-orang penting itu sebentar hingga para dosen pamit untuk memberikan waktu pada pematerinya istirahat sebelum di mulainya acara. Mereka tentu tahu jika pemateri yang sengaja diundang itu adalah kerabat dari Mas rektor mereka. Acara seminar masih cukup lama di mulai, sengaja Eza mengajak Wardah untuk berangkat lebih awal, agar dapat meluangkan waktu untuk reuni terlebih dahulu.
“Dari mana aja sih Mah?” tanya Farhan pada Anisa saat semua sudah keluar. Tinggal mereka berlima di ruangan Farhan. Dengan axited-nya Anisa menceritakan saat-saat memalukan sebelum ke ruangan ini tadi.
Saat-saat yang dinanti Wardah adalah pertemuannya dengan Kembar. Eza tetap berbincang dengan Farhan, sedangkan Wardah sudah mengajak Sakha untuk mengikuti Anisa ke ruangan pribadi mereka. Tepatnya tempat bermain duo boys-nya. Anisa berulang kali hendak menggendong Sakha, tapi yang diajak sepertinya belum mau. Maklumlah, mereka baru saja bertemu, mungkin Sakha masih asing. Dari tadi pun kata Eza, Sakha hanya diam memainkan jemari Ayahnya saat Wardah belum menyusul.
“Gemes banget sih lihat Sakha, sini dong sayang…. Ummah-kan juga pengen dipeluk sama kamu,” ujar Anisa yang masih membujuk Sakha.
“Sabar ya Ummah, nanti kalau udah agak lama juga nempel nggak mau pulang,” jawab Wardah memberi pengertian.
Ceklek!
Mereka memasuki sebuah ruangan yang masih terhubung dengan ruang kerja Farhan. Tampak di sana sudah berceceran mainan-mainan dan suara gaduh khas dua cilik yang bermain bersama. Sakha berangsur menyembulkan wajahnya, penasaran dengan suara gaduh yang sepertinya seru itu. Arzan dan Alzain segera menghentikan aktivitasnya mengecek siapa gerangan yang datang. Mereka yang sudah kenal dengan Wardah tentu tak asing melihat kehadirannya. Tapi yang menjadi perhatian mereka adalah seorang anak laki-laki yang tak jauh berbeda dengan umur mereka. Tengah digendong Aunty mereka.
__ADS_1
“Aunty Wardah!” seru mereka yang langsung berdiri menghampiri Wardah.
Wardah tersenyum menyapa mereka. Duduk bertumpu pada lututnya untuk menyambut pelukan dari anak laki-laki itu. Mereka sudah bersekolah ternyata. Berhubung hari ini weekend, mereka ikut Abbi dan Ummah-nya ke kampus. Wardah menyambut pelukan mereka yang juga tengah ragu, pasalnya Wardah masih menggendong Sakha di pelukannya.
“Nggak papa sayang, sini,” ujar Wardah.
Barulah mereka mau memeluk Wardah. Sakha masih setia menenggelamkan wajahnya di ceruk jilbab Wardah. Masing sungkan hendak melihat sekitar kembali. Wardah pelan-pelan mengajak bicara Sakha agar mau berbaur. Ia juga memberi pengertian pada Arzan dan Alzain untuk ikut menyapa Sakha yang notabene-nya juga adik mereka.
“Nggak papa Nak, ini Kak Arzan sama Kak Zain kakak kamu juga,” ujar Wardah lembut.
Ia memangku Sakha dan membujuknya untuk menyapa dua kakak barunya itu. Tapi ia masih malu-malu dan hanya mengintip sedikit. Anisa terkikik melihatnya. Interaksi itu begitu menggemaskan. Anisa juga meminta pada kedua anaknya untuk menyapa terlebih dahulu Sakha.
“Sakha! Sakha! Kamu suka mainan apa? Aku punya banyak lhoo, kita main bareng yok!” gentian Arzan yang mengajaknya.
Sakha mulai mau melihat kea rah dua kakak barunya. Gentian Wardah kini yang membujuknya. Setelah beberapa saat sesi bujuk membujuk, barulah Sakha mau mengikuti dua kakaknya itu. Ternyata Arzan dan Alzain pintar dalam urusan pendekatan diri terhadap teman barunya. Mereka tak langsung bermain, melainkan mengajak Sakha berbincang sembari mengenalkan mainan mereka satu persatu. Lucu sekali! Wardah dan Anisa yang melihat mereka gemas sendiri. Tak butuh waktu lama, Sakha sudah mulai ikut aktif dan sudah mau ikut mengoceh bersama teman barunya.
“Kalau udah beres gini, giliran kita yang deeptalk bareng,” ujar Anisa.
Anisa mengajak Wardah untuk duduk bersantai sembari berbincang bersama di balkon. Mulai dari cerita lama hingga cerita baru tak tertinggal untuk mereka ceritakan. Bahkan mereka tak ikut ke ruang seminar. Biarlah para Bapak-Bapak itu saja. Toh yang yang menjadi pembicara hanya Eza.
__ADS_1
“Buna! Chaka puna ni!” seru Sakha menghampiri Buna-nya ke balkon diikuti Arzan dan Alzail di belakangnya.
“Eh iya, seru nggak main sama kakak-kakak?” tanya Wardah.
“Selu! Seluu banet,” jawab Sakha.
“Sakha sayang, Ummah punya mochi nih! Mau nggak nak?” tanya Anisa menawarkan mochi.
Dengan ragu tapi pasti, Sakha mau mendekat pada Anisa dan menerima mochi itu. Tak disia-siakan Anisa, ia sontak mengangkat Sakha dan menghujaninya dengan ciuman maut di seluruh wajahnya. Anak gemes ini akan menyesal jika dianggurin. Arzan dan Alzain yang melihat hal itu hanya melongo melihatnya. Tak ingin timbul kecemburuan antar anak, Wardah juga memangku dua bocil itu sekaligus. Cepat sekali anak-anak ini besar. Bahkan sudah masuk sekolah saja.
“Adeknya nggak ganggu Kak Al sama Kak Zain main kan?” tanya Wardah.
“Nggak kok Aunty, kita main bareng,” jawab Arzan dengan senyum lucunya.
“Aunty! Zain pengen ikut Chakha manggilnya Buna boleh nggak?” tanya Alzain.
“Boleh dong! Boleh banget, panggilnya jangan Aunty lagi ya, sekarang panggilnya Buna,” jawab Wardah dengan senang hati.
Sungguh pagi yang menyenangkan. Wardah dan Anisa melanjutkan obrolan mereka, dan anak-anak kembali bermain bersama. Setelah dirasa bosan di dalam ruangan, Anisa dan Wardah mengajak tiga bocil itu untuk bermain di luar. Sebenarnya bukan ketiga anak itu yang bosan, melainkan emaknya lah yang ingin jalan-jalan di luar.
__ADS_1
...Bersambung ...